Ilusi yang Sama

Komandala Putra
Chapter #7

Bab 7 - Komitmen

Pagi datang lebih terang dari kemarin. Kabut masih ada, tapi tidak setebal sebelumnya. Garis lembah sudah terlihat samar dari jendela kamar.

Rian terbangun dengan posisi masih memeluk Nara dari belakang. Tangannya di perut Nara.

Nara berbalik menghadap Rian. Ia tidak langsung bicara. Tangannya naik perlahan, merapikan lengan kaus Rian yang sedikit tergulung. “Dingin nggak?” tanyanya pelan.

“Nggak,” jawab Rian.

Nara tersenyum tipis. Jemarinya menyentuh punggung tangan Rian, lalu turun lagi. Gestur kecil, tapi cukup untuk merapatkan sisa jarak semalam.

Mereka turun untuk ke dapur tanpa banyak bicara.

Rian memanggang roti terlalu lama hingga sedikit gosong di pinggir.

Nara memotong bagian yang gosong itu dan meletakkannya ke piringnya sendiri tanpa komentar.

Setelah makan, mereka duduk berdampingan di sofa menghadap jendela besar. Matahari pagi memantul di kaca. Udara tetap sejuk.

Nara menyandarkan kepala sebentar di bahu Rian, lalu berkata pelan, “Orang tua kamu bakal setuju?”

Rian menoleh sedikit. “Kalau aku bahagia, mereka bakal dukung.” Ia berhenti sepersekian detik. “Keluarga kamu, gimana?”

Nara tidak langsung menjawab. Ia meraih gelas di meja, memutarnya pelan dengan ujung jari. “Mereka nggak apa-apa kalau aku sama yang belum punya tanggungan.”

Rian menatap Nara lebih lama dari biasanya. “Mereka udah tahu soal kita?”

Nara menjawab tanpa jeda, “Iya.” Ia menoleh ke luar jendela. Ujung bibirnya sedikit terangkat.

Rian mengangguk pelan. Pandangannya turun ke jemari Nara yang masih memutar gelas kosong. Ia tidak melanjutkan pertanyaan.

Topik bergeser ke rencana hari itu—mau ke mana siang nanti, makan di mana, apakah perlu beli jaket tambahan.

Lihat selengkapnya