Siang itu matahari tidak terlalu terik. Kabut sudah hilang, menyisakan garis lembah yang terlihat jelas dari balkon lantai dua. Udara tetap sejuk, tapi tidak lagi sedingin hari pertama.
Rian dan Nara duduk berdampingan di kursi kayu. Meja kecil di antara mereka berisi dua gelas teh yang mulai kehilangan uap.
“Kalau nanti kita nikah,” kata Rian ringan, menatap lembah, “kamu mau punya anak berapa?”
Nara tersenyum tipis. “Tergantung.”
“Tergantung apa?”
“Situasi. Usia juga.” Ia mengangkat bahu kecil.
Rian menoleh. “Kamu sendiri maunya berapa?”
Nara menatap jauh ke arah pepohonan di bawah sana. “Dulu mantanku yang keempat juga—” Seketika wajahnya berubah, tangannya menutup mulut.
Angin bergerak pelan, membuat ujung tirai di belakang mereka bergetar.
Rian tidak langsung bicara. Ia membersihkan tenggorokan. “Keempat?” tanyanya datar.
Nara berkedip sekali. “Maksudku yang ketiga.”
Rian tidak tersenyum. “Dulu kamu bilang mantan kamu cuma tiga.”
Nara tertawa kecil, terlalu cepat. “Iya, tiga.”
Hening menggantung di udara. Lama.
Nara mencoba menyentuh tangan Rian.
Rian tidak menarik tangannya, tapi juga tidak menggenggam.
Rian menatap Nara lekat-lekat. “Berapa sebenarnya?” Nada suaranya tidak tinggi. Tidak menekan.
Nara menurunkan pandangannya ke gelas di tangannya. Jemarinya memutar gelas itu pelan. “Udahlah,” katanya pelan. “Kita bahas masa depan aja.”