Pagi itu, sekolah bahkan belum benar-benar terbangun ketika Miyu sudah berdiri di koridor lantai dua dengan ekspresi seorang mandor proyek yang baru saja menerima laporan bahwa pekerjaannya tertunda. Jam dinding di ujung lorong baru menunjukkan pukul enam lewat empat puluh, sementara cahaya matahari musim pagi menyelinap melalui jendela-jendela besar dan jatuh miring di lantai yang masih mengilap karena baru dipel. Suara langkah kaki sesekali terdengar dari tangga, tetapi sebagian besar gedung SMA itu masih sunyi, menyisakan dengung mesin ventilasi dan bunyi samar kendaraan dari jalan raya di luar pagar sekolah. Di tengah kesunyian tersebut, Miyu berdiri di depan papan pengumuman sementara dengan gulungan selotip di tangan, mengenakan seragam lengkap dan tas sekolah yang sengaja ditinggalkan di dekat dinding. Di hadapannya, sebuah papan putih bertuliskan tangan dengan huruf besar-besar sedang ia tempelkan pada tiang koridor.
SEDANG DITUTUP UNTUK PERBAIKAN.
Di bawah tulisan itu terdapat panah besar yang menunjuk ke arah berlawanan dari kelas 2-C.
Miyu mundur dua langkah, lalu menyipitkan mata.
“Bagus.”
Ia mengangguk pelan seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan pembangunan jembatan tol. Papan itu memang tampak meyakinkan dari jarak beberapa meter. Kertas putih ditempel di atas karton tebal, sudut-sudutnya diperkuat selotip bening, dan bahkan Miyu menambahkan gambar kecil berbentuk ikon orang berjalan yang ia salin dari salah satu tanda petunjuk darurat sekolah. Di sampingnya, ia memasang pita pembatas berwarna merah-putih yang sebenarnya merupakan sisa perlengkapan kegiatan olahraga semester lalu. Tidak ada tulisan nama guru, cap sekolah, ataupun tanggal perbaikan, tetapi dalam cahaya pagi yang remang-remang, semuanya terlihat cukup resmi untuk menipu seseorang yang tidak punya alasan mencurigainya.
Terlebih lagi, Miyu telah melakukan penelitian.
“Biasanya kalau ada perbaikan fasilitas, jalur tertentu memang ditutup sementara,” gumamnya sambil memeriksa pita pembatas. “Jadi ini bukan bohong sepenuhnya. Ini hanya... pengaturan lalu lintas sementara.”
Ia berhenti sebentar, kemudian mengangkat telunjuk dengan penuh keyakinan.
“Demi keselamatan Onii-chan.”
Kalimat itu membuatnya sendiri merasa lebih benar.
Masalahnya sederhana. Renji berada di kelas 3-A di lantai tiga. Aoi berada di kelas 2-C di lantai dua. Beberapa hari terakhir, Miyu mulai menyadari bahwa jarak satu lantai ternyata terlalu dekat. Renji bisa saja turun ke lantai dua dengan alasan mengembalikan buku perpustakaan, bertemu Aoi di koridor, berbicara selama beberapa menit, lalu pulang dengan wajah bodoh yang sedikit terlalu bahagia. Bagi Miyu, itu adalah celah keamanan yang tidak dapat dibiarkan.
Ia sudah memikirkan berbagai solusi sepanjang perjalanan pulang kemarin.
Mengunci tangga? Terlalu mencolok.
Menyembunyikan buku perpustakaan? Tidak etis.
Mengikuti Renji sepanjang hari? Merepotkan dan berisiko ketahuan.
Maka lahirlah solusi yang menurut Miyu paling elegan: mengubah rute perjalanan secara fisik.
“Kalau Onii-chan tidak bisa lewat koridor kelas 2-C...” Miyu menatap papan petunjuknya dengan mata berbinar. “...maka Onii-chan tidak akan bertemu Onee-san itu.”
Senyumnya perlahan melebar.
“Strategi pertahanan wilayah berhasil.”
Ia bahkan telah menggambar rute alternatif di selembar kertas kecil yang diselipkan ke dalam sakunya. Koridor kelas 2-C akan diarahkan menuju tangga belakang, kemudian turun satu lantai, berbelok melewati lorong ruang musik, dan baru kembali ke jalur utama. Secara teknis, tidak ada yang benar-benar terhalang. Semua orang hanya akan berjalan sedikit lebih jauh.
Sedikit.
Mungkin sekitar dua menit.
Bagi Miyu, dua menit adalah harga yang sangat murah untuk mempertahankan kedamaian dunia.
Ia baru saja hendak memperbaiki posisi pita pembatas ketika suara langkah kaki terdengar dari ujung tangga. Miyu langsung membeku. Secara refleks, ia menoleh ke kanan dan kiri, lalu melihat sebuah deretan loker penyimpanan di dekat dinding. Tanpa berpikir panjang, ia menyelinap ke belakangnya, menarik tubuhnya serapat mungkin ke celah sempit antara loker dan dinding.
Seorang siswi kelas dua muncul dari tangga.
Miyu menahan napas.
Siswi itu berjalan sambil memegang tas di satu tangan dan ponsel di tangan lainnya. Ia berhenti di depan papan buatan Miyu, membaca tulisannya selama beberapa detik, kemudian mengerutkan kening.
“Hm?”
Miyu mengintip dari balik loker.
Siswi itu memandang koridor kelas 2-C, kemudian papan lagi.
“Perbaikan? Hari ini?”
Miyu menutup mulut sendiri agar tidak tersenyum.
“Berhasil.”
Siswi tersebut akhirnya mengangkat bahu dan mengikuti arah panah. Langkahnya semakin menjauh sampai suara sepatu indoor-nya lenyap di tikungan.
Miyu mengembuskan napas lega.
“Target pertama berhasil dialihkan.”
Ia merogoh saku rok dan mengeluarkan buku kecil berwarna hitam yang sudah menjadi pusat operasi pengawasannya. Di halaman baru, ia menulis dengan cepat.
06.52 — Jalur alternatif berfungsi.
Kemudian ia menambahkan catatan kecil.
Potensi pertemuan dengan Onii-chan: berkurang.
Miyu berhenti menulis.
Wajahnya sedikit merah.
“Bukan karena aku cemburu,” bisiknya kepada dirinya sendiri. “Ini cuma keamanan.”
Ia menutup buku itu dengan suara tak.
“Keamanan.”
Sekitar sepuluh menit kemudian, Aoi tiba di lantai dua dengan langkah santai seperti biasanya. Udara pagi masih menyimpan sedikit dingin, dan ujung rambutnya bergerak pelan setiap kali ia melewati jendela yang terbuka. Ia membawa tas sekolah di bahu dan sebuah kantong kecil berisi roti untuk sarapan kedua yang tadi dibelinya di konbini dekat stasiun. Karena datang sedikit lebih awal, ia tidak terburu-buru menuju kelas 2-C. Pagi yang tenang seperti ini justru merupakan waktu favoritnya untuk merapikan buku, menyapa teman, dan menikmati beberapa menit sebelum sekolah dipenuhi suara.
Namun ketika ia sampai di tikungan koridor, langkahnya berhenti.
“Eh?”
Sebuah pita pembatas melintang di depannya.
Aoi memiringkan kepala.
Di sampingnya berdiri papan petunjuk yang tampak cukup resmi.
SEDANG DITUTUP UNTUK PERBAIKAN. SILAKAN GUNAKAN JALUR ALTERNATIF.
Aoi membaca sekali lagi.
“Perbaikan?”
Ia menoleh ke arah koridor kelas 2-C yang masih kosong. Tidak terdengar suara tukang, tidak ada bau cat, tidak ada suara bor, dan tidak tampak satu pun peralatan kerja. Tetapi sekolah memang terkadang melakukan perbaikan fasilitas sebelum jam pelajaran dimulai. Mungkin ada masalah dengan lampu, lantai, atau saluran listrik.
Aoi tidak terlalu memikirkannya.
“Oh, ya sudah.”
Ia mengikuti panah.
Dari balik loker, dua mata mengawasinya.
Miyu mengepalkan tangan.
“Target kedua bergerak.”
Aoi berjalan melewati tikungan, kemudian sampai di tangga belakang. Miyu segera menyadari sesuatu yang tidak sesuai rencana. Aoi tidak hanya mengikuti papan tersebut, tetapi jalur alternatif itu membuatnya berbelok menuju sisi gedung yang sama sekali berbeda dari kelasnya.
Miyu membuka buku hitam.
Arah pengalihan: sukses.
Ia menulis lagi.
Aoi tidak mencurigai.
Senyumnya muncul.
Lalu ia menambahkan satu kalimat.
Onii-chan akan aman.
Pada saat itulah terdengar suara langkah lain dari tangga utama.
Miyu langsung mengangkat kepala.
Sepasang sepatu indoor muncul terlebih dahulu.
Kemudian celana seragam.
Kemudian tubuh tinggi seorang siswa kelas tiga.
Renji.
Miyu membeku.
Renji turun dari tangga sambil membawa dua buku tebal yang ditumpuk di dadanya. Rambutnya masih sedikit berantakan seperti seseorang yang berangkat sekolah tanpa merasa perlu memenangkan kompetisi penampilan. Ia menguap kecil, lalu mengusap mata sebelum melangkah ke lantai dua.
“Perpustakaan buka pagi begini, ya?”
Ia sebenarnya hanya hendak mengembalikan buku yang dipinjamnya beberapa hari lalu. Karena ruang perpustakaan berada di lantai dua, ia tidak melihat alasan untuk menunggu jam istirahat. Lebih cepat selesai, lebih tenang.
Namun baru beberapa langkah, Renji merasa ada sesuatu yang aneh.
Koridor lantai dua biasanya mulai dipenuhi siswa kelas dua pada jam seperti ini. Ada yang berjalan menuju kelas, ada yang membawa buku, ada yang berhenti di depan papan pengumuman. Pagi ini, arus murid justru bergerak ke arah yang tidak biasa.
Beberapa siswi melewati Renji sambil berbelok menuju tangga belakang.
Renji berhenti.
“Kenapa semuanya ke sana?”
Seorang siswa laki-laki yang lewat menjawab tanpa berhenti.
“Katanya koridor 2-C ditutup.”
Renji menatapnya.
“Ditutup?”
“Iya. Ada perbaikan.”
“Jam segini?”
“Katanya begitu.”
Siswa itu pergi.
Renji memandang koridor yang kosong.
Ada sesuatu yang terasa familiar.
Bukan papan palsunya.
Bukan pita pembatasnya.
Melainkan pola pikir di baliknya.
Renji menghela napas.
“Jangan-jangan...”
Matanya perlahan menyapu area sekitar.
Loker.
Tiang.
Papan pengumuman.
Sudut dinding.
Lalu—
Sebuah ujung sepatu mengintip dari balik loker.
Renji menatapnya selama tiga detik.
Ujung sepatu itu bergerak mundur.
Renji menutup mata.
“Miyu.”
Tidak ada jawaban.
“Miyu, aku bisa lihat sepatumu.”
Hening.
Renji menaruh buku-bukunya di atas ambang jendela, lalu berjalan mendekat. Begitu ia muncul di sisi loker, Miyu sedang jongkok dengan posisi seperti agen rahasia yang gagal menyamarkan diri. Di tangannya masih ada gulungan selotip yang ujungnya menggantung.
Miyu menatap Renji.
Renji menatap Miyu.
Miyu perlahan menyembunyikan selotip itu di belakang punggung.
“Pagi, Onii-chan.”
“Pagi.”
“Kebetulan sekali bertemu di sini.”
“Kebetulan?”
“Iya.”
“Jam segini?”
“Iya.”
“Di balik loker?”
Miyu berkedip.
“Tempat ini... nyaman.”
Renji menunjuk selotip di tangannya.
“Terus itu?”
Miyu melihat benda tersebut seolah baru sadar bahwa tangannya masih memegangnya.
“Ini?”
“Iya.”
“Peralatan sekolah.”
“Sejak kapan sekolah menyediakan selotip gulungan besar buat murid?”
“...Aku anggota...”
Miyu berhenti.
Renji menunggu.
“...klub selotip.”
Renji menatapnya datar.
“Tidak ada klub selotip.”
“Mulai hari ini ada.”
“Miyu.”
“Iya?”
“Kamu yang pasang papan itu, kan?”