Seminggu menjelang ujian tengah semester, suasana SMA yang biasanya dipenuhi suara langkah kaki, teriakan anak klub, dan obrolan tanpa arah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih muram. Di papan pengumuman dekat tangga, jadwal ujian ditempel dengan huruf besar, lengkap dengan daftar mata pelajaran yang akan diujikan setiap hari. Bahkan lorong lantai tiga yang biasanya menjadi wilayah nyaman bagi Renji dan teman-temannya kini terasa seperti ruang tunggu sebelum eksekusi, dipenuhi siswa yang berjalan sambil membuka buku referensi atau menggumamkan rumus dari catatan kecil. Dari beberapa ruang kelas terdengar suara guru yang memberikan pengingat terakhir tentang materi, sedangkan di sudut-sudut koridor, murid-murid saling bertanya, “Bab ini keluar, nggak?” seolah jawaban temannya bisa menentukan nasib mereka. Bagi Renji, semua itu cukup melelahkan, tetapi belum sampai membuatnya kehilangan nafsu makan.
Justru sebaliknya.
“Ujian tengah semester itu memang penting,” kata Renji sambil berjalan santai menuju tangga setelah jam pelajaran selesai. “Tapi otak juga butuh nutrisi.”
Temannya yang berjalan di sampingnya menoleh.
“Lima menit lalu kamu bilang otakmu butuh tidur.”
“Itu juga nutrisi.”
“Bukan begitu cara kerja nutrisi.”
Renji terkekeh. Ia memasukkan buku pelajaran ke dalam tas tanpa benar-benar memeriksa apakah semuanya sudah masuk. Hari itu kelas 3-A mendapatkan waktu belajar mandiri sebelum jam makan siang, dan sebagian besar siswa memanfaatkannya untuk membuka buku. Renji sebenarnya juga belajar, hanya saja definisi belajarnya sedikit berbeda dari teman-temannya. Ia membaca materi, memahami bagian yang belum dikuasai, lalu berhenti sebelum kepalanya terlalu penuh. Baginya, memaksakan diri menghafal selama berjam-jam justru membuat materi bercampur menjadi satu. Namun ada satu hal yang benar-benar membuatnya penasaran hari itu.
Seberapa jauh Miyu akan panik kalau ia menyebut nama Aoi?
Renji melihat ke bawah dari balkon koridor lantai tiga.
Di lantai dua, beberapa siswa kelas 2 sedang keluar masuk ruang kelas. Di antara mereka, ia mengenali seseorang dengan rambut yang sudah sangat dikenalnya. Aoi sedang membawa beberapa buku menuju ruang guru, langkahnya tenang seperti biasa. Bahkan dari jarak sejauh itu, Renji bisa mengenali cara Aoi berjalan yang tidak pernah terburu-buru. Ia sempat tersenyum kecil sebelum mengalihkan pandangan.
Lalu ia melihat sosok lain.
Miyu.
Adiknya sedang berdiri di ujung tangga lantai dua, memegang buku pelajaran dengan kedua tangan, tetapi matanya sama sekali tidak tertuju pada buku tersebut.
Tatapannya mengarah ke Renji.
Renji tersenyum.
Ah.
Ada mangsa yang tepat.
Ia menunggu sampai Miyu naik beberapa anak tangga lagi.
“Onii-chan.”
“Hmm?”
“Kamu belum belajar?”
“Sudah.”
“Berapa lama?”
“Lumayan.”
Miyu menyipitkan mata.
“Jawaban macam apa itu?”
“Jawaban orang yang sudah belajar.”
Miyu mendengus. Ia naik sampai ke lantai tiga dan berjalan di samping Renji. Hari itu rambutnya diikat sederhana, seragamnya rapi, dan tas sekolahnya terlihat sedikit lebih berat daripada biasanya karena buku-buku ujian. Ia tampak seperti siswi biasa yang sedang serius menghadapi ujian.
Hanya saja, Renji tahu lebih baik.
Kalau menyangkut dirinya, Miyu tidak pernah benar-benar biasa.
“Matematika besok, kan?” tanya Miyu.
“Iya.”
“Bahasa Jepang juga.”
“Iya.”
“Fisika.”
“Iya.”
Miyu mengangguk pelan.
“Kalau begitu jangan malas.”
Renji menahan senyum.
“Siapa yang malas?”
“Kamu.”
“Bukti?”
“Tadi waktu guru bilang belajar mandiri, kamu malah menggambar sesuatu di buku.”
“Itu bukan gambar.”
“Terus?”
“Diagram.”
“Diagram kenapa ada wajah kelinci?”
“Diagram kelinci.”
Miyu menatapnya beberapa detik dengan ekspresi datar.
“Onii-chan memang aneh.”
“Terima kasih.”
“Itu bukan pujian.”
Mereka berjalan melewati beberapa siswa kelas tiga yang sedang belajar di dekat jendela. Renji membuka tasnya, mengambil buku matematika, lalu menghela napas panjang seolah baru saja menyadari masalah yang sangat berat dalam hidupnya.
“Kayaknya aku butuh tutor.”
Miyu tidak langsung menjawab.
Renji sengaja menatap halaman buku.
“Kalau sendiri susah juga. Mungkin kalau ada yang ngajarin langsung lebih cepat masuk.”
Miyu masih diam.
Renji menambahkan, dengan volume suara sedikit lebih tinggi daripada sebelumnya.
“Kayaknya aku bisa minta bantuan Aoi.”
Langkah Miyu berhenti.
Renji terus berjalan tiga langkah sebelum ikut berhenti.
Ia tidak perlu menoleh untuk tahu apa yang sedang terjadi.
Di belakangnya, udara mendadak terasa lebih dingin.
“Onii-chan.”
Suara Miyu rendah.
Renji menoleh perlahan.
Miyu berdiri dengan wajah pucat.
“Apa?”
“Barusan kamu bilang apa?”
“Aku bilang aku butuh tutor.”
“Setelah itu?”
“Mungkin aku minta bantuan Aoi.”
Mata Miyu melebar.
“Tidak.”
Renji pura-pura bingung.
“Kenapa?”
“Tidak boleh.”
“Kenapa?”
“Pokoknya tidak boleh.”
Renji mengangkat alis.
“Bukannya Aoi memang pintar?”
“Bukan masalah pintar.”
“Terus?”
Miyu mendekat satu langkah.
“Dia kelas dua.”
“Iya.”
“Kamu kelas tiga.”
“Iya.”
“Kalian berdua bisa belajar.”
“Bisa.”
“Berduaan.”
Renji mengangguk.
Miyu menarik napas dalam-dalam.
“Itu masalahnya.”
Renji hampir tertawa.
Ia tahu persis apa yang ada di kepala adiknya. Bukan karena ia tidak percaya kepada Aoi. Justru sebaliknya, Miyu sudah terlalu tahu bahwa Aoi adalah tipe orang yang bisa membuat Renji betah berlama-lama tanpa sadar. Belajar bersama berarti duduk berdekatan, saling memeriksa catatan, mungkin berbagi makanan, mungkin Aoi membawa bento kecil atau kue, dan dalam skenario paling buruk menurut Miyu, Renji bisa pulang dengan wajah bahagia karena menghabiskan waktu bersama pacarnya.
Miyu tidak sanggup membiarkan kemungkinan itu.
“Onii-chan.”
“Hm?”
“Aku bisa bantu.”
“Kamu kelas satu.”
“Aku bisa belajar.”
“Materinya beda.”
“Aku bisa belajar materi kelas tiga.”
“Dalam waktu seminggu?”
Miyu terdiam.
Renji menahan senyum.
“Selain itu, kamu sendiri punya ujian.”
“Aku tetap bisa.”
“Kalau begitu kamu mau belajar bersamaku?”
Miyu langsung mengangguk.
“Bisa.”
“Serius?”
“Serius.”
“Berarti kamu akan duduk di sampingku sampai selesai?”
“Iya.”
“Tidak boleh tidur?”
“Tidak.”
“Tidak boleh marah kalau aku salah?”
Miyu mengerutkan dahi.
“Kalau Onii-chan salah, ya aku marahi.”
“Berarti tidak cocok.”
“Kenapa?”
“Karena tutor harusnya membuat murid nyaman.”
Miyu membuka mulut, kemudian menutupnya lagi.
Renji hampir tertawa.
Ia melihat adiknya sedang berpikir keras.
Kemudian sebuah ide muncul.
Sebenarnya ide itu sangat sederhana.
Sederhana, kejam, dan sangat efektif.
Renji memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
“Begini saja.”
Miyu menatapnya waspada.
“Apa?”
“Aku tidak akan minta bantuan Aoi.”
Mata Miyu langsung sedikit berbinar.
“Benarkah?”
“Kalau…”
Renji berhenti sebentar.
Miyu menyipitkan mata.
“Kalau apa?”
“Kamu membelikanku roti parfait dari kantin.”
Miyu terdiam.
“Roti parfait?”
Renji mengangguk.
“Yang mahal itu.”
Miyu menatapnya seperti baru saja mendengar permintaan tebusan.
“Yang isi krim, custard, buah, dan cokelat itu?”
“Iya.”
“Itu mahal.”
“Makanya.”
“Kamu sengaja, ya?”
“Tidak.”
“Bohong.”