Malam di rumah keluarga Shinohara selalu dimulai dengan suara yang sama: denting sumpit mengenai mangkuk, suara televisi dari ruang keluarga yang volumenya sengaja dikecilkan, dan desis lembut minyak wijen dari lauk yang baru saja diangkat dari dapur. Rumah dua lantai itu berdiri tenang di sebuah kawasan permukiman pinggiran Tokyo, di antara rumah-rumah yang berjarak cukup rapat, gang sempit yang hanya cukup dilalui satu mobil, serta deretan sepeda yang terparkir di depan rumah tetangga. Setelah matahari tenggelam, suara kereta dari kejauhan sesekali terdengar seperti dengungan panjang yang terbawa angin malam. Namun, di dalam ruang makan keluarga Shinohara, ada satu suara lain yang jauh lebih konsisten daripada semuanya: bunyi sumpit Miyu yang berhenti setiap kali Renji bergerak terlalu jauh dari jangkauannya.
Renji yang duduk bersila di atas zabuton menatap adiknya dari sudut mata. Jarak antara mereka sebenarnya tidak sampai satu lengan. Lebih tepatnya, Miyu duduk begitu dekat sampai lututnya hampir bersentuhan dengan paha Renji, sementara tubuhnya sedikit dimiringkan ke arah sang kakak seperti satelit yang kehilangan kemampuan untuk mengorbit pada jarak normal. Sesekali ia mengambil lauk dari piringnya sendiri, tetapi sebagian besar perhatiannya justru tertuju pada mangkuk Renji, seolah-olah ada kemungkinan seseorang akan menyelinap dari bawah meja dan menculik nasi kari milik kakaknya. Renji sudah terbiasa dengan pemandangan itu sejak lama, sehingga ia hanya menghela napas kecil sebelum kembali menikmati karaage yang dibuat ibunya.
“Kenapa lihat-lihat terus?” tanya Renji santai.
“Aku nggak lihat Onii-chan.”
“Matamu menghadap ke sini.”
“Itu karena... posisi mataku memang kebetulan begitu.”
“Begitu rupanya.”
Renji mengambil satu potong karaage terakhir dari piringnya. Belum sempat ia memasukkannya ke mulut, sepasang mata Miyu langsung mengikuti gerakan tersebut dengan ketelitian seorang pengawas lalu lintas. Renji berhenti di tengah jalan, menatap potongan ayam di antara sumpitnya, kemudian menatap adiknya lagi. Ada sesuatu yang berkilat di mata Miyu—bukan sekadar lapar, melainkan semacam kewaspadaan moral terhadap tindakan kakaknya menghabiskan lauk tanpa mempertimbangkan hak adik tercinta. Renji akhirnya tersenyum tipis dan mengangkat karaage itu sedikit lebih tinggi.
“Mau?”
Miyu membuang muka. “Nggak.”
“Benar?”
“Benar.”
Renji memasukkan karaage itu ke mulutnya.
“Tapi kalau Onii-chan memang mau memberikannya...” Miyu bergumam nyaris tak terdengar.
Renji mengunyah sambil tersenyum. “Sudah terlambat.”
Pipi Miyu menggembung. “Onii-chan jahat.”
Dari ujung meja, Kasumi hanya tertawa kecil sambil menuangkan sup miso ke mangkuknya sendiri. “Kalian ini dari kecil nggak berubah.”
Kenji, yang duduk di sebelahnya, tidak mengangkat kepala dari koran malam yang dibentangkannya di atas meja. “Yang penting nggak berantem.”
“Dia yang mulai.”
“Aku cuma makan karaage.”
“Justru itu!”
Renji menahan tawa. Ia tahu persis bagaimana permainan ini bekerja. Miyu mungkin bisa membuat daftar nama siswi yang pernah berbicara dengannya, hafal jadwal pulang kakaknya sampai tingkat menit, dan pernah memeriksa tiga kali apakah seseorang benar-benar “hanya teman sekelas”. Namun, ketika dihadapkan pada makanan manis atau sedikit perhatian dari Renji, semua benteng pertahanan itu runtuh dengan kecepatan yang mengagumkan. Karena itu, Renji tidak pernah benar-benar menganggap perilaku adiknya sebagai sesuatu yang harus dilawan. Selama tidak merusak barang mahal, mengganggu tetangga, atau membuatnya kehilangan kesempatan mendapatkan camilan gratis, Renji justru melihat sisi praktis dari semua itu.
Ia tinggal meminta Miyu membuatkan kue untuk bekal sekolah.
Atau membujuknya membeli puding tambahan.
Atau sekadar berkata, “Onii-chan lagi pengin sesuatu yang manis,” dan membiarkan naluri protektif adiknya bekerja sendiri.
Renji menyandarkan punggungnya sebentar ke dinding. Di kepalanya, bayangan masa depan yang sederhana melintas begitu saja. Tahun terakhir SMA tinggal beberapa bulan lagi. Ia ingin masuk universitas negeri yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Bukan karena ia takut meninggalkan Tokyo, bukan pula karena tidak punya ambisi. Ia hanya menyukai rumah ini, makan malam seperti ini, dan kenyataan bahwa setiap kali membuka pintu depan, ia masih bisa mendengar suara ibunya dari dapur dan ayahnya mengomel karena koran terlipat salah. Bahkan Miyu yang menempel seperti perangko pun, entah bagaimana, sudah menjadi bagian dari kehidupan yang ingin ia pertahankan.
Dan tentu saja ada satu alasan lain.
Aoi.
Nama itu muncul begitu saja dalam pikirannya, membuat ujung bibir Renji terangkat sedikit.
Miyu langsung menangkap perubahan ekspresi tersebut.
“Onii-chan.”
“Hm?”
“Kenapa senyum?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Bohong.”
“Kenapa aku harus bohong?”
“Karena kalau Onii-chan senyum sendirian, biasanya ada perempuan.”
Renji hampir tersedak sup miso.
Kasumi menoleh. “Perempuan?”
Kenji membalik halaman korannya.
“Bukan siapa-siapa,” kata Renji cepat.
Miyu menyipitkan mata.
Di dalam kepalanya, sebuah alarm yang tak terlihat seolah-olah menyala.
Ancaman.
Sebelum ia sempat menginterogasi lebih lanjut, suara yang sangat dikenal seluruh keluarga tiba-tiba memecah suasana.
TRRIIING—TRRIIING—!
Telepon rumah.
Suara dering dari lorong ruang keluarga membuat semua orang berhenti selama sesaat. Di rumah modern yang sebagian besar anggota keluarganya sudah memiliki ponsel, telepon rumah sebenarnya lebih sering digunakan untuk panggilan dari sekolah, keluarga besar, atau penawaran layanan yang tidak diinginkan. Karena itu, Kasumi langsung meletakkan sumpitnya.
“Biar Ibu yang angkat.”
Ia berdiri dan berjalan keluar dari ruang makan menuju meja telepon di lorong. Miyu mengikuti gerakannya dengan mata. Renji tidak terlalu memperhatikan. Ia malah kembali mengambil nasi yang tersisa di mangkuknya, yakin panggilan itu tidak ada hubungannya dengannya.
Sampai beberapa detik kemudian Kasumi berseru dari lorong.
“Renji!”
Renji menoleh.
“Ya?”
“Ada telepon untukmu.”
Renji mengerutkan kening. “Siapa?”
Kasumi menempelkan gagang telepon ke telinga, lalu tersenyum.
“Katanya dari sekolah. Suara perempuan.”
Udara di ruang makan berubah.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada musik dramatis.
Tidak ada petir.
Hanya dua mata Miyu yang perlahan membesar.
Renji bahkan belum sempat mengatakan apa-apa ketika tubuh kecil di sebelahnya bergerak.
“Onii-chan.”
“Hm?”
“Siapa?”
“Mana aku tahu? Makanya mau kuangkat.”
“Perempuan?”
“Katanya begitu.”
Miyu berdiri.
Renji mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Miyu.”
“Onii-chan.”
“Jangan.”
“Aku cuma—”
“Jangan.”
“Aku cuma memastikan.”
“Miyu.”
Dalam sepersekian detik, Miyu menerjang.
Kedua lengannya melingkari leher Renji dari samping, sementara tubuhnya menempel ke pinggang sang kakak dengan kekuatan yang sama sekali tidak mencerminkan seorang gadis kelas satu SMA. Renji terdorong ke depan sampai kedua telapak tangannya menahan tatami. Lututnya bergeser, zabuton terlipat, dan mangkuk nasi hampir terguling.
“WOI!”
Miyu mengencangkan pelukannya.
“Onii-chan nggak boleh pergi!”
“Aku cuma angkat telepon!”
“Telepon dari perempuan!”
“Justru karena itu harus diangkat!”
“Nggak boleh!”
“Kenapa?!”
“Karena mencurigakan!”
Renji mencoba bangkit, tetapi Miyu sudah mengunci tubuhnya seperti sabuk pengaman hidup. Kedua lengannya melingkari leher, sementara kedua kakinya mengait di sekitar pinggang Renji. Seluruh berat tubuhnya—sekitar empat puluh lima kilogram—sekarang menjadi beban tambahan yang melekat pada punggung dan pinggang Renji.
Dari ruang makan, Kasumi melihat pemandangan itu sambil memegang gagang telepon.
“Miyu, jangan terlalu kuat. Nanti Onii-chan-mu sesak napas.”
“Dia kuat!”
“Bukan itu masalahnya!”
Kenji akhirnya mengangkat pandangan dari korannya.
Renji sedang merayap.
Benar-benar merayap.
Kedua telapak tangannya menekan tatami, lututnya bergeser perlahan, sementara Miyu bergantung di tubuhnya seperti ransel seberat empat puluh lima kilogram. Dengan napas tertahan, Renji bergerak menuju lorong tempat telepon berada.
“Ayah,” katanya dengan suara tertekan, “tolong.”
Kenji memandangnya.
Kemudian memandang korannya.
Kemudian menggeser koran beberapa sentimeter agar jalur merayap Renji tidak menabrak ujung meja kecil di lorong.
“Sudah.”
“Bukan itu!”
“Kalau korannya terlipat nanti susah dibaca.”
Renji menatap ayahnya dengan ekspresi tidak percaya.
“Kenapa Ayah lebih peduli koran?!”
“Karena koran nggak akan melilit leherku.”
Miyu mendengus dari belakang.
“Onii-chan jangan banyak bergerak.”
“Aku sedang mencoba mengambil telepon!”
“Bisa nanti.”
“Teleponnya sudah menunggu!”
“Biar menunggu.”
“Ini telepon rumah, bukan chat!”
Renji kembali merangkak. Setiap kali ia mencoba mengangkat tubuh, Miyu refleks mengencangkan pelukannya. Rambut hitamnya menyentuh pipi Renji, dan napasnya terdengar cepat di dekat telinga sang kakak.
“Aku cuma mau tahu siapa yang telepon,” bisik Miyu.
“Kamu bisa tahu setelah aku angkat.”
“Kalau ternyata cewek yang suka Onii-chan?”