ImouKano: Imouto vs Kanojo

Diva Amane
Chapter #10

Patroli Kereta Yamanote Line

Sore itu, Tokyo sedang melakukan apa yang paling dikuasainya: bergerak tanpa menunggu siapa pun. Matahari sudah condong di balik deretan gedung, menyisakan cahaya jingga yang memantul pada kaca-kaca perkantoran dan jendela apartemen, sementara arus manusia mengalir menuju stasiun dari segala arah. Seragam sekolah bercampur dengan jas hitam, rok kerja, mantel tipis, ransel, tas laptop, dan kantong belanja; semuanya bergerak dengan tujuan masing-masing, tetapi pada jam seperti itu seluruh orang seakan menjadi bagian dari satu mesin besar yang tidak mengenal kata berhenti. Di tengah arus tersebut, Renji berjalan santai bersama dua orang teman sekelasnya menuju stasiun, satu tangan masuk ke saku jaket seragam, sementara tangan lainnya sesekali menunjuk arah toko buku yang hendak mereka datangi. “Kalau kita sampai sebelum enam, masih sempat lihat bagian light novel baru,” katanya. “Kalau telat, kalian jangan salahin gue kalau stok edisi terbatasnya habis.”

“Yang harusnya kita salahkan itu kamu,” sahut salah satu temannya. “Tadi masih sempat mampir beli taiyaki.”

“Energi untuk berjalan itu penting.”

“Alasanmu selalu masuk akal kalau urusannya makanan.”

Renji tertawa kecil. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa puluh meter di belakang mereka, seseorang sedang menjalankan operasi rahasia dengan tingkat keseriusan yang tidak sebanding dengan situasinya.

Miyu berdiri di dekat tiang penunjuk arah, mengenakan pakaian kasual yang menurutnya sangat efektif untuk menghilangkan identitas. Ia memakai jaket tipis berwarna gelap, celana panjang, sepatu sneakers, topi yang ditarik agak rendah hingga menutupi sebagian dahinya, serta kacamata hitam yang terlalu besar untuk wajahnya. Dari luar, penyamarannya mungkin hanya membuatnya terlihat seperti siswi SMA yang sedang berusaha tampil keren. Namun bagi Miyu, pakaian tersebut adalah perlengkapan operasi pengamanan keluarga. Tangannya memegang ponsel yang layarnya menampilkan catatan rute, sementara di dalam tas selempangnya terdapat buku kecil yang sudah penuh dengan tulisan tangan, beberapa permen, tisu, charger portabel, dan sebuah alat pelacak sinyal yang seharusnya tidak pernah dibawa ke tempat umum. Miyu mengintip dari balik tiang, memastikan sosok Renji masih terlihat di ujung lorong.

“Target bergerak menuju stasiun,” gumamnya pelan. “Dua orang saksi bersama target. Tidak ada indikasi ancaman langsung. Namun tujuan target adalah toko buku. Toko buku adalah tempat yang penuh dengan manusia. Manusia berarti kemungkinan bertemu perempuan. Kemungkinan bertemu perempuan berarti risiko meningkat.”

Ia menyesuaikan kacamata hitamnya.

“Kesimpulan: pengawalan diperlukan.”

Di layar ponselnya, ia membuka sebuah catatan yang diberi nama dengan huruf kapital: OPERASI PENGAWALAN ONII-CHAN — MODE KERETA.

Di bawahnya sudah ada beberapa poin.

Jarak aman: 10–20 meter.

Jangan terlihat.

Jangan memanggil Onii-chan.

Jangan membuat kontak mata terlalu lama.

Jika ada perempuan mencurigakan mendekati target, lakukan intervensi.

Miyu mengangguk puas.

Semuanya sempurna.

Setidaknya sampai ia harus menghadapi kereta komuter.

Stasiun sore hari memiliki suara yang berbeda dari pagi. Pengumuman otomatis terdengar berselang-seling dari pengeras suara, langkah kaki beradu dengan lantai, suara pintu tiket terbuka dan tertutup, sementara dari jalur lain terdengar dengungan kereta yang baru saja masuk. Renji dan kedua temannya melewati gerbang tiket, kemudian berjalan menuju peron Yamanote Line. Miyu mengikuti dari belakang dengan jarak yang menurutnya ideal. Ia sesekali berhenti ketika Renji berhenti, berpura-pura melihat papan iklan ketika Renji menoleh, lalu bergerak kembali ketika target melanjutkan perjalanan.

Untuk beberapa menit, operasi berjalan sempurna.

Miyu bahkan mulai merasa percaya diri.

“Begitu mudah.”

Ia berdiri di belakang seorang pria yang sedang membaca berita dari ponselnya, mengintip dari sisi bahunya. Renji berada sekitar lima belas meter di depan, sama sekali tidak menyadari keberadaannya. Miyu menyeringai kecil di balik masker kain tipis yang dikenakannya.

“Onii-chan tidak akan pernah sadar.”

Sebenarnya Renji sudah sadar sejak mereka meninggalkan rumah.

Ia mengenali sneakers Miyu. Ia juga mengenali cara adiknya berjalan dengan bahu sedikit ditegangkan ketika sedang merasa seperti agen rahasia. Bahkan kacamata hitam yang terlalu besar itu adalah kacamata murah yang dibeli Miyu di sebuah toko aksesori beberapa minggu sebelumnya. Renji hanya memilih tidak membongkar penyamarannya karena ia tahu satu hal yang lebih menyenangkan daripada menghentikan Miyu.

Melihat sejauh mana operasi bodohnya berkembang.

“Renji,” kata temannya sambil menunjuk papan elektronik, “keretanya dua menit lagi.”

“Oke.”

Renji menoleh sekilas ke belakang.

Di antara kerumunan, ia melihat dua lensa hitam besar yang langsung bergerak menjauh dari pandangannya.

Renji menahan senyum.

“Dia benar-benar ikut.”

“Apa?”

“Bukan apa-apa.”

Di sisi lain peron, Miyu langsung menunduk.

“Hampir ketahuan.”

Ia mengusap dadanya sendiri. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena rasa takut, melainkan karena kegembiraan aneh seorang anak yang merasa berhasil menyusup ke wilayah musuh tanpa terdeteksi. Ia melihat papan jadwal, kemudian memeriksa kembali catatannya.

Tahap dua: naik kereta yang sama.

Posisi ideal: gerbong sebelah atau dua pintu dari target.

Miyu mengangguk.

“Kalau aku bisa menjaga jarak, Onii-chan bahkan tidak akan tahu aku ada.”

Suara kedatangan kereta terdengar dari pengeras suara. Angin mulai bergerak di sepanjang peron, disusul bunyi gesekan roda dan rel yang semakin jelas. Orang-orang yang tadinya tersebar mulai berkumpul mendekati garis antrean. Miyu ikut bergerak maju, matanya tetap mengunci posisi Renji.

Kereta Yamanote Line masuk perlahan.

Pintu-pintu berhenti tepat di depan barisan penumpang.

Lampu indikator menyala.

Pintu terbuka.

Dan pada detik berikutnya, Miyu menyadari bahwa rencana manusia bisa kalah telak oleh hukum fisika.

“Eh?”

Gelombang manusia bergerak.

Bukan berjalan.

Bukan berlari.

Mendorong.

Miyu sempat mengangkat satu tangan untuk menahan tubuhnya sendiri.

“Eh, tunggu—”

Seseorang di belakangnya bergerak maju karena barisan di belakang juga bergerak. Orang di depannya masuk ke gerbong. Miyu ikut terdorong. Bahunya menyentuh seseorang, lalu punggungnya menyentuh sisi pintu.

“Sebentar!”

Ia mencoba berhenti.

Tidak bisa.

Ada terlalu banyak orang.

Dalam waktu kurang dari dua detik, tubuh kecil Miyu terseret bersama arus penumpang dan masuk ke gerbong.

“ONII—”

Ia menutup mulut sendiri sebelum nama itu keluar.

Miyu menoleh panik.

Renji tidak ada.

Gerbong tempatnya berdiri berbeda.

Pintu di antara gerbong terbuka, tetapi jaraknya sudah dipenuhi orang. Di luar jendela, Renji terlihat beberapa meter jauhnya, baru saja masuk ke gerbong sebelah bersama teman-temannya.

Miyu membelalakkan mata.

“Tidak.”

Pintu mulai berbunyi.

“Tidak, tidak, tidak.”

Ia mencoba bergerak ke arah pintu.

Tidak ada ruang.

Seorang pria berkemeja putih berdiri di depannya. Di sampingnya ada pekerja kantoran perempuan yang memegang tas tangan. Di belakang Miyu ada dua orang pria dengan tas kerja. Semua orang berdiri rapat, sebagian memegang pegangan atas, sebagian lagi bertumpu pada tiang.

Miyu mencoba bergeser ke kiri.

Tidak bisa.

Ke kanan.

Lebih tidak bisa.

Ia menatap pintu yang perlahan menutup.

“Jangan tutup.”

Pintu menutup.

Kereta bergerak.

Miyu membeku.

Beberapa detik kemudian, ia melihat bayangan dirinya sendiri pada kaca jendela: topi miring, kacamata hitam turun sedikit, rambut keluar dari sisi topi, pipi terjepit di antara kerumunan manusia.

Ia berkedip.

Operasi pengawalan baru saja berubah menjadi operasi bertahan hidup.

“Ini bukan bagian dari rencana…”

Kereta semakin cepat meninggalkan stasiun. Miyu berusaha mengambil ponselnya, tetapi bahkan mengangkat tangan saja membutuhkan perjuangan. Tas selempangnya terjepit di antara tubuh orang lain. Ia akhirnya berhasil mengeluarkan ponsel dengan satu tangan.

Layar menyala.

Sinyal target: TERDETEKSI.

Miyu langsung lega.

“Bagus.”

Ia membuka aplikasi pelacak.

Titik Renji masih terlihat.

Tapi titik itu bergerak di sisi yang berbeda dari gerbongnya.

Miyu menatap layar.

Kemudian menatap pintu antar-gerbong.

Kemudian kembali menatap layar.

“Jarak… enam meter.”

Ia mengembuskan napas lega.

“Masih dekat.”

Ia mencoba mendekat.

Satu langkah.

Tidak bisa.

Ia mencoba lagi.

Tubuhnya bahkan tidak bergeser setengah sentimeter.

“Permisi…”

Tidak ada yang mendengar.

“Permisi…”

Ia mencoba mengangkat tangan.

Tangannya hanya berhasil naik beberapa sentimeter sebelum terhenti oleh bahu orang lain.

Miyu mulai berkeringat.

“Aku harus pindah gerbong.”

Kereta berguncang ketika memasuki tikungan.

Tubuh Miyu ikut bergoyang bersama semua orang.

Kepalanya hampir membentur bahu pria di depannya.

“Uwah!”

Pria tersebut refleks bergeser sedikit.

“Maaf.”

“Ah, iya…”

Miyu menunduk.

Kemudian menyadari sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Kacamata hitamnya turun.

Ia buru-buru membetulkannya.

Di dalam kepalanya, alarm berbunyi.

PENYAMARAN TERANCAM.

Ia menoleh ke jendela.

Dan tepat pada saat itu, Renji muncul.

Bukan di dalam gerbongnya.

Lihat selengkapnya