ImouKano: Imouto vs Kanojo

Diva Amane
Chapter #5

Pelanggan Tetap Pos Ronda & Kasir Diskon

Jelang malam, kawasan permukiman tempat keluarga Renji tinggal perlahan berubah warna. Langit yang sejak sore masih menyisakan semburat jingga di balik deretan rumah dua lantai mulai menggelap menjadi biru tua, sementara lampu-lampu teras menyala satu demi satu di sepanjang jalan sempit yang diapit pagar rumah, pot tanaman, dan tiang-tiang listrik. Udara September membawa sisa hangat dari siang hari, tetapi angin yang melewati gang terasa lebih sejuk dan membawa aroma masakan dari dapur rumah-rumah tetangga. Dari kejauhan terdengar suara roda sepeda melewati aspal, bunyi pintu geser yang ditutup, serta televisi seseorang yang samar-samar terdengar dari balik dinding rumah. Di tengah suasana lingkungan yang tenang dan akrab itu, seorang gadis berusia lima belas tahun sedang menjalankan operasi pengintaian dengan kacamata hitam berbingkai besar yang jelas-jelas tidak cocok dikenakan saat matahari hampir tenggelam.

Miyu berjongkok di balik sebuah semak.

Semak itu tingginya hanya sampai dada.

Kacamata hitamnya bahkan memantulkan cahaya lampu jalan sehingga keberadaannya justru lebih mudah terlihat daripada kalau ia berdiri biasa.

Namun bagi Miyu, posisi tersebut sudah memenuhi standar penyamaran profesional.

Di ujung jalan, Renji berjalan santai sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Ia baru saja selesai kegiatan ekstrakurikuler dan tidak terlihat terburu-buru untuk pulang. Tas sekolah tergantung di salah satu bahunya, dasinya sudah sedikit longgar, dan langkahnya mengikuti ritme seseorang yang tahu bahwa rumahnya hanya beberapa menit lagi. Sesekali ia menoleh ke kiri atau kanan, tetapi tidak pernah melihat langsung ke arah semak tempat Miyu bersembunyi.

"Target bergerak ke arah utara," bisik Miyu.

Tidak ada siapa-siapa yang mendengarnya.

Miyu mengeluarkan buku kecil dari dalam tas.

"Jarak aman… dua puluh tiga meter."

Ia mengangkat kepala sedikit.

Renji masih berjalan.

"Kecepatan stabil."

Ia menulis lagi.

"Subjek tidak menyadari pengawasan."

Miyu tersenyum tipis.

Akhirnya.

Setelah beberapa hari menghadapi kelas tiga, kelas dua, dan terutama ancaman bernama Aoi dari 2-C, ia memutuskan bahwa sekolah bukan satu-satunya tempat yang perlu diawasi. Kalau Renji bisa bertemu dengan seseorang di luar sekolah, maka pengawasan yang hanya mengandalkan lingkungan SMA tentu tidak cukup. Bahkan perjalanan pulang pun memiliki celah. Minimarket, jalan pulang, toko makanan, taman kecil, halte, semuanya merupakan titik potensial bagi terjadinya pertemuan yang tidak tercatat.

Miyu menurunkan kacamata hitamnya sedikit.

Hari ini adalah uji coba.

Tidak ada kontak.

Tidak ada interaksi.

Tidak boleh diketahui.

Ia hanya akan mengikuti Renji sampai rumah dan memastikan tidak ada seorang pun yang mendekatinya.

Sederhana.

Sangat sederhana.

Setidaknya menurut Miyu.

Renji berhenti di persimpangan kecil.

Miyu langsung menunduk.

Jantungnya berdegup.

"Target berhenti."

Renji melihat ke kiri.

Kemudian ke kanan.

Miyu menahan napas.

Renji akhirnya melanjutkan perjalanan ke kanan.

Miyu menunggu tiga detik, lalu bangkit dari balik semak dan mengikuti dengan langkah cepat. Namun baru saja ia mencapai ujung pagar sebuah rumah, suara seseorang terdengar dari arah depan.

"Oh, Miyu!"

Tubuh Miyu langsung kaku.

Seorang pria paruh baya sedang duduk di bangku sederhana di depan sebuah pos jaga kecil di pinggir jalan. Ia mengenakan jaket tipis dan celana kerja rumahan, dengan secangkir teh panas berada di dekat kakinya. Rambutnya sudah dipenuhi uban di beberapa bagian, dan wajahnya memiliki ekspresi santai seseorang yang sudah terlalu sering melihat berbagai tingkah warga sekitar untuk merasa terkejut oleh apa pun.

Miyu mengenalnya.

Bapak Sato.

Salah satu tetangga yang sering berjaga malam bersama warga lain.

Miyu mengangkat satu jari ke bibir.

"Ssst."

Pak Sato mengedip.

Miyu menunjuk ke arah Renji yang sudah semakin jauh.

Kemudian ia berbisik, "Aku sedang menjalankan operasi."

Pak Sato melihat ke arah Renji.

Lalu melihat Miyu.

Kemudian melihat kacamata hitam besar di wajahnya.

Setelah beberapa detik, pria itu tertawa.

"Begitu toh."

Miyu mengangguk serius.

"Jangan kasih tahu Onii-chan."

"Tenang."

Pak Sato mengangguk dengan ekspresi penuh pengertian.

Miyu menghela napas lega.

"Terima kasih."

"Ngomong-ngomong, mau ubi?"

Miyu berhenti.

"…Apa?"

Pak Sato menunjuk sebuah panci kecil yang diletakkan di dekat kursinya.

"Ubi rebus. Baru matang."

Miyu melihat panci tersebut.

Aroma manis samar langsung menyusup ke hidungnya.

Ia menelan ludah.

"Tidak."

"Yakin?"

"Operasi sedang berlangsung."

"Kalau begitu sambil operasi bisa makan."

Miyu kembali menatap Renji.

Jaraknya sudah bertambah.

Kemudian ia menatap panci.

Kemudian Renji.

Kemudian panci lagi.

"…Satu."

Pak Sato tersenyum.

"Ambil dua."

"Satu."

"Dua."

"…Dua."

Miyu menerima dua potong ubi rebus dengan kedua tangan. Uap tipis masih mengepul dari permukaannya. Ia meniup pelan sebelum menggigit bagian ujungnya, dan rasa manis yang lembut langsung memenuhi mulutnya. Ekspresinya yang sejak tadi tegang perlahan mengendur tanpa ia sadari.

Pak Sato menatapnya sambil tertawa kecil.

"Enak?"

Miyu mengangguk.

"Enak."

"Kalau begitu nanti mampir lagi."

Miyu kembali sadar pada tugasnya.

"Oh."

Ia menegakkan badan.

"Terima kasih."

Kemudian ia berbalik dan kembali mengintai.

Masalahnya, Renji sudah hampir menghilang di tikungan.

Miyu langsung panik.

"Ah!"

Ia berlari kecil.

Namun baru beberapa langkah, seorang ibu yang sedang membawa kantong belanja keluar dari rumah menyapanya.

"Miyu-chan!"

Miyu berhenti.

"Ibu Tanaka."

"Mau pulang?"

Miyu menggeleng cepat.

"Sedang ada urusan."

"Oh, urusan?"

Ibu Tanaka melihat kacamata hitamnya.

Kemudian melihat ubi di tangannya.

Kemudian kembali melihat wajah Miyu.

"Jangan sampai masuk angin."

Miyu berkedip.

"Iya."

"Mau permen?"

Miyu menggeleng.

"Tidak perlu."

Ibu Tanaka memasukkan satu permen ke telapak tangannya.

"Ambil saja."

Miyu menatap permen tersebut.

"Terima kasih."

Ia kembali berlari.

Lima belas meter kemudian, seorang kakek yang sedang menyiram tanaman menyapa.

"Miyu!"

Miyu berhenti.

"Iya?"

"Sudah makan?"

"Sudah."

"Jangan lupa bilang ibumu kalau pulang terlambat."

"Iya."

"Lho, pakai kacamata hitam?"

"…Iya."

"Bagus juga."

"Terima kasih."

Miyu kembali berjalan.

Sepuluh meter kemudian, seorang anak kecil yang sedang bermain sepeda menoleh.

"Miyu-neesan!"

Miyu mengangkat tangan.

"Hai."

Anak itu tersenyum.

"Keren!"

Miyu tersenyum tipis.

Kemudian wajahnya langsung berubah ketika menyadari sesuatu.

Ia kehilangan jejak Renji.

"…"

Miyu menoleh ke kanan.

Kosong.

Ke kiri.

Kosong.

Jalan di depan hanya menyisakan cahaya lampu jalan dan bayangan panjang rumah-rumah.

Target hilang.

Miyu menggigit bibir.

Tidak.

Belum gagal.

Ia tahu Renji menuju minimarket di ujung jalan karena kebiasaan kakaknya membeli camilan sepulang sekolah. Jadi ia hanya perlu bergerak ke sana. Tidak ada masalah.

Miyu mengangkat kembali kacamata hitamnya.

"Operasi dilanjutkan."

Ia berjalan dengan langkah lebih cepat.

Namun baru mencapai tiang listrik berikutnya, ia berhenti.

Tiang itu cukup besar.

Di baliknya, tubuh kecilnya bisa tertutup.

Miyu langsung merapat ke permukaan tiang.

Lihat selengkapnya