Bel makan siang baru saja berbunyi ketika atap sekolah perlahan dipenuhi suara pintu besi yang dibuka, langkah kaki, dan percakapan para siswa yang mencari tempat makan dengan udara lebih segar. Langit musim semi terbentang biru pucat di atas gedung sekolah, dengan beberapa gumpalan awan putih bergerak lambat mengikuti angin. Dari atas sana, suara kendaraan di jalan raya terdengar seperti dengung jauh yang konstan, bercampur dengan kicauan burung yang sesekali hinggap di pagar pembatas atap. Sebagian besar siswa duduk berkelompok di dekat pagar atau di bawah bayangan struktur beton, membuka bento dan botol teh masing-masing, sementara aroma nasi hangat, karaage, tamagoyaki, dan lauk rumahan bercampur menjadi satu. Di salah satu sudut yang sedikit lebih sepi, Renji sudah duduk bersandar pada pagar dengan kedua kaki diluruskan, menatap langit sambil menunggu sesuatu yang sebenarnya sudah ia duga akan datang.
Pintu atap terbuka dengan suara clang.
Renji bahkan tidak perlu menoleh.
Langkah kaki kecil yang cepat terdengar mendekat.
“Onii-chan.”
“Nah.”
Renji membuka sebelah mata.
Miyu berdiri di depannya dengan kotak bento berwarna hitam yang dipegang menggunakan kedua tangan. Wajahnya sangat serius, seolah benda yang dibawanya bukan makan siang melainkan dokumen rahasia negara. Rambutnya bergerak pelan tertiup angin, sementara kedua matanya mengarah tajam kepada Renji. Ia tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik, hanya berdiri dan menatap kakaknya seperti seorang petugas yang baru datang melakukan inspeksi.
Renji menahan senyum.
“Bento hari ini?”
Miyu mengangkat kotak tersebut sedikit.
“Operasi makan siang.”
“Namanya makin aneh.”
“Diam dan buka.”
Renji duduk tegak.
Miyu membuka tutup kotak bento dengan perlahan.
Di dalamnya tersusun nasi putih, dua potong karaage, sosis berbentuk gurita, tamagoyaki, dan beberapa potongan wortel yang dibentuk menyerupai bunga. Di atas nasi terdapat lembaran nori yang dipotong sangat tipis dan disusun membentuk tulisan.
Renji membaca.
JANGAN LIHAT CEWEK LAIN.
Ia menatap Miyu.
Miyu menyilangkan tangan.
“Pesan hari ini.”
“Bagus.”
“Bagus?”
“Komposisinya konsisten.”
Miyu mengerutkan kening.
“Itu pujian?”
“Lumayan.”
Renji mengambil sepotong karaage.
“Kalau setiap hari tulisannya makin panjang, nanti nasinya habis cuma buat nori.”
“Itu bukan masalah.”
“Buat anggaran belanja rumah, itu masalah.”
Miyu mendengus.
“Yang penting Onii-chan paham pesannya.”
Renji menggigit karaage.
“Paham.”
“Bagus.”
Miyu duduk di sebelahnya. Wajahnya masih mempertahankan ekspresi dingin, tetapi sudut bibirnya sedikit terangkat ketika Renji mengambil sosis gurita. Ia mungkin tidak pernah mengakuinya, tetapi ia memang senang ketika Renji menghabiskan bento yang dibuatnya.
Renji pun tahu itu.
Ia sudah lama mengetahui bahwa cara tercepat membuat Miyu merasa dihargai adalah memakan seluruh masakannya tanpa komentar yang terlalu berlebihan. Kalau ia memuji terlalu banyak, Miyu akan malu. Kalau ia mengkritik, Miyu akan mengancam. Jadi pilihan paling aman adalah makan dengan tenang sambil sesekali mengatakan bahwa rasanya enak.
Hari itu seharusnya berjalan seperti biasa.
Namun kemudian pintu atap kembali terbuka.
Miyu menoleh.
Renji berhenti mengunyah.
Aoi muncul dari balik pintu.
Ia membawa bento sendiri dan sebotol teh. Sepertinya ia baru saja selesai berbicara dengan seorang teman di koridor dan memutuskan makan di atap karena suasananya lebih tenang. Ketika melihat Renji, wajahnya langsung cerah.
“Oh, Renji.”
Renji mengangkat tangan.
“Pagi—eh, siang.”
Aoi tertawa kecil.
“Siang.”
Miyu langsung duduk lebih tegak.
Aura di sekelilingnya berubah.
Renji mengenalinya.
Mode pertahanan.
Aoi berjalan mendekat dan berhenti beberapa langkah dari mereka.
“Boleh ikut?”
Renji menggeser posisi.
“Tentu.”
Miyu memandangnya.
“Onii-chan.”
“Apa?”
“Kenapa langsung bilang boleh?”
“Karena ini atap sekolah, bukan wilayah kekuasaanmu.”
Miyu mendengus.
“...Terserah.”
Aoi duduk di sisi lain Renji. Ia membuka kotak bentonya sendiri, kemudian melirik bento Miyu yang masih terbuka.
Matanya berhenti.
“Oh?”
Miyu langsung menutup kotaknya setengah.
“Apa?”
“Bento kamu lucu.”
Miyu berkedip.
“...Lucu?”
Aoi menunjuk sosis gurita.
“Iya. Ini kamu yang buat?”
Miyu mengangguk kecil.
“Ya.”
“Wah, bagus.”
Miyu sedikit mengangkat dagu.
“Aku memang bisa masak.”
Renji menahan senyum.
Aoi kemudian melihat nasi.
Tulisan nori masih terlihat jelas.
JANGAN LIHAT CEWEK LAIN.
Aoi membacanya.
Lalu menatap Renji.
Kemudian kembali melihat Miyu.
“Pesannya juga unik.”
Miyu mengangkat dagu lebih tinggi.
“Itu peringatan.”
“Oh.”
Aoi mengangguk.
“Semangat sekali.”
Renji hampir tersedak.
Miyu menoleh cepat.
“Jangan ketawa, Onii-chan.”
“Aku nggak ketawa.”
“Wajahmu ketawa.”
Aoi tersenyum sambil mengambil sumpit.
Namun beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah sedikit.
Ia memperhatikan isi bento sekali lagi.
Wortel.
Tamagoyaki.
Karaage.
Sosis.
Nasi.
Kemudian matanya mencari sesuatu.
Miyu menyadarinya.
“Kenapa?”
Aoi menunjuk bagian dalam kotak.
“Sayur hijaunya mana?”
Miyu berkedip.
“Sayur?”
“Iya.”
“Tidak perlu.”
Aoi menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena Onii-chan tidak suka sayur pahit.”
Renji mengangkat tangan.
“Eh, jangan bawa-bawa aku.”
Miyu menunjuknya.
“Dulu Onii-chan pernah bilang brokoli rasanya seperti rumput.”
“Itu waktu SMP.”
“Berarti masih berlaku.”
“Tidak begitu juga.”
Aoi menahan tawa.
Kemudian ia kembali memperhatikan bento Miyu.
“Wortelnya sudah bagus. Ada protein dari ayam dan telur, karbohidrat dari nasi, tapi sayur hijaunya hampir tidak ada.”
Miyu memandang isi kotaknya.
“...Ada sedikit.”
“Mana?”
Miyu menunjuk sangat kecil.
“Di bawah sosis.”
Aoi mendekat.
Di sana hanya terdapat satu potongan kecil brokoli yang nyaris tertutup karaage.
Aoi menatapnya.