Atap gedung sekolah sebenarnya bukan tempat yang istimewa. Tidak ada taman kecil seperti yang sering muncul dalam cerita-cerita romantis, tidak ada bangku kayu yang menghadap matahari terbenam, bahkan tidak ada pemandangan spektakuler selain lapangan olahraga, gedung-gedung permukiman di kejauhan, dan garis biru samar pegunungan yang hanya terlihat ketika udara Tokyo sedang sangat cerah. Namun, bagi Renji, tempat itu cukup sempurna untuk makan siang. Angin musim semi berembus melewati pagar pembatas, membawa aroma tanah lapangan yang baru disiram dan suara samar klub olahraga dari bawah. Ia duduk bersandar pada pagar, membuka botol teh, lalu menghela napas lega setelah seharian pertama sekolah berjalan tanpa kejadian aneh—setidaknya sampai ia mendengar suara pintu atap dibuka.
Renji menoleh.
Miyu muncul dari balik pintu dengan langkah pelan.
Di tangannya terdapat sebuah kotak bento berwarna hitam.
Ia tidak langsung berbicara. Gadis itu berjalan mendekat dengan ekspresi yang terlalu serius untuk sekadar membawa makan siang. Rok seragamnya bergerak tertiup angin, rambut hitamnya sedikit berantakan, tetapi ia tidak memperbaikinya. Matanya justru terpaku pada Renji, seolah-olah ia baru saja datang untuk menyampaikan sebuah ultimatum penting bagi keamanan nasional.
Renji menatap kotak bento itu.
Lalu menatap wajah Miyu.
“Kamu bawa makanan?”
Miyu berhenti sekitar satu meter di depannya.
“Bukan sekadar makanan.”
“Oh?”
“Ini pesan.”
Renji menahan senyum.
“Pesan apa?”
Miyu mengulurkan kotak itu dengan kedua tangan.
“Buka sendiri.”
Nada suaranya begitu dingin sampai Renji hampir percaya bahwa kotak tersebut berisi dokumen rahasia, bukan makan siang. Ia menerima bento itu, merasakan beratnya yang cukup penuh, kemudian memandang Miyu sekali lagi. Adiknya berdiri dengan kedua tangan terkepal di depan dada, berusaha mempertahankan wajah datar yang menurut Renji sudah mulai retak karena telinganya terlihat sedikit merah.
“Kenapa kamu nggak makan sama teman-temanmu?”
“Aku sudah bilang.”
“Bilang apa?”
“Ini pesan.”
“Pesan bisa disampaikan sambil makan.”
“Tidak.”
Miyu duduk di sebelahnya, tetapi sengaja menjaga jarak sekitar setengah meter. Ia melipat kedua tangannya dan menatap lurus ke depan. Renji bisa merasakan tatapan itu meskipun tidak melihat langsung.
Ia membuka tutup kotak bento.
Aroma nasi hangat, ayam teriyaki, telur gulung, sayuran tumis, dan sosis memenuhi udara. Susunannya rapi, bahkan terlalu rapi untuk ukuran Miyu yang biasanya menganggap makanan sebagai sesuatu yang harus segera dimakan sebelum dingin. Nasi putih memenuhi satu sisi kotak, dihiasi potongan nori hitam yang disusun membentuk huruf-huruf kecil.
Renji membaca.
JANGAN TATAP CEWEK LAIN.
Ia diam.
Kemudian membaca sekali lagi.
Di samping tulisan itu, ada wajah kecil dari nori berbentuk seperti karakter marah dengan dua alis miring dan mulut berbentuk garis zig-zag. Masalahnya, bentuk wajah itu lebih menyerupai maskot lucu yang sedang cemberut daripada ancaman.
Renji menggigit bibir agar tidak tertawa.
Miyu langsung menoleh.
“Kenapa?”
“Tidak.”
“Jangan tertawa.”
“Aku nggak ketawa.”
“Wajahmu ketawa.”
“Wajahku memang begini.”
Miyu memicingkan mata.
“Baca.”
“Sudah.”
“Dengan keras.”
Renji menatapnya.
“Kenapa?”
“Biar jelas.”
Renji menarik napas.
“Jangan tatap cewek lain.”
Miyu mengangguk kecil.
“Bagus.”
Renji menunjuk nori berbentuk wajah marah.
“Ini kamu?”
“Bukan.”
“Mirip.”
“Tidak mirip.”
“Alisnya sama.”
“Tidak.”
“Mulutnya juga.”
“Tidak.”
“Kalau aku tambahkan rambut—”
“Jangan.”
Renji akhirnya tertawa.
Miyu langsung memalingkan wajah.
“Aku serius.”
“Aku tahu.”
“Ini peringatan.”
“Baik.”
Renji mengambil sumpit.
“Boleh makan?”
Miyu menoleh perlahan.
“Silakan.”
Renji mengambil sepotong ayam teriyaki terlebih dahulu. Saus manis-gurih menempel tipis di permukaannya, dan ketika digigit, dagingnya masih lembut. Ia mengunyah beberapa detik, lalu mengangguk puas.
“Enak.”
Miyu membeku.
“...Apa?”
“Enak.”
“Beneran?”
Renji mengambil potongan kedua.
“Beneran.”
Miyu mencoba kembali memasang wajah dingin.
“Tentu saja.”
“Terutama ini.”
Renji mengambil satu sosis kecil berbentuk gurita.
Delapan potongan kecil pada bagian bawahnya melebar ketika dimasak, sementara dua titik hitam dari nori ditempel sebagai mata. Bentuknya sedikit miring sehingga salah satu mata terlihat lebih tinggi daripada yang lain.
Renji mengangkatnya.
“Sosis guritanya lucu.”
“Bukan lucu.”
“Enak juga.”
Miyu menunduk sedikit.
“...Oh.”
“Bumbunya pas.”
“...Oh.”
“Dan kamu bikin mata dari nori?”
“Iya.”
“Rapi.”
Miyu menggigit bibir bagian dalam.
“...Ya.”
Renji menoleh.
Pipi adiknya sudah memerah.
“Kenapa mukamu merah?”
“Panas.”
“Di atap?”
“Anginnya panas.”
“Anginnya dingin.”
“Kalau begitu aku yang panas.”
Renji tertawa.
Miyu segera mengangkat tangan menutupi pipinya.
“Jangan lihat!”
“Kenapa?”
“Karena...”
Ia terdiam.
“...pokoknya jangan.”
Renji kembali makan.
Ia tidak berniat mengganggunya terlalu jauh. Sejujurnya, ia cukup terkejut. Miyu memang sering membuat makanan untuknya, tetapi biasanya hanya berupa bekal biasa yang diletakkan di meja sarapan dengan kalimat singkat seperti, Jangan sampai Onii-chan beli makanan sembarangan. Hari ini berbeda. Ada usaha nyata di dalamnya. Potongan telur gulung dipotong dengan ukuran sama, sayuran disusun berdasarkan warna, dan bahkan nori pada nasi dibentuk menggunakan gunting kecil.
Renji tahu adiknya bisa sangat keras kepala.
Ia juga tahu di balik semua tingkah anehnya, Miyu sebenarnya ingin menunjukkan bahwa ia peduli.
Dan mungkin, pikir Renji, bento ini adalah cara paling aman bagi Miyu untuk mengatakan sesuatu yang tidak sanggup ia ucapkan langsung.
Ia mengambil satu potong tamagoyaki.
“Ini juga enak.”
Miyu menatapnya.
“Beneran?”
“Iya.”
“Tidak terlalu manis?”
“Pas.”
“Telurnya nggak kering?”
“Nggak.”
“Sayurnya?”
“Enak.”
“Nasiny—”
“Enak.”
Miyu terdiam.
Renji menahan senyum.
“Kamu boleh senang.”
“Aku tidak senang.”
“Kelihatannya senang.”
“Tidak.”
“Pipimu merah.”
“Karena panas.”
“Anginnya dingin.”
“Sudah kubilang, aku yang panas.”
Renji tertawa lagi.
Miyu mendengus.
Namun sudut bibirnya bergerak sedikit.