ImouKano: Imouto vs Kanojo

Diva Amane
Chapter #6

Kelompok Belajar di Ruang Tamu

Sore itu, ruang tamu keluarga Renji berubah menjadi tempat yang jauh lebih serius daripada biasanya. Meja rendah di tengah ruangan dipenuhi buku pelajaran, lembar latihan, catatan yang ditempel dengan penanda warna-warni, beberapa pensil mekanik, penghapus, dan tiga gelas minuman yang sudah hampir kosong. Cahaya matahari masuk dari jendela besar di sisi ruangan dan jatuh miring di atas tatami, membuat debu-debu kecil yang melayang di udara terlihat seperti serpihan cahaya. Di antara tumpukan buku tersebut, empat siswa kelas tiga duduk bersila membentuk setengah lingkaran, masing-masing berusaha menaklukkan materi ujian semester yang semakin dekat. Seharusnya suasana itu penuh keluhan, tawa kecil, dan perdebatan mengenai jawaban soal, tetapi sejak sekitar sepuluh menit terakhir, ada satu hal yang membuat semua orang terlalu takut untuk berbicara dengan volume normal.

Miyu.

Gadis kelas satu itu berdiri di sudut ruang tamu dengan kedua tangan terlipat di depan tubuh. Seragamnya masih rapi meskipun ia sudah pulang sekolah beberapa waktu lalu, rambutnya disisir dengan teliti, dan wajahnya menunjukkan ketenangan yang terlalu sempurna untuk seseorang yang sedang berdiri tanpa bergerak selama hampir sepuluh menit. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan. Bahkan hampir tidak ada kedipan mata. Tatapannya hanya bergerak mengikuti setiap gerakan orang di ruangan itu, terutama ketika seorang siswi kelas tiga bernama Haruka membungkuk sedikit ke arah Renji untuk menunjukkan cara menyelesaikan soal matematika yang sejak tadi membuatnya bingung.

"Kalau bagian ini dipindahkan ke sebelah sini, kamu tinggal substitusi nilainya," jelas Haruka sambil menunjuk catatan Renji dengan ujung pensil. "Lihat? Hasilnya jadi lebih gampang."

"Oh."

Renji mengangguk.

"Benar juga."

"Kan."

Haruka tersenyum kecil.

Di sudut ruangan, Miyu menatap mereka.

Tidak berkedip.

Renji melihatnya dari sudut mata.

Ia sudah menduga ini akan terjadi.

Kelompok belajar atau benkyou-kai tersebut sebenarnya merupakan ide salah satu teman sekelasnya. Ujian semester semakin dekat, beberapa materi pelajaran terasa jauh lebih sulit daripada yang terlihat di buku, dan belajar sendirian mulai tidak efektif. Karena rumah Renji cukup luas dan ruang tamunya jarang digunakan pada sore hari, mereka memutuskan berkumpul di sana setelah pulang sekolah. Rencana awalnya sederhana: belajar selama dua atau tiga jam, membahas soal-soal yang sulit, makan camilan, lalu pulang sebelum malam.

Tidak ada satu pun dari mereka yang memperhitungkan faktor Miyu.

Atau lebih tepatnya, Renji memperhitungkannya.

Hanya saja ia tidak menyangka adiknya akan mengambil peran seperti sekarang.

Sekitar setengah jam sebelumnya, Miyu masuk ke ruang tamu membawa baki teh hangat dengan kedua tangan. Ia tidak mengatakan apa-apa selain, "Teh," lalu menaruh empat cangkir di atas meja dengan hempasan yang tidak keras, tetapi cukup terukur untuk membuat semua orang berhenti berbicara selama beberapa detik. Setelah itu ia berdiri di sudut ruangan, sedikit menjauh dari meja, dan tidak bergerak lagi.

Renji sempat bertanya, "Kamu mau ngapain?"

Miyu menjawab, "Melayani."

"Siapa yang menyuruh?"

"Diriku sendiri."

Sejak saat itu, tidak ada yang berani bertanya lagi.

Masalahnya bukan pada teh.

Masalahnya adalah cara Miyu memperhatikan semua orang.

Ketika salah seorang teman laki-laki Renji meminta penghapus, Miyu langsung melihat tangannya.

Ketika seorang siswi membuka bungkus permen, Miyu melihat wajahnya.

Ketika Haruka membungkuk untuk menjelaskan soal kepada Renji, tatapan Miyu berubah menjadi sedikit lebih tajam.

Dan setiap kali Renji tertawa kecil karena penjelasan Haruka, suasana ruangan seolah turun beberapa derajat.

"Renji," bisik salah satu teman laki-laki di sampingnya.

"Hm?"

"Adikmu marah?"

Renji melirik Miyu.

"Kayaknya nggak."

Temannya menelan ludah.

"Kayaknya?"

"Dia memang begitu."

"Begitu gimana?"

"Kalau diam, berarti sedang mikir."

"Kalau mikir?"

"Biasanya ada masalah."

Temannya melirik lagi.

Miyu masih berdiri.

Mata tetap terbuka.

Wajah tetap datar.

"Masalahnya apa?"

Renji mengambil pensil.

"Entahlah."

Ia sengaja tidak menjawab lebih jauh.

Sebenarnya ia tahu.

Miyu sedang melakukan pengawasan.

Dan objek pengawasan hari ini bukan siswi kelas dua atau kelas tiga yang kebetulan berada di koridor sekolah. Kali ini targetnya jauh lebih dekat: teman-teman Renji sendiri.

Terutama Haruka.

Haruka kebetulan duduk paling dekat dengannya.

Dan Haruka kebetulan perempuan.

Dalam dunia Miyu, dua fakta tersebut sudah cukup untuk membuka satu berkas baru.

"Renji, coba soal nomor tujuh," kata Haruka.

"Yang ini?"

"Iya."

Haruka kembali merapat sedikit untuk melihat buku Renji.

Miyu memiringkan kepala.

Renji melihatnya.

Haruka juga tampaknya merasakan sesuatu karena tiba-tiba bahunya menegang.

"…Ada apa?"

Miyu tidak menjawab.

Haruka menatap Renji.

"Adikmu selalu begitu?"

"Kalau lagi serius, iya."

"Dia kelihatannya sedang serius banget."

"Memang."

Haruka tertawa kaku.

"Kenapa aku merasa dia sedang mengawasi aku?"

Renji mengangkat bahu.

"Perasaanmu benar."

"Renji."

"Ya?"

"Kenapa kamu santai?"

"Karena aku sudah terbiasa."

Haruka menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.

Di sudut ruangan, Miyu menghela napas sangat pelan.

Ia tidak suka situasi ini.

Sama sekali.

Namun ia juga tahu bahwa mencegah Renji belajar bersama teman-temannya akan membuatnya terlihat terlalu berlebihan. Karena itu, ia memilih pendekatan yang menurutnya paling rasional: menjadi pelayan rumah.

Jika ia menyediakan teh, makanan, dan menjaga ruangan, maka ia memiliki alasan sah untuk berada di sana.

Tidak ada yang bisa menuduhnya mengganggu.

Ia hanya adik yang perhatian.

Hanya itu.

Setidaknya secara administratif.

Masalahnya, definisi "perhatian" milik Miyu jauh berbeda dari definisi manusia normal.

Ia memperhatikan siapa yang duduk di sebelah Renji.

Ia memperhatikan siapa yang menyentuh buku Renji.

Ia memperhatikan siapa yang memuji Renji.

Ia memperhatikan berapa lama seseorang berbicara dengan Renji.

Dan sekarang ia sedang memperhatikan jarak antara tangan Haruka dengan tangan kakaknya.

Terlalu dekat.

Miyu menarik napas.

Kemudian mengeluarkan suara kecil.

"Berdeham."

Semua orang menoleh.

Miyu berdiri tegap.

"Tehnya diminum sebelum dingin."

Tidak ada yang menjawab.

Renji menunduk.

Ia hampir tertawa.

Haruka buru-buru mengambil cangkirnya.

"I-Iya."

Teman lainnya mengikuti.

"Terima kasih."

Miyu mengangguk.

Kemudian kembali ke posisi semula.

Tiga puluh detik kemudian, suasana belajar berlanjut.

"Jadi untuk soal ini—"

Haruka kembali menunjuk buku Renji.

Miyu menatap.

Renji menatap Miyu.

Haruka menatap Renji.

Renji menghela napas dalam hati.

Kalau begini terus, benkyou-kai ini tidak akan bertahan sampai satu jam.

Ia mencoba mengabaikan adiknya dan kembali pada soal. Bagaimanapun, ujian tetap ujian. Ia tidak ingin nilainya jatuh hanya karena Miyu sedang menjalankan operasi keamanan nasional di ruang tamu. Ia mulai mengerjakan soal berikutnya, mendengarkan penjelasan Haruka, sesekali bertanya ketika ada bagian yang belum ia pahami.

Namun semakin ia berusaha fokus, semakin terasa bahwa seluruh ruangan justru menjadi kaku.

Tidak ada yang tertawa.

Tidak ada yang mengeluh.

Tidak ada yang bersandar santai.

Bahkan ketika salah seorang teman laki-laki Renji salah menjawab sebuah soal, ia hanya berkata, "Oh," lalu menghapus jawabannya tanpa protes.

Renji akhirnya mengangkat kepala.

"Kenapa semuanya diam?"

Temannya menjawab dengan suara pelan.

"Takut."

"Takut apa?"

Temannya melirik Miyu.

Renji mengikuti arah pandang itu.

Lihat selengkapnya