ImouKano: Imouto vs Kanojo

Diva Amane
Chapter #8

Serangan Usapan Kepala Pertama

Jam istirahat di sekolah selalu memiliki suara yang berbeda dari jam pelajaran. Begitu bel berbunyi, koridor lantai satu hingga lantai tiga segera dipenuhi derap sepatu, suara pintu kelas yang dibuka, tawa siswa, dan aroma makanan yang keluar dari kotak-kotak bento. Matahari siang menerobos jendela-jendela besar gedung sekolah dan membentuk petak-petak cahaya di lantai, sementara sebagian siswa berbondong-bondong menuju kantin dan halaman untuk mencari tempat makan yang lebih nyaman. Di antara keramaian itu, Renji berdiri di dekat tangga lantai dua dengan ekspresi seseorang yang baru saja menyadari bahwa dirinya mungkin akan terseret ke dalam sebuah masalah yang sama sekali tidak ia inginkan. Dari kejauhan, ia melihat Miyu berjalan cepat melewati koridor dengan tatapan lurus dan wajah yang terlalu serius untuk ukuran seorang siswi yang seharusnya sedang mencari tempat makan siang.

Renji langsung mengenali ekspresi tersebut.

Bukan ekspresi lapar.

Bukan ekspresi mengantuk.

Bukan pula ekspresi seorang siswi yang baru mendapat nilai jelek.

Itu adalah wajah operasi.

“Jangan bilang...” gumam Renji.

Ia mengikuti Miyu dari jarak cukup jauh, menjaga agar adiknya tidak menyadari kehadirannya. Miyu turun melalui tangga samping, melewati lorong yang jarang digunakan siswa saat istirahat, lalu keluar menuju area belakang gedung olahraga. Tempat itu lebih sepi daripada bagian sekolah lainnya. Dinding belakang gedung olahraga memantulkan panas matahari, sementara beberapa pohon di sisi pagar sekolah bergoyang pelan tertiup angin. Ada bangku panjang yang biasanya digunakan anggota klub olahraga untuk menunggu giliran latihan, beberapa rak penyimpanan bola, dan sebuah jalan setapak sempit yang menghubungkan gedung olahraga dengan lapangan belakang.

Renji berhenti di balik sudut tembok.

Ia mengintip.

Miyu berdiri sendirian di tengah jalan setapak.

Kedua tangannya mengepal.

“Dia menunggu seseorang.”

Renji langsung tahu siapa.

Beberapa detik kemudian, pintu samping gedung olahraga terbuka.

Aoi keluar.

Ia membawa kotak makan siang kecil di satu tangan dan sebotol teh di tangan lainnya. Rambutnya yang sebahu bergerak lembut tertiup angin. Berbeda dengan Miyu yang berdiri kaku seperti sedang mempersiapkan interogasi, Aoi tampak santai. Ia bahkan sempat berhenti untuk membetulkan tali tasnya sebelum melihat seseorang berdiri di depannya.

“Miyu?”

Aoi tersenyum.

Miyu tidak membalas.

Ia hanya menatap Aoi.

Tatapan yang biasanya membuat beberapa siswa kelas dua memilih berjalan memutar itu kini dipasang pada tingkat maksimal. Alis Miyu sedikit diturunkan, matanya menyipit, bibirnya dikatupkan rapat. Bahunya ditegakkan, dan seluruh tubuhnya memancarkan aura yang seolah-olah sedang mengatakan bahwa orang yang berada di hadapannya telah memasuki wilayah terlarang.

Aoi berkedip.

“Kenapa?”

Miyu tidak menjawab.

Ia melangkah maju satu kali.

Kemudian satu kali lagi.

Di balik tembok, Renji perlahan menutup wajah dengan telapak tangan.

“Ini pasti buruk.”

Miyu telah memilih tempat yang sepi. Tidak ada teman sekelas. Tidak ada guru. Tidak ada anggota klub. Tidak ada siapa pun yang bisa mengganggu. Bahkan angin terasa terlalu pelan untuk mengacaukan suasana yang sedang ia bangun.

Miyu telah merencanakan adegan ini sejak kegagalan operasi papan petunjuk jalan palsu.

Kali ini tidak ada selotip.

Tidak ada karton.

Tidak ada rute alternatif.

Tidak ada benda bukti yang bisa disita guru.

Hanya dirinya.

Dan Aoi.

Miyu sudah memikirkan kalimat pembuka selama perjalanan pulang kemarin.

Berkali-kali ia mengucapkannya di dalam hati.

Jauhi Onii-chan.

Terlalu sederhana.

Jangan mendekati Onii-chan lagi.

Lebih baik.

Kalau kau masih berani mendekati Onii-chan, aku akan...

Masalahnya ada pada bagian terakhir.

Miyu belum menemukan kelanjutan yang benar-benar masuk akal.

Namun seorang yandere tidak boleh berhenti hanya karena masalah teknis.

Miyu mengangkat dagu.

“Aoi-senpai.”

Aoi memiringkan kepala.

“Iya?”

Miyu mengangkat tangan kanannya.

Jari telunjuknya diarahkan lurus ke Aoi.

Renji yang melihat dari balik tembok langsung menahan napas.

“Mulai.”

Miyu membuka mulut.

“Jauhi Kakakku atau—”

Ia berhenti.

Ada jeda.

Satu detik.

Dua detik.

Aoi menunggu dengan sabar.

“...atau?”

Miyu mengeraskan tatapannya.

“...atau...”

Otaknya kosong.

Tidak ada ancaman.

Tidak ada rencana cadangan.

Tidak ada kalimat dramatis yang muncul.

Miyu mulai panik dari dalam.

Apa?

Apa yang dilakukan setelah ‘atau’?

Haruskah aku bilang aku akan mengawasimu?

Itu sudah kulakukan.

Haruskah aku bilang aku akan melaporkanmu?

Ke siapa?

Koban?

Tidak masuk akal.

Haruskah aku bilang aku akan—

“—aku akan...”

Miyu masih menunjuk.

Aoi masih berdiri di depannya.

Namun bukannya terlihat takut, Aoi justru tersenyum semakin lembut.

“Kamu mau bilang sesuatu?”

Nada suaranya begitu tenang sehingga seluruh suasana intimidasi yang dibangun Miyu mendadak kehilangan arah.

Miyu berkedip.

“Iya.”

“Aku dengar.”

“Aku...”

Tatapan Miyu turun sedikit.

Aoi memperhatikan wajahnya beberapa saat. Kemudian matanya bergerak ke kerah seragam Miyu.

“Kerahmu miring.”

“Hah?”

Sebelum Miyu sempat mundur, Aoi melangkah mendekat.

Miyu langsung menegang.

“Tu-tunggu.”

Aoi mengangkat tangan.

Miyu refleks mundur setengah langkah.

“Apa?”

“Diam sebentar.”

“Kenapa?”

“Biar aku rapikan.”

Tangan Aoi menyentuh kerah seragam Miyu.

Sangat ringan.

Tidak ada gerakan mendadak.

Tidak ada paksaan.

Aoi hanya menarik sedikit bagian kerah yang terlipat, kemudian merapikan ujungnya dengan dua jari. Setelah itu ia membetulkan pita kecil di bagian leher Miyu yang ternyata juga sedikit miring akibat terburu-buru meninggalkan kelas.

Miyu tidak bergerak.

Tatapannya kosong.

Jari telunjuk yang tadi digunakan untuk mengancam masih terangkat di udara.

Di kepalanya, sesuatu mulai berbunyi.

Peringatan.

Peringatan.

Ada kontak fisik.

Tetapi bukan kontak fisik yang biasa ia gunakan untuk mendorong orang menjauh.

Ini lembut.

Hangat.

Tidak mengandung ancaman.

Aoi mundur sedikit untuk melihat hasilnya.

“Nah.”

Miyu masih diam.

“Sudah rapi.”

“...Oh.”

Suara Miyu keluar sangat kecil.

Aoi tersenyum.

“Sekarang lebih bagus.”

Miyu menelan ludah.

Ia seharusnya kembali memasang wajah menyeramkan.

Ia seharusnya mengangkat dagu.

Ia seharusnya berkata bahwa Aoi tidak berhak menyentuhnya.

Namun sebelum otaknya sempat menyusun perintah tersebut, Aoi memperhatikan sehelai rambut Miyu yang keluar dari tempatnya.

“Eh, rambutmu juga.”

“Hm?”

Aoi mengangkat tangan lagi.

Kali ini Miyu tidak sempat menghindar.

Jari-jari Aoi menyentuh rambut di atas kepalanya dan merapikannya perlahan. Sentuhan itu sederhana, hampir seperti gerakan seorang kakak kepada adiknya yang baru saja keluar rumah dengan penampilan berantakan.

Miyu mematung.

Renji yang mengintip dari balik tembok mengerutkan kening.

“...Hah?”

Aoi selesai merapikan rambutnya.

Kemudian, seolah itu adalah hal yang paling alami di dunia, telapak tangannya berhenti di atas kepala Miyu.

Ia mengusapnya perlahan.

Lihat selengkapnya