Rian mematikan notifikasi grup WA keluarga selama seminggu sebelum berangkat. Ia meletakkan ponsel di dashboard, lalu menyalakan mobil.
Nara duduk di samping, menatap ke luar jendela. Rambutnya tergerai kali ini, tidak diikat.
“Orang tua kamu belum tahu soal hubungan kita?” tanya Rian di tengah perjalanan.
“Iya,” jawab Nara singkat. Matanya menatap lurus ke depan.
Beberapa jam kemudian, jalanan mulai menanjak. Udara berubah lebih dingin. Pepohonan rapat di kiri-kanan. Kabut tipis turun perlahan ketika mobil memasuki kawasan vila.
Gerbang kayu terbuka setelah Rian menyebutkan nama pemesan. Mobil masuk ke halaman berumput pendek yang masih basah oleh embun.
Di depan mereka berdiri vila dua lantai dengan dinding krem pucat dan balkon kayu menghadap lembah. Jendela lebar. Atapnya gelap, sedikit berlumut di beberapa sudut.
Rian mematikan mesin. Hening mengisi ruang di antara mereka.
Nara membuka pintu mobil terlebih dahulu. Lalu menarik napas panjang. “Enak,” katanya pelan.
Rian mengeluarkan koper dari bagasi. Roda koper berderit kecil saat ditarik melewati batu-batu halus menuju pintu masuk.
Di dalam, ruang tamu terbuka langsung menghadap jendela besar. Di luar jendela itu, lereng hijau turun perlahan. Kabut bergerak pelan seperti asap tipis. Cahaya siang masuk tanpa terhalang.
Nara berjalan ke arah jendela dan membukanya lebar-lebar. Udara dingin masuk bersama bau tanah basah. Tirai tipis bergoyang perlahan. “Kalau tiap pagi bangun lihat ini, nggak pengen pulang,” katanya.
Rian berdiri di belakangnya, melihat ke arah yang sama. “Iya,” jawabnya ringan.
Mereka menaruh koper di kamar lantai atas. Ranjang besar dengan seprai putih menghadap jendela lain yang juga terbuka pada pemandangan serupa.
Tidak ada bunyi televisi yang menyala. Tidak ada bunyi kendaraan yang lewat. Hanya desir angin dan gesekan dedaunan.
Siang itu mereka keluar sebentar mencari makan di warung terdekat, lalu kembali ke vila sebelum sore.
Tidak banyak yang dibicarakan. Hal-hal kecil. Rasa sambal yang kurang pedas. Jalanan yang sempit. Cuaca yang lebih dingin dari perkiraan.
Menjelang senja, kabut turun lebih tebal. Mereka duduk di balkon kayu lantai dua. Rian menyandarkan punggung pada dinding. Nara duduk di sampingnya, lutut hampir bersentuhan.
“Ambilin foto dong,” kata Nara sambil menyerahkan ponselnya.