Pagi pertama tahun ajaran baru selalu memiliki aroma yang berbeda. Aspal di depan deretan rumah masih menyimpan sisa embun, suara mesin mobil terdengar sesekali dari jalan utama, dan matahari musim semi menyusup di antara ranting pohon sakura yang belum sepenuhnya kehilangan kelopak bunganya. Renji berjalan santai menuju sekolah dengan tas tersampir di satu bahu, dasi seragamnya sudah terpasang meskipun simpulnya sedikit longgar, sementara Miyu berjalan di sebelahnya dengan langkah yang jauh lebih tegang. Bagi Renji, perjalanan itu tidak lebih dari rutinitas yang sudah ia lakukan bertahun-tahun: keluar rumah, melewati toko roti di ujung gang, menyeberangi persimpangan dekat taman kecil, lalu berjalan sekitar dua puluh menit menuju gerbang sekolah. Bagi Miyu, pagi itu terasa seperti perjalanan memasuki wilayah musuh.
“Sebelah kiri.”
Renji menoleh. “Apa?”
Miyu tidak menjawab. Tatapannya tertuju pada dua siswi yang berjalan sekitar sepuluh meter di depan mereka. Keduanya mengenakan seragam sekolah yang sama, tas sekolah tergantung di bahu, dan sedang bercakap-cakap sambil tertawa kecil. Salah seorang dari mereka menoleh sekilas ke belakang karena suara sepeda yang melintas. Tatapan mereka bertemu dengan mata Miyu selama kurang dari satu detik.
Miyu langsung menyipitkan mata.
Renji menghela napas. “Dia cuma lihat belakang.”
“Belum tentu.”
“Terus menurutmu dia ngapain?”
“Observasi.”
“Observasi apa?”
“Target.”
Renji memasukkan kedua tangan ke saku celana. “Target apaan?”
Miyu tidak menjawab. Ia malah mempercepat langkah sedikit sampai posisinya berada setengah langkah di depan Renji. Dengan demikian, siapa pun yang datang dari arah depan harus melewati Miyu terlebih dahulu sebelum bisa mendekati kakaknya. Gerakannya begitu alami sampai Renji hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Sudah sejak keluar dari rumah tadi Miyu melakukan hal yang sama. Setiap siswi yang mereka temui dipindai dari kepala sampai kaki, bukan dengan cara terang-terangan yang bisa dianggap kasar, melainkan melalui lirikan cepat dan ekspresi dingin yang membuat beberapa orang secara refleks memeriksa pakaian mereka sendiri. Seorang siswi SMP yang kebetulan berjalan di trotoar seberang bahkan sempat berbalik dua kali setelah melewati mereka. Miyu tidak memedulikannya. Dalam pikirannya, sekolah adalah ekosistem sosial yang penuh variabel tidak terduga, dan perempuan seusia kakaknya memiliki kemungkinan ancaman yang jauh lebih tinggi dibandingkan tukang pos, penjual roti, atau bahkan anjing tetangga yang biasanya menggonggong pada siapa saja.
“Onii-chan.”
“Hm?”
“Jalan lebih dekat.”
“Kenapa?”
“Biar gampang diawasi.”
Renji tertawa kecil. “Bukannya kamu yang harusnya diawasi?”
Miyu mendongak.
“Aku?”
“Iya. Kamu kelihatan seperti petugas keamanan yang kehilangan seragam.”
“Aku sedang menjaga Onii-chan.”
“Aku tahu.”
“Jadi jangan mengganggu.”
“Baik, Bu Satpam.”
Miyu mencubit ujung lengan seragamnya.
“Jangan mengejek.”
“Kalau aku bilang kamu bodyguard?”
“Lebih baik.”
Renji mengangkat alis. “Serius?”
“Bodyguard terdengar profesional.”
“Kalau begitu, Bodyguard Miyu, ayo cepat. Kita bisa telat.”
Miyu langsung mengikuti tanpa membantah. Namun, lima puluh meter kemudian, matanya kembali bergerak ke arah seorang siswi yang sedang berdiri di depan vending machine.
Renji bahkan tidak perlu bertanya.
Ia sudah tahu.
Hari pertama sekolah akan panjang.
Gerbang sekolah mulai terlihat ketika mereka melewati tikungan terakhir. Gedung utama sekolah berdiri dengan tiga lantai yang tersusun sederhana, dengan lapangan olahraga di sisi belakang dan bangunan klub di bagian samping. Siswa-siswi berdatangan dari berbagai arah. Sepeda dikunci di tempat parkir, suara sapaan bersahutan, dan guru piket berdiri di dekat gerbang sambil memperhatikan para siswa yang masuk. Udara pagi dipenuhi kegembiraan khas awal tahun ajaran, terutama bagi siswa kelas satu yang masih membawa aura gugup dan penasaran.
Renji berhenti sejenak di depan gerbang.
“Mulai hari ini, kita beda lantai.”
Miyu ikut berhenti.
“...Apa?”
“Kelas satu di lantai satu.”
Renji menunjuk gedung utama.
“Kelas dua lantai dua. Kelas tiga lantai tiga.”
Miyu menatap gedung itu.
Tatapannya bergerak perlahan dari lantai satu ke lantai dua, kemudian naik lagi ke lantai tiga.
Semakin tinggi matanya bergerak, semakin serius ekspresinya.
Renji tahu persis apa yang sedang terjadi di kepala adiknya.
“Onii-chan di lantai tiga?”
“Ya.”
“Setiap hari?”
“Ya.”
“Dengan semua kelas tiga?”
“Ya.”
Miyu menatapnya.
“Dan siswi kelas tiga?”
Renji mengangguk.
“Ya.”
Wajah Miyu kehilangan warna.
Untuk beberapa detik, suara siswa yang berlalu-lalang di sekitar mereka seperti menghilang. Yang tersisa dalam pandangannya hanyalah tiga lantai bangunan sekolah itu. Lantai satu berada di bawah. Aman. Wilayah kelas satu. Usia yang sama. Ancaman relatif rendah. Lantai dua sedikit lebih berbahaya. Kelas dua. Siswi senior satu tingkat di atasnya. Masih dapat ditoleransi.
Tetapi lantai tiga...
Itu adalah tempat para predator senior berkumpul.
Renji menepuk bahunya.
“Jangan berdiri di sini terus.”
Miyu menoleh pelan.
“Onii-chan.”
“Ya?”
“Kalau terjadi sesuatu...”
“Tidak akan.”
“Kalau ada cewek mendekati Onii-chan...”
“Tidak akan.”
“Kalau ada yang mengajak Onii-chan ke tempat sepi...”
“Miyu.”
“Kalau—”
“Sekolah, bukan hutan.”
Miyu menatap lantai tiga lagi.
“Belum tentu.”
Renji terkekeh.
Mereka akhirnya masuk ke gedung sekolah. Begitu melewati pintu utama, arus siswa langsung terpecah berdasarkan kelas. Renji naik tangga menuju lantai tiga, sementara Miyu berjalan ke arah koridor lantai satu. Sebelum berpisah, Renji sempat menoleh.
Miyu berdiri di bawah tangga.
Mata mereka bertemu.
Renji mengangkat tangan.
“Sampai nanti.”
Miyu mengangguk kecil.
“...Jangan dekat-dekat dengan cewek.”
Renji tersenyum.
“Selamat pagi juga.”
Ia naik.
Miyu tetap berdiri di sana sampai sosok kakaknya menghilang di tikungan tangga.
Baru setelah itu ia menatap ke atas.
“Lantai tiga...”
Tangannya mengepal.
“Wilayah musuh.”
Kelas 3-A terletak di ujung koridor lantai tiga, tepat di sisi yang menghadap lapangan olahraga. Dari jendelanya, siswa dapat melihat sebagian besar halaman sekolah, lapangan basket, dan deretan pohon di sepanjang pagar belakang. Renji duduk di dekat jendela seperti biasa. Ia menyukai tempat itu karena cahaya matahari pagi masuk dengan baik dan udara lebih mudah bergerak ketika jendela dibuka.
Tahun terakhir SMA seharusnya sederhana.
Setidaknya, itulah yang ia inginkan.
Ia tidak membutuhkan drama besar. Tidak membutuhkan popularitas berlebihan. Tidak membutuhkan pengakuan dari semua orang. Ia hanya ingin menyelesaikan tahun terakhir dengan nilai yang cukup bagus untuk masuk universitas negeri yang ia incar, menghabiskan waktu bersama teman-temannya, dan—kalau keberuntungan berpihak kepadanya—menjalani lebih banyak waktu bersama Aoi.
Renji menatap halaman sekolah sambil menopang dagu.
Pikiran tentang Aoi membuat wajahnya sedikit melunak.
Aoi adalah salah satu alasan mengapa ia ingin tahun terakhirnya berjalan dengan baik. Gadis itu bukan tipe yang membuat suasana menjadi berisik. Kehadirannya justru seperti rumah yang lampunya sudah menyala ketika seseorang pulang dalam keadaan lelah. Cara bicaranya tenang, ia selalu ingat hal-hal kecil, dan entah bagaimana ia bisa membuat Renji merasa diperhatikan tanpa pernah membuatnya merasa dikekang.
Berbeda dengan seseorang yang sekarang mungkin sedang menyusun daftar nama seluruh siswi di lantai tiga.
Renji menghela napas.
“Semoga dia nggak nekat.”
Ia terlalu cepat mengucapkannya.
Karena sekitar satu jam kemudian, firasat itu terbukti.
Jam pelajaran pertama berjalan relatif normal. Guru wali kelas menjelaskan beberapa perubahan jadwal, aturan kegiatan festival budaya yang akan berlangsung beberapa waktu lagi, serta pembagian tugas kelas. Renji mencatat beberapa hal sambil sesekali menatap jam dinding. Ketika bel istirahat pertama akhirnya berbunyi, seluruh kelas langsung berubah menjadi ruang yang lebih hidup.
Kursi bergeser.
Teman-teman mulai berdiri.
Beberapa siswa membuka bekal.
Sebagian lainnya keluar untuk membeli minuman.
Renji baru saja hendak mengambil ponselnya ketika salah seorang teman sekelas menepuk bahunya.
“Renji, nanti ikut ke kantin?”
“Lima menit lagi.”
“Oke.”
Renji berdiri dan berjalan menuju jendela untuk menghirup udara segar.
Kemudian ia melihat sesuatu.