Ilusi yang Sama

Komandala Putra
Chapter #6

Bab 6 - Modal Usaha

Pagi di Lembang datang tanpa suara. Cahaya pucat menyusup lewat celah tirai. Kabut masih menempel di kaca jendela.

Rian terbangun lebih dulu.

Nara masih tidur menyamping, rambutnya menutupi sebagian wajah. Napasnya teratur.

Rian memandanginya beberapa saat sebelum bangkit perlahan agar tidak membangunkan.

Di dapur kecil lantai bawah, ia merebus air dan menyeduh kopi instan. Bunyi air mendidih terdengar terlalu keras di ruangan yang sunyi itu. Roti dan telur dadar sudah tersedia di atas piring.

Beberapa menit kemudian, Nara turun dengan sweater tipis yang sedikit kebesaran. Rambutnya dibiarkan tergerai, sedikit kusut di ujung. “Dingin,” katanya sambil menggosok kedua telapak tangan.

Rian tersenyum. “Sarapan yuk.”

Nara mengangguk.

Tidak ada pembicaraan berat selama menyantap sarapan sederhana itu. Hanya komentar kecil tentang dinginnya udara dan rencana jalan sebentar setelah matahari naik.

Selesai sarapan, mereka duduk kembali di ruang tamu menghadap jendela besar. Kabut mulai menipis, memperlihatkan garis lereng yang kemarin tertutup putih.

“Aku sebenarnya kepikiran sesuatu,” kata Nara.

Rian menoleh sedikit.

“Kalau ada modal, aku pengen buka usaha kecil.” Ia menatap keluar, bukan ke arah Rian.

“Usaha apa?”

“Bimbel sama toko alat tulis kecil. Cuma Belum ada kesempatan.”

“Modalnya berapa kira-kira?”

Nara terdiam sebentar. “Lumayan.”

Range?”

“Di atas seratus,” jawabnya pelan.

Angin mendorong tirai tipis hingga menyentuh lantai. Rian menyandarkan punggungnya ke sofa, lalu mengangguk pelan. Hening menggantung di udara.

“Aku ada uang warisan,” kata Rian kemudian, nada suaranya datar. “Udah lama di rekening.”

Nara menoleh. “Dari siapa?”

“Tanah keluarga dijual. Udah lebih dari setahun.”

Lihat selengkapnya