ImouKano: Imouto vs Kanojo

Diva Amane
Chapter #13

Sabotase Kencan Akhir Pekan

Minggu siang di Harajuku selalu punya cara sendiri untuk membuat Renji merasa bahwa keputusan keluar rumah adalah sebuah kesalahan yang terlambat untuk dibatalkan. Jalanan di sekitar pusat perbelanjaan dipenuhi anak muda, pasangan, kelompok teman, dan turis yang bergerak dalam arus yang tidak pernah benar-benar berhenti. Papan nama toko berwarna-warni bertumpuk di sepanjang jalan, aroma crepe hangat bercampur dengan wangi kopi dari kafe-kafe kecil, sementara suara musik dari toko pakaian sesekali menyusup di antara percakapan orang-orang. Di tengah keramaian itu, Renji berjalan berdampingan dengan Aoi, sesekali melirik gadis di sebelahnya yang tampak jauh lebih santai menghadapi suasana ramai tersebut. Untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu terakhir yang selalu dipenuhi sekolah, ujian, kegiatan kelas, dan tentu saja pengawasan adiknya yang tidak mengenal hari libur, mereka akhirnya punya kesempatan untuk berjalan-jalan berdua.

"Jadi, kita mulai dari mana?" tanya Aoi sambil memiringkan kepala. Tangannya memegang tali tas kecil yang tergantung di bahu, sementara rambutnya bergerak pelan tertiup angin yang menyusuri lorong di antara gedung. "Katanya hari ini aku boleh pilih tempat."

"Kalau aku bilang terserah, nanti kamu bilang aku nggak punya pendapat."

"Aku nggak akan bilang begitu."

"Kalau aku bilang mau ke toko buku?"

"Ya, kita ke toko buku."

"Kalau habis itu mau makan?"

"Kita makan."

"Kalau setelah makan aku mau pulang?"

Aoi tersenyum.

"Itu namanya bukan kencan."

Renji tertawa kecil. "Nah, ketahuan."

Ada sesuatu yang sederhana dari percakapan itu, tetapi justru karena sederhana, Renji merasa nyaman. Tidak ada suara langkah kaki yang sengaja berlari mengejar dari belakang. Tidak ada kepala yang tiba-tiba muncul dari balik tiang. Tidak ada tatapan tajam dari ujung koridor. Tidak ada suara, "Onii-chan!" yang disusul tuduhan bahwa seorang gadis telah mencoba menculik kakaknya. Hanya dirinya dan Aoi, berjalan tanpa tujuan yang terlalu ketat di tengah keramaian Minggu siang. Renji bahkan sempat berpikir bahwa mungkin hari ini benar-benar akan menjadi hari normal.

Pikiran itu bertahan selama kira-kira tiga menit.

Di belakang mereka, sekitar dua puluh meter dari trotoar yang sedang mereka lewati, sebuah sosok kecil berjalan dengan langkah yang terlalu hati-hati untuk disebut santai. Miyu mengenakan jaket tipis dengan tudung yang dinaikkan menutupi sebagian kepalanya. Masker menutupi wajah bagian bawah, sementara kedua tangannya menggenggam tali tas dengan erat. Ia berjalan mengikuti ritme kerumunan, sesekali berhenti ketika Renji dan Aoi berhenti, lalu berpindah sisi jalan ketika mereka berbelok. Dari kejauhan, penampilannya mungkin terlihat seperti siswi yang sedang menikmati akhir pekan sendirian. Hanya saja, siswi normal tidak biasanya membawa buku catatan kecil berisi tulisan tangan yang memenuhi hampir seluruh halaman.

Operasi Sabotase Kencan Akhir Pekan.

Miyu menatap punggung kakaknya yang berjalan santai bersama Aoi, lalu mencoret satu baris di catatannya.

Target: Renji.

Pendamping target: Aoi.

Status: Terlalu dekat.

Tujuan: Menghentikan kencan.

Ia menatap mereka lagi.

Aoi sedang menunjuk sesuatu di etalase toko. Renji ikut menoleh, kemudian tersenyum dan mengatakan sesuatu yang tidak terdengar dari tempat Miyu berdiri. Aoi tertawa kecil. Senyum itu membuat alis Miyu langsung berkerut.

"Berbahaya."

Ia menulis satu kalimat lagi.

Aoi semakin nyaman. Ancaman meningkat.

Miyu memasukkan buku catatan itu ke tas. Ia sudah mempersiapkan semuanya sejak pagi. Tidak ada alat pelacak kali ini karena Renji sudah mulai curiga dengan benda-benda elektronik yang tiba-tiba berbunyi di kamarnya. Tidak ada penyamaran kardus karena Harajuku bukan lingkungan yang cocok untuk membawa kotak besar sambil mengikuti seseorang. Tidak ada spatula kayu karena ibunya telah mengancam akan menyita seluruh koleksi peralatan dapur jika satu pun benda rumah tangga dibawa keluar lagi untuk operasi pengamanan Onii-chan.

Jadi hari ini Miyu memilih metode yang lebih sederhana.

Mengikuti mereka.

Dan kalau memungkinkan, menyisipkan dirinya ke dalam setiap aktivitas sampai kencan itu kehilangan seluruh maknanya.

"Kalau mereka mau makan, aku juga makan."

Miyu mengepalkan tangan kecilnya.

"Kalau mereka mau belanja, aku juga belanja. Kalau mereka mau jalan-jalan berdua, aku akan memastikan mereka tidak pernah benar-benar berdua."

Ia berhenti sejenak.

"...Ini bukan cemburu."

Seorang pria yang berjalan di sampingnya menoleh karena mendengar gumamannya. Miyu langsung menunduk dan berpura-pura memeriksa ponsel.

"Ini operasi perlindungan keluarga."

Pria itu segera berjalan lebih cepat.

Miyu tidak memperhatikan.

Targetnya sudah masuk ke sebuah pusat perbelanjaan.

Ia langsung mengikuti.

Beberapa lantai di dalam pusat perbelanjaan itu terasa jauh lebih tenang dibandingkan jalanan Harajuku. Musik latar terdengar lembut dari pengeras suara, aroma parfum dari toko kosmetik bercampur dengan wangi pakaian baru, dan eskalator bergerak naik turun membawa pengunjung dari satu lantai ke lantai lainnya. Renji berjalan di samping Aoi sambil melihat peta kecil yang terpampang di dekat eskalator.

"Katanya ada kafe parfait di lantai atas."

"Parfait?"

Aoi langsung menoleh.

"Iya."

"Yang buahnya banyak itu?"

"Kurasa."

Mata Aoi sedikit berbinar. "Aku mau."

Renji tersenyum melihat reaksinya. "Cepat banget setujunya."

"Karena parfait enak."

"Alasan yang sangat kuat."

"Aku nggak pernah bilang punya alasan lain."

Mereka menaiki eskalator. Renji berdiri satu langkah di depan Aoi, lalu sesekali menoleh memastikan gadis itu tidak tertinggal karena arus orang yang cukup padat. Begitu sampai di lantai tujuan, papan kecil bertuliskan nama kafe parfait langsung terlihat di ujung lorong. Kafe itu memiliki kaca lebar di bagian depan, dengan interior bernuansa cerah dan meja-meja kecil yang dipenuhi pengunjung muda. Di balik kaca, berbagai parfait tinggi dengan lapisan es krim, buah, krim kocok, saus, dan sereal tampak seperti menara kecil berwarna-warni.

Aoi berhenti.

"Renji."

"Hm?"

"Itu."

"Aku tahu."

"Itu."

"Iya, aku lihat."

"Itu parfait stroberi."

"Makanya aku bawa kamu ke sini."

Aoi menatapnya dengan wajah senang.

"Terima kasih."

Renji tiba-tiba merasa telinganya sedikit panas.

"Santai."

Mereka masuk ke dalam kafe.

Pelayan mengantar mereka menuju meja untuk dua orang di dekat jendela. Renji menarik kursi untuk Aoi sebelum duduk di seberangnya. Aoi mengambil menu dan mulai membukanya. Ada banyak pilihan parfait dengan ukuran yang hampir tidak masuk akal untuk sebuah makanan penutup. Parfait stroberi, cokelat, matcha, mangga, tiramisu, bahkan parfait musiman dengan berbagai lapisan buah.

"Yang ini kelihatannya enak."

Aoi menunjuk gambar parfait stroberi berukuran tinggi.

Renji mengangguk. "Ambil."

"Serius?"

"Kan hari ini aku yang traktir."

"Kalau begitu aku pilih yang paling mahal."

"Kamu ternyata jahat juga."

Aoi tertawa.

"Kalau begitu yang ini."

Renji mengambil menu miliknya sendiri. Namun sebelum sempat membacanya, ia melihat sesuatu bergerak di balik menu Aoi.

Awalnya hanya sepasang mata.

Kemudian rambut.

Lalu seluruh kepala kecil yang perlahan muncul dari balik lembaran menu seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan misi penyusupan tingkat tinggi.

Renji menutup mata.

"...Miyu."

Kepala itu langsung turun lagi.

Tidak ada jawaban.

"Miyu."

Tetap diam.

Renji menatap Aoi. Aoi masih melihat menu dengan ekspresi tenang, seolah tidak melihat apa pun. Kemudian Renji mendengar suara halaman menu bergeser dari sisi meja.

Pelan-pelan, Miyu memindahkan menu itu sedikit.

Matanya muncul lagi.

"..."

Renji menatapnya.

Miyu menatap balik.

Beberapa detik berlalu.

"Kenapa?"

Miyu menjawab dengan suara sangat kecil.

"Aku bukan Miyu."

Renji menghela napas panjang.

"Kalau begitu siapa?"

"...Pengunjung biasa."

"Pengunjung biasa yang bersembunyi di balik menu kami?"

"Ini tempat umum."

"Kamu ngikutin kami dari luar."

"Fitnah."

"Kamu tadi naik eskalator tiga langkah di belakangku."

"Kebetulan."

"Kamu masuk ke kafe lima detik setelah kami."

"Juga kebetulan."

"Kamu pakai jaket yang sama sejak pagi."

Miyu terdiam.

Renji menyandarkan punggung ke kursi.

"Capek nggak?"

Miyu memelototinya dari balik menu.

"Aku cuma memastikan Onii-chan aman."

"Kita di kafe."

"Justru tempat seperti ini berbahaya."

"Kenapa?"

"Karena..." Miyu melirik Aoi. "Ada orang yang berniat mengambil perhatian Onii-chan."

Aoi akhirnya mengangkat wajah dari menu.

"Oh."

Miyu langsung kaku.

Aoi tersenyum.

"Eh, Miyu-chan."

Miyu menahan napas.

"Sini gabung makan parfait!"

Renji menatap Aoi.

Miyu menatap Aoi.

Pelayan yang baru saja datang membawa gelas air juga sempat menoleh.

"Eh?"

Miyu menunjuk dirinya sendiri.

"Aku?"

"Iya."

"Di sini?"

"Iya."

"Di meja ini?"

Aoi mengangguk dengan wajah ceria.

Miyu menatap Renji seolah kakaknya baru saja menyaksikan bencana alam.

Renji mengangkat kedua tangan.

"Jangan lihat aku."

"Tapi..."

"Aku nggak melakukan apa-apa."

"Ini jebakan."

Aoi memiringkan kepala.

"Jebakan?"

Miyu segera duduk tegak.

"Nggak!"

"Kalau begitu sini."

Miyu masih berdiri.

Dalam kepalanya, berbagai kemungkinan berputar cepat. Ia datang untuk mengacaukan kencan. Ia datang untuk menjadi penghalang. Ia datang untuk memastikan setiap momen romantis antara Renji dan Aoi terganggu. Tetapi sekarang target utama operasi justru mengundangnya duduk bersama mereka.

Ini tidak sesuai rencana.

Sama sekali tidak sesuai rencana.

Kalau ia menolak, ia akan terlihat mencurigakan.

Kalau ia menerima, ia akan masuk ke dalam perangkap Aoi.

Miyu menatap wajah Aoi.

Senyum lembut.

Tidak ada niat jahat.

Lihat selengkapnya