Cahaya matahari menyusup lewat tirai yang tidak tertutup rapat, jatuh tipis di seprai putih. Kabut masih ada, tapi lebih ringan—tidak lagi menempel tebal di kaca.
Ketika Rian membuka mata, Nara sudah duduk bersandar di kepala ranjang, ponsel di tangannya.
Nara menggeser tubuhnya mendekat. Tangannya naik perlahan, merapikan rambut Rian yang jatuh ke dahi. Ujung jarinya menyentuh pipi Rian, ringan.
“Pagi,” kata Rian serak.
Nara tersenyum. “Aku beruntung banget dapetin kamu.” Nada suaranya ringan. Ia menunduk, melirik layar ponselnya sebentar.
Rian tersenyum, masih setengah mengantuk.
Di dapur, Rian menuang air panas ke dalam dua cangkir. Nara berdiri di sampingnya, memotong roti dan mengoleskan selai. Sesekali lengannya bersentuhan dengan lengan Rian tanpa ditarik menjauh.
Mereka duduk berdampingan di meja kecil menghadap jendela. Cahaya pagi membuat lereng di kejauhan terlihat lebih jelas dari kemarin.
“Aku nggak nyangka kamu sesayang ini sama aku,” kata Nara sambil menatap roti di tangannya.
Rian mengangkat wajah. “Kan udah kubilang kalau aku serius banget sama kamu.” Ia menyesap kopinya pelan.
Selesai sarapan, Rian dan Nara duduk di balkon, bersandar pada kursi kayu.
Nara menggenggam tangan Rian lebih lama dari biasanya. “Kalau usaha kita udah jalan,” katanya pelan, “kita lebih enak ke depannya.”