ImouKano: Imouto vs Kanojo

Diva Amane
Chapter #4

Ancaman Siswi Kelas 2

Sore hari membuat rumah keluarga Renji terasa lebih sunyi daripada biasanya. Cahaya matahari yang mulai condong masuk melalui jendela kamar Renji, menabrak tirai tipis dan memecah bayangan kisi-kisi jendela menjadi garis-garis keemasan di lantai. Dari luar terdengar suara sepeda melintas sesekali, disusul bunyi samar anak-anak sekolah yang baru pulang dan suara burung yang bertengger di kabel listrik di seberang jalan. Renji duduk santai di depan meja belajarnya dengan seragam sekolah yang belum sepenuhnya ia ganti, satu tangan menopang dagu sementara tangan lainnya membolak-balik beberapa lembar foto hasil kegiatan klub yang baru saja dibagikan kepadanya. Di ambang pintu, Miyu berdiri sambil memeluk buku pelajaran ke dadanya, tetapi matanya tidak sedikit pun tertuju pada buku itu; tatapannya justru terkunci pada kakaknya seperti kamera pengawas yang sedang menunggu kesalahan sekecil apa pun.

"Kenapa Onii-chan belum ganti baju?"

Pertanyaan itu terdengar biasa, tetapi Renji sudah cukup lama hidup bersama Miyu untuk mengenali nada tersebut. Nada datar dengan ujung kalimat sedikit naik berarti ada sesuatu yang sedang diperiksa. Renji melirik seragamnya sendiri, kemudian melihat Miyu yang masih berdiri di ambang pintu dengan rambut panjangnya sedikit berantakan akibat perjalanan pulang. "Malas," jawabnya ringan. "Lagipula nanti mau keluar lagi." Alis Miyu langsung turun beberapa milimeter.

"Keluar?"

"Ya."

"Ke mana?"

"Koridor lantai dua."

Miyu tidak langsung menjawab. Hanya ada suara detik jam dari ruang keluarga yang masuk samar melalui pintu terbuka. Renji menahan senyum karena ia tahu persis bagaimana otak adiknya sedang bekerja. Lantai dua berarti kelas dua. Kelas dua berarti para siswi senior yang masih memiliki satu tahun penuh untuk berkeliaran di sekolah setelah dirinya lulus. Dan bagi Miyu, dua hal itu cukup untuk mengubah sebuah sore yang seharusnya biasa menjadi rapat darurat tingkat nasional.

"Kenapa?"

"Ada urusan."

"Urusan apa?"

"Urusan biasa."

Miyu menyipitkan mata. "Onii-chan."

"Hm?"

"Jangan jawab seperti orang yang menyembunyikan sesuatu."

"Aku memang menyembunyikan sesuatu."

Miyu langsung menegakkan badan.

Renji menggigit bagian dalam pipinya supaya tidak tertawa. Ia sebenarnya tidak memiliki urusan rahasia apa pun. Kegiatan klub yang ia datangi sore itu memang membuatnya harus melewati lantai dua untuk mengambil beberapa berkas, tetapi ia sengaja membiarkan percakapan tersebut menggantung karena ekspresi Miyu terlalu menghibur untuk dilewatkan. Adiknya bahkan sudah menggeser buku pelajaran ke satu tangan dan mulai memasukkan tangan lainnya ke saku rok, tempat Renji sangat yakin ada benda yang seharusnya tidak dibawa seorang siswi SMA ke dalam rumah. Spatula kayu, mungkin. Atau salah satu alat pelacak yang entah bagaimana berhasil ia pasang tanpa sepengetahuan siapa pun.

"Jangan khawatir," kata Renji akhirnya. "Aku cuma mau lihat sesuatu."

"Apa?"

"Foto."

Miyu semakin curiga.

Renji mengambil beberapa lembar foto dari atas meja, berdiri, lalu pura-pura hendak memindahkannya ke rak. Ketika ia berjalan melewati Miyu, satu lembar foto sengaja dilepaskannya dari tangannya. Kertas itu jatuh melayang, berputar sekali di udara, lalu mendarat tepat di depan kaki Miyu dengan bagian gambar menghadap ke atas.

Semuanya terjadi terlalu sempurna.

Miyu menundukkan kepala.

Foto itu memperlihatkan kegiatan klub di sekolah. Beberapa siswa berdiri berkelompok di halaman, sebagian membawa perlengkapan kegiatan, sementara di bagian tengah tampak seorang siswi kelas dua dengan rambut hitam yang jatuh rapi di bahu. Senyumnya lembut, tidak dibuat-buat, dengan kedua tangan memegang sebuah kotak perlengkapan yang tampaknya terlalu berat untuk dibawa sendirian. Cahaya sore mengenai sisi wajahnya sehingga ekspresinya tampak hangat bahkan dari selembar foto cetak yang sedikit kusam.

Miyu tidak bergerak.

Renji juga tidak bergerak.

Dua detik.

Tiga detik.

Empat detik.

Miyu perlahan mengambil foto itu.

"Siapa?"

Renji memasang wajah polos. "Siapa?"

"Cewek ini."

"Oh."

Renji menggaruk pipinya seolah baru sadar bahwa foto yang jatuh itu memuat seseorang yang menarik perhatian. "Aoi."

Miyu mengangkat wajah.

"Aoi siapa?"

"Aoi."

"Itu nama depannya. Nama lengkapnya?"

"Aoi."

"Onii-chan."

"Iya?"

"Jangan main-main."

Renji akhirnya tertawa kecil. Ia kembali duduk di kursi dan menyandarkan punggung dengan santai, sementara Miyu masih berdiri di dekat meja sambil memegang foto itu dengan kedua tangan. Tatapannya bergerak dari wajah Aoi di foto menuju wajah Renji, lalu kembali ke foto. Perubahan ekspresinya sangat kecil, tetapi Renji dapat melihatnya dengan jelas: pupil mata Miyu menyempit, bibirnya mengatup rapat, dan bahunya menegang seolah baru saja mendengar sirene peringatan.

"Namanya Aoi," kata Renji. "Kelas 2-C."

Miyu menatapnya lama.

"Kelas dua?"

"Ya."

"2-C?"

"Betul."

"Cewek?"

Renji mengangkat alis. "Kalau lihat fotonya, menurutmu?"

Miyu tidak menjawab. Ia menurunkan foto sedikit dan kembali melihat gambar tersebut dengan tatapan yang sekarang terasa jauh lebih serius daripada sebelumnya. Aoi sedang tersenyum kepada seseorang di luar bingkai foto. Tidak ada pose aneh. Tidak ada kontak fisik. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Justru itu masalahnya.

Wajahnya terlalu biasa.

Terlalu lembut.

Terlalu aman.

Dan bagi Miyu, perempuan yang tampak aman justru jauh lebih berbahaya daripada perempuan yang terang-terangan agresif.

"Onii-chan," katanya pelan.

"Hm?"

"Seberapa sering bertemu dia?"

Renji pura-pura berpikir.

"Kadang-kadang."

"Berapa kali?"

"Entahlah."

"Seminggu?"

"Mungkin."

"Setiap hari?"

"Kadang."

"Berbicara?"

"Ya."

"Berapa lama?"

Renji menghela napas. "Miyu, ini interogasi atau wawancara?"

"Jawab."

Renji tersenyum.

"Sering."

Miyu menatapnya tanpa berkedip.

Renji sebenarnya sudah tahu ia sedang berjalan menuju wilayah berbahaya. Namun, entah kenapa, sore itu ia merasa ingin sedikit bermain-main. Mungkin karena ekspresi Miyu yang terlalu mudah terbaca. Mungkin juga karena beberapa hari terakhir adiknya sudah terlalu sibuk mengawasi setiap siswi kelas tiga sampai-sampai ia ingin melihat bagaimana reaksinya ketika ancaman tersebut datang dari arah yang sama sekali berbeda.

Renji mengangkat foto yang tadi terjatuh, memandangnya sebentar, lalu berkata dengan nada sengaja dibuat santai, "Aoi itu memang tipeku."

Miyu membeku.

"…Apa?"

"Aku bilang, dia tipeku."

"Tipemu?"

"Iya."

Renji memutar foto tersebut di antara jari-jarinya. "Lembut."

Satu kata.

Cukup satu kata untuk membuat udara kamar berubah.

Miyu perlahan menurunkan tangannya. Wajahnya masih datar, tetapi Renji melihat jemarinya mencengkeram ujung foto lebih kuat.

"Lembut?"

"Iya."

"Seberapa lembut?"

"Ya lembut."

"Definisi lembut?"

Renji hampir tertawa lagi. "Memangnya ada definisi resmi?"

"Jawab."

"Kalem. Nggak gampang marah. Bisa merawat orang. Enak diajak ngobrol. Terus…" Renji sengaja berhenti sebentar, lalu tersenyum. "Masakannya juga enak."

Miyu menatap kakaknya seolah baru saja mendengar pengumuman perang.

"Masakan?"

"Ya."

"Onii-chan makan masakannya?"

"Sudah pernah."

"Berapa kali?"

"Beberapa."

"Beberapa itu berapa?"

"Entah. Tiga? Empat?"

Miyu memejamkan mata.

Di dalam kepalanya, sesuatu yang menyerupai papan strategi raksasa baru saja dibentangkan.

TARGET: AOI.

KELAS: 2-C.

STATUS: SISWI SENIOR.

JARAK USIA: 1 TAHUN.

KEAHLIAN TERINDIKASI: MEMASAK.

KEPRIBADIAN: LEMBUT.

Miyu membuka mata lagi.

"Dia tahu Onii-chan suka makanan manis?"

Renji berkedip. "Mungkin."

"Dia pernah memberikan makanan ke Onii-chan?"

"Ya."

Miyu menarik napas dalam-dalam.

"Berapa kali?"

"Kenapa penting?"

"Jawab."

"Beberapa kali."

Miyu menunduk pada foto di tangannya. Senyum Aoi tampak semakin mengancam.

Selama ini Miyu menganggap para siswi kelas tiga sebagai masalah utama. Mereka memang memiliki keunggulan usia, pengalaman, dan kedekatan dengan Renji sebagai sesama senior. Namun, ada satu kelemahan yang jelas: mereka akan lulus terlebih dahulu. Waktu adalah senjata Miyu. Setiap hari yang berlalu berarti jarak antara Renji dan para siswi kelas tiga semakin dekat menuju kelulusan. Bahkan jika salah satu dari mereka memiliki niat buruk, kesempatan untuk mempertahankan kedekatan setelah kelulusan akan berkurang drastis.

Kelas dua berbeda.

Kelas dua adalah zona merah.

Mereka cukup senior untuk mengenal lingkungan sekolah dan cukup dekat dengan kelas tiga untuk berinteraksi dengan Renji setiap hari, tetapi masih memiliki waktu satu tahun lebih panjang sebelum meninggalkan sekolah. Mereka tidak akan hilang ketika Renji lulus. Mereka justru akan tetap berada di sekolah ketika Miyu masih menjalani tahun-tahun berikutnya.

Dan sekarang ada seorang siswi kelas 2-C yang menurut pengakuan kakaknya sendiri memiliki sifat lembut, pandai merawat orang, bisa memasak, dan—yang paling mengerikan—merupakan tipe ideal Renji.

Miyu merasakan telapak tangannya mulai dingin.

"Kenapa diam?" tanya Renji.

"Sedang berpikir."

"Berpikir apa?"

"Strategi."

Renji tersenyum lebar.

"Nah, mulai lagi."

Miyu meletakkan foto itu di atas meja dengan sangat hati-hati. Kemudian ia menarik kursi di depan meja Renji, duduk, membuka tas sekolah, dan mengeluarkan sebuah buku bersampul hitam polos. Buku tersebut tampak terlalu serius untuk ukuran siswi kelas satu. Tidak ada gambar karakter, tidak ada stiker lucu, bahkan tidak ada nama pemilik. Hanya sampul hitam dengan sebuah garis merah tipis di bagian tengah.

Renji langsung mengenalinya.

"Buku itu?"

"Bukan urusan Onii-chan."

"Kemarin bukunya belum ada."

"Ini buku baru."

"Baru?"

"Ya."

Miyu membuka halaman pertama. Di bagian atas kertas kosong, ia menulis dengan pulpen hitam menggunakan huruf yang sangat rapi.

BUKU HITAM POTENSI RIVAL

Renji menutup mulutnya.

Bahunya bergetar.

Miyu melirik tajam.

"Jangan ketawa."

"Aku nggak ketawa."

Lihat selengkapnya