Immortal Serum

Zal zal
Chapter #8

Chapter 9 | Nyonya Marlo

Chapter 9 | Nyonya Marlo

Jeanette melanjutkan berbicara di depan para awak media dengan nada lebih emosional. “Lima tahun lalu, saya pernah menjadi korban berita palsu yang ditayangkan lewat saluran Blackrone. Kasus malapraktik saya yang menghebohkan negara Morallo lima tahun lalu adalah sebuah manipulasi yang dirancang untuk menghancurkan karier saya.”

“Hari ini, saya berdiri di sini untuk memastikan kebenaran terungkap. Saya berjanji akan menggugat pihak-pihak yang telah mencemarkan nama baik saya dan menyebarkan kebohongan ini...” Jeanette mulai terisak, air matanya keluar perlahan.

Tangisan seolah dipaksakan untuk mendukung aktingnya di hadapan media. Di sebelahnya, Kaden dengan lembut mengelus pundaknya. Para wartawan tampak tertegun melihat hal tersebut, merasa percaya bahwa ada hubungan spesial di antara mereka berdua.

Hologram besar yang terpampang di belakang mereka berubah, menampilkan gambar pernikahan Kaden dan Jeanette. Foto itu, meskipun merupakan hasil teknologi *deepfake, terlihat sangat nyata. Detailnya dari senyuman di wajah mereka hingga cahaya di latar belakang, membuat tidak ada yang meragukan keaslian gambar tersebut.

*Deepfake (teknologi berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence/AI yang digunakan untuk membuat video, gambar, atau audio palsu yang sangat realistis.)

“Apa ucapan Anda tentang pernikahan itu benar?” tanya salah satu wartawan.

“Bukankah ini bisa merusak reputasi Eternal? Menikah dengan seorang buronan?” Tanya wartawan lainnya. “Tolong berikan penjelasan...”

“Tuan Marlo, bagaimana bisa ada yang menyatakan Anda meninggal dunia?”

Kaden memberi isyarat untuk menenangkan para wartawan itu. “Iya, saya sudah menikah dengan Jeanette Hautter. Masalah dia adalah buronan atau bukan, saya akan mengangkat kembali kasus malapraktik istri saya.”

Sergain Terresa, yang wajahnya muncul di hologram, berbicara dengan nada tegas. “Sebagai pendukung Tuan Marlo, kami sepenuhnya mendukung keputusan untuk mengklarifikasi berita ini. Eternal adalah perusahaan yang menjunjung tinggi transparansi dan integritas. Kami tidak akan tinggal diam ketika nama baik perusahaan maupun CEO kami diserang.”

Dewany Charson, yang berada di hologram lain, mengangguk pelan dan menambahkan. “Eternal telah menugaskan tim investigasi untuk menyelidiki dalang di balik penyebaran berita kematian palsu. Kami juga akan mengambil langkah hukum yang tegas untuk melindungi perusahaan, karyawannya, dan semua yang berdiri di belakang prinsip kami.”

Kaden menutup konferensi itu. “Kami tidak akan goyah sedikit pun. Saya, sebagai pemimpin perusahaan ini, tidak akan membiarkan berita semacam ini berlanjut. Kami akan mengungkap kebenaran dan membawa mereka yang bertanggung jawab ke hadapan hukum.”

Tepuk tangan menggema di aula saat konferensi berakhir. Kamera-kamera media yang telah merekam setiap kata dari acara itu mati satu per satu, namun gaung pidato itu masih terasa.

“Pidato yang sangat bagus!” Jeanette menoleh ke Kaden, senyuman kecil menandakan aktingnya telah berakhir. “Kau tahu, kita seperti baru saja memulai perang.”

Kaden membalas dengan anggukan kecil, tatapannya tetap dingin. Ia menggandeng lengan Jeanette dengan lembut untuk menghindar dari kejaran para wartawan. Mereka masuk ke ruang utama mansion.

Jeanette melanjutkan kata-katanya, kali ini lebih serius. “Sepertinya, untuk meyakinkan publik, kita harus mempersiapkan resepsi pernikahan.”

“Apa pun keinginanmu.”

Jeanette tersenyum tipis, matanya berkilat dengan rencana yang hanya dia sendiri yang mengerti. “Baiklah, aku ingin kau mengundang Damian Brayn dan juga Presiden Negara Morallo, Zavier Douglass.”

Kaden menyipitkan mata, menatap Jeanette dengan curiga. “Kenapa dengan mereka berdua?”

Jeanette mengangkat dagunya. “Aku ingin sekali menampar wajah mantan suamiku itu di depan umum. Dia pantas mendapatkannya setelah semua yang dia lakukan padaku. Lalu presiden... kehadirannya di resepsi akan memberi dukungan politik pada kita. Lagi pula, aku ingin memastikan sesuatu.”

“Baiklah. Bicarakan saja pada Gerald,” kata Kaden, berbalik dan mulai berjalan keluar ruangan.

Namun, sebelum ia melangkah lebih jauh, Jeanette memanggilnya lagi. “Kaden.” Kaden berhenti, berbalik sedikit, menunggu Jeanette yang menyusulnya.

“Kau tidak lupa, kan?” Jeanette menatapnya serius. “Aku harus menyuntikkan serum itu malam ini. Efeknya akan berakhir satu jam lagi.”

Wajah Kaden tetap tenang, tapi ia tidak berkata apa-apa, melanjutkan langkahnya. Jeanette berjalan berdampingan dengannya menuju ruang kerja yang berada di lantai lima.

✚ ◐◒◑ ✚

Setibanya di ruang kerja, Kaden duduk di kursi besar, tempatnya biasa bekerja dan merancang strategi. Dengan tegas, ia berkata, “cepat lakukan.”

“Aku tahu, akan kulakukan dengan cepat.” Jeanette melambaikan tangan, memanggil seorang pelayan yang telah menunggu di luar pintu.

Pelayan itu masuk dengan nampan perak yang membawa vial berisi cairan kebiruan, jarum suntik steril, sarung tangan steril, dan kapas alkohol. Jeanette memakai sarung tangan steril sebelum mengambil vial itu dengan hati-hati, menusuk segel dengan jarum suntik dan menyedot cairannya. Ia memeriksa jumlah cairan di dalam tabung suntik, memastikan dosisnya tepat, sebelum mendekati Kaden.

“Tanganmu,” katanya lembut namun tegas.

Lihat selengkapnya