Musim hujan membuat sore di sekitar stasiun terasa lebih cepat gelap daripada biasanya. Awan kelabu menggantung rendah di antara gedung-gedung pertokoan, dan permukaan trotoar memantulkan cahaya papan nama toko serta lampu kendaraan yang mulai menyala satu per satu. Gerimis turun tipis sejak beberapa menit lalu, belum cukup deras untuk membuat orang-orang membuka payung secara tergesa-gesa, tetapi cukup untuk meninggalkan titik-titik air di rambut dan bahu pakaian. Udara yang biasanya masih menyimpan sisa hangat setelah siang perlahan berubah dingin, terutama di sela bangunan yang dilalui angin dari arah jalan. Di salah satu sudut dekat stasiun, sebuah kafe kopi kecil dengan jendela lebar menghadap trotoar menjadi tempat beberapa siswa berlindung dari cuaca.
Di meja dekat jendela, Renji—yang seharusnya sibuk mengejar materi persiapan ujian akhir kelas tiga—duduk pasrah di hadapan Aoi. Buku pelajaran tingkat lanjut dan lembaran soal kelulusan milik Renji terbuka lebar di antara mereka. Aoi, adik tingkatnya yang masih duduk di kelas dua, memegang pensil mekanis dengan jemari yang tenang. Kepintarannya yang melampaui angkatannya membuat batas tingkatan kelas seolah tak berlaku; ia membaca instruksi soal kelas tiga itu tanpa ragu sedikit pun. Sementara Renji bersandar di kursinya dengan ekspresi lelah, Aoi menunjuk satu baris persamaan, menjelaskan langkah penyelesaiannya dengan intonasi runtut khas seorang tutor berpengalaman. Renji mengangguk dan menambahkan catatan kecil. Di atas meja, dua cangkir minuman hangat mulai mendingin, di samping sepiring kecil kue yang sejak tadi lebih sering disentuh Renji daripada pulpennya.
“Kalau bagian persamaan ini kita bedah,” kata Aoi sambil mengetuk ujung pensilnya di atas kertas latihan Renji, “aku jelaskan rumusan intinya dulu, baru Kakak tulis ulang kesimpulannya pakai bahasa sendiri.”
“Bisa.”
“Jangan cuma bilang bisa.”
“Aku memang bisa... kalau dibantu kamu.”
“Terakhir bilang, waktu persiapan try out minggu lalu cuma mandangin kertas kosong selama sepuluh menit.”
“Itu namanya strategi menenangkan pikiran.”
“Itu namanya pasrah sebelum bertanding.”
Renji tersenyum.
Aoi menghela napas kecil, tetapi sudut bibirnya ikut terangkat.
“Makanya sekarang dikerjakan. Kan sudah kelas tiga, sebentar lagi ujian kelulusan.”
“Iya, Bu.”
Aoi mengangkat alis.
“Siapa yang Bu?”
“Adik kelas ajaib yang ngomelin seniornya sendiri supaya belajar.”
“Kalau begitu jangan panggil Bu. Aku ini adik tingkatmu, belum setua itu.”
“Baik, Sensei.”
“Malah makin parah.”
Renji tertawa pelan, sementara di luar jendela, gerimis perlahan berubah menjadi hujan deras.
Di balik kaca jendela, kehidupan sore berjalan seperti biasa. Orang-orang keluar dari stasiun dengan payung transparan, beberapa berlari kecil menuju halte, sementara yang lain berhenti sebentar di bawah kanopi toko untuk memeriksa ponsel. Sesekali lampu kereta yang melintas terlihat di kejauhan di antara gedung-gedung, kemudian menghilang di balik deretan bangunan.
Renji tidak melihat seseorang yang sejak tadi berada di luar.
Seseorang yang sudah berdiri di sana cukup lama sampai jaketnya mulai lembap.
Miyu.
Ia berdiri di balik sebuah pohon yang ditanam di sisi trotoar, mengenakan jaket tipis, rok seragam, dan tudung yang ditarik menutupi sebagian kepala. Kedua tangannya memegang tali tas dengan erat. Dari balik batang pohon, hanya sebagian wajahnya yang terlihat ketika ia mengintip ke arah jendela kafe.
Di sana ada Renji.
Dan Aoi.
Duduk berhadapan.
Membaca buku.
Bersama.
Miyu menyipitkan mata.
“Seperti yang kuduga.”
Ia mengeluarkan ponsel dari saku dan membuka catatan.
Target: Onii-chan.
Lokasi: Kafe dekat stasiun.
Ancaman: Aoi.
Aktivitas: Belajar bersama.
Miyu menambahkan satu baris.
Status: terlalu dekat.
Ia memasukkan ponsel kembali.
Dari tempatnya berdiri, Miyu bisa melihat Renji sesekali tersenyum kepada Aoi. Ia bahkan sempat melihat Aoi mendorong piring kue sedikit lebih dekat kepada Renji.
Mata Miyu langsung berubah tajam.
“Kue juga…”
Ia merapatkan tubuh ke batang pohon.
“Jelas-jelas ini jebakan.”
Padahal di dalam kafe, tidak ada satu pun jebakan.
Aoi hanya merasa Renji belum makan camilan.
Miyu menatap terus.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Lima belas menit.
Gerimis yang tadinya begitu tipis mulai terasa lebih dingin. Titik-titik air menempel di ujung rambut Miyu, lalu perlahan turun ke sisi wajahnya. Jaketnya mulai lembap di bagian bahu. Ia menggigil sekali, tetapi langsung memeluk dirinya sendiri dan memaksa tubuhnya kembali tegak.
“Tidak apa-apa.”
Ia menggosok kedua tangannya.
“Sedikit dingin.”
Beberapa detik kemudian, ia menggigil lagi.
Kali ini lebih kuat.
Miyu mengatupkan gigi.
“Tidak apa-apa.”
Matanya kembali ke jendela.
Renji sedang menulis.
Aoi membungkuk sedikit untuk melihat catatannya.
Miyu langsung mengerutkan dahi.
“Kenapa harus sedekat itu?”
Ia melangkah setengah langkah ke depan.
Angin dingin melewati sela gedung.
Miyu kembali menggigil.
Ia tahu seharusnya ia pulang. Ia tahu berdiri di luar dalam kondisi seperti itu tidak masuk akal. Namun ada sesuatu dalam dirinya yang terus menolak bergerak. Kalau ia pergi, siapa yang akan mengawasi Renji? Kalau Aoi mengajak Renji berlama-lama di dalam kafe, siapa yang memastikan mereka benar-benar hanya belajar?
Miyu memandang kedua sosok itu melalui kaca.
“Aku cuma akan memastikan.”
Ia menarik tudung lebih rendah.
“Setelah itu pulang.”
Lima menit kemudian, ia masih di sana.
Sepuluh menit kemudian, masih.
Dua puluh menit kemudian, ia sudah tidak lagi yakin apakah jari-jarinya masih terasa.
Di dalam kafe, Renji menutup buku sebentar.
“Kayaknya dingin.”
Aoi menatapnya.
“Dingin?”
“Iya.”
Ia melihat ke arah jendela.
Gerimis sudah sedikit lebih rapat.
Aoi mengangguk.
“Musim hujan memang begitu.”
Ia menarik lengan bajunya sedikit.
“Minum dulu.”
Renji mengangkat cangkir.
“Kamu nggak dingin?”
“Sedikit.”
“Kalau begitu kita selesaiin bagian ini, habis itu pulang.”
Aoi tersenyum.
“Oke.”
Renji kembali menulis.
Namun Aoi tidak langsung melihat kertas.
Matanya justru tertahan pada pantulan kaca.
Di antara pantulan lampu kafe dan bayangan orang-orang di trotoar, ada sesuatu yang tidak sesuai dengan pemandangan sekitarnya.
Sebuah siluet kecil di balik pohon.
Aoi menyipitkan mata.
Ia memiringkan kepala sedikit.
Kemudian melihat lagi.
Rambut.
Tudung.
Bentuk tubuh.
Dan sepasang mata yang seketika berusaha bersembunyi ketika Aoi menatap ke arah tersebut.
Aoi terdiam.
“…”
Renji masih menulis.
“Aoi?”
“Hm?”
“Kamu kenapa?”
Aoi tidak menjawab langsung.
Ia kembali melihat pantulan kaca.
Sosok itu masih ada.
Aoi akhirnya mengenalinya.
Miyu.
Aoi menoleh kepada Renji.
“Renji.”
“Hm?”
“Adikmu di luar.”
Pensil Renji berhenti.
“…Apa?”
Aoi menunjuk kaca dengan gerakan kecil.
Renji menoleh.
Ia langsung melihat.
Di balik pohon, Miyu sedang berusaha keras membuat dirinya tidak terlihat.
Renji berkedip.
Kemudian menutup mulut.
“Serius?”
Aoi mengangguk.
“Sepertinya sudah cukup lama.”
Renji melihat kondisi di luar.
Kemudian wajahnya berubah.
“Dia kehujanan?”
“Kelihatannya.”
Renji hendak berdiri.
Namun Aoi lebih cepat.
“Biar aku.”
“Aoi?”
Aoi sudah mengambil payung yang disandarkan di dekat pintu.
“Dia pasti nggak mau masuk kalau kamu yang memanggil.”
Renji menghela napas.
“Benar juga.”
Aoi mengenakan jaket tipisnya, membuka payung, lalu keluar dari kafe.
Bel kecil di atas pintu berbunyi.
Miyu sama sekali tidak menyadarinya.
Ia masih mengintip dari balik pohon.
“Kalau mereka keluar sekarang, aku harus pindah ke sebelah…”
“Miyu.”
Tubuh Miyu membeku.
Suara itu datang dari belakang.
Perlahan ia menoleh.
Aoi berdiri di sana dengan payung terbuka.
Rambutnya terlindung dari gerimis, sementara satu tangan memegang gagang payung. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan. Tidak ada ekspresi curiga. Tidak ada tatapan tajam seperti yang selama ini Miyu bayangkan jika penyamarannya terbongkar.
Justru Aoi terlihat khawatir.
Miyu langsung panik.
“A-Aku…”
Aoi mendekat.
“Kamu berdiri di sini dari tadi?”
“Tidak.”
“Bohong.”
“Aku baru datang.”
“Rambutmu basah.”
Miyu menyentuh rambutnya.
“Ini cuma sedikit.”
“Bahu jaketmu juga basah.”
“Gerimis.”
“Dan tanganmu dingin.”
Miyu langsung menarik tangannya.
“Aku baik-baik saja.”
Aoi menatapnya beberapa detik.
Kemudian menghela napas.
“Miyu.”
Nada suaranya lembut.
Justru itu yang membuat Miyu lebih gugup.
“Jangan berdiri di luar seperti ini.”
“Aku cuma…”
Miyu menelan ludah.
Ia seharusnya mengatakan sesuatu yang mengintimidasi.
Sesuatu seperti, Aku mengawasi kalian.
Atau, Jangan macam-macam dengan Onii-chan.
Atau setidaknya, Aku tidak akan membiarkan kalian berduaan.
Tetapi kata-kata tersebut terasa sulit keluar ketika Aoi berdiri di depannya sambil memegang payung agar seluruh tubuh Miyu terlindung dari hujan.