ImouKano: Imouto vs Kanojo

Diva Amane
Chapter #14

Baju Kembaran Calon Adik Ipar

Sore mulai turun ketika Renji, Aoi, dan Miyu keluar dari kafe parfait di lantai atas pusat perbelanjaan. Matahari yang sejak siang menyinari gedung-gedung Harajuku kini sudah bergeser lebih rendah, memantulkan cahaya keemasan pada kaca jendela dan papan reklame di sepanjang jalan. Keramaian akhir pekan belum juga berkurang. Orang-orang masih keluar masuk toko, pasangan muda berjalan berdampingan sambil membawa kantong belanja, dan beberapa kelompok remaja sibuk membandingkan hasil belanja mereka sambil berhenti di tengah lorong sampai hampir menabrak pengunjung lain. Renji berjalan paling belakang sambil membawa dua kantong kertas dari kafe, sementara di depan, Aoi dan Miyu berjalan berdampingan dengan jarak yang semakin lama semakin dekat.

Renji memandangi mereka dari belakang dan menghela napas.

Kalau seseorang melihat mereka tanpa mengetahui situasinya, mungkin mereka akan mengira dua saudari sedang berjalan-jalan bersama kakaknya.

Masalahnya, salah satu dari mereka adalah pacarnya.

Dan yang satunya lagi adalah adiknya yang sejak pagi mengikuti mereka dengan niat menggagalkan kencan.

"Renji."

Aoi menoleh.

"Kenapa?"

"Masih kuat bawa semuanya?"

Renji mengangkat kedua kantong yang menggantung di tangannya.

"Masih. Lagipula isinya cuma sisa makanan dari kafe."

"Kalau begitu bagus."

Aoi kembali berjalan.

Miyu menoleh sebentar ke arah Renji, lalu melihat kantong-kantong di tangannya. Ekspresinya berubah sedikit.

"Onii-chan."

"Hm?"

"Berikan satu."

Renji mengangkat alis.

"Kenapa?"

"Karena kamu kelihatan seperti pelayan."

"Baru sadar?"

Miyu mendecakkan lidah.

"Aku cuma nggak mau Onii-chan terlalu capek."

Renji menyerahkan satu kantong kecil kepadanya.

"Terima kasih, penjaga kesehatan."

Miyu langsung memalingkan muka.

"Jangan salah paham."

Aoi tersenyum kecil melihat mereka.

"Kalau begitu, setelah ini kita masuk toko pakaian, ya."

Miyu berhenti berjalan.

"Kenapa?"

Aoi menunjuk sebuah toko pakaian wanita yang berada tidak jauh dari mereka. Dari balik kaca, deretan pakaian kasual dengan warna-warna lembut terlihat tersusun rapi. Beberapa manekin mengenakan cardigan, rok panjang, blouse sederhana, dan pakaian rajut yang tampak cocok untuk suasana sore yang mulai dingin.

Miyu menatap toko itu seolah Aoi baru saja menunjuk markas musuh.

"Toko pakaian?"

"Iya."

"Untuk apa?"

"Aku mau lihat-lihat."

Aoi kemudian menatap Miyu.

"Dan mungkin cari sesuatu buat Miyu-chan."

Miyu langsung menggeleng.

"Nggak perlu."

"Kenapa?"

"Aku punya pakaian."

"Aku tahu."

"Berarti selesai."

Aoi tertawa kecil.

"Tapi aku ingin lihat-lihat."

Miyu menyipitkan mata.

"Aoi-san."

"Ya?"

"Jangan mencoba memancingku."

"Aku nggak memancing."

"Aku tahu trik seperti ini."

"Trik?"

"Mulai dari makanan. Setelah itu perhatian. Sekarang pakaian."

Renji yang mendengar dari belakang langsung menahan tawa.

Miyu menatapnya.

"Onii-chan, jangan ketawa."

"Aku nggak ketawa."

"Bibir Onii-chan bergerak."

"Orang boleh senyum."

"Jangan."

Aoi sudah berdiri di depan pintu toko.

"Ayo."

Miyu tetap diam.

Aoi menoleh dan mengulurkan tangan.

"Miyu-chan."

Miyu memandangi tangan itu.

Kemudian memandangi toko.

Kemudian melihat Renji.

Renji hanya mengangkat bahu.

"Kalau kamu nggak masuk, nanti Aoi akan nyeret kamu."

"Aku nggak akan."

Aoi tersenyum.

"Kalau perlu."

Miyu membeku.

"Kenapa kalian berdua kompak sekali?"

"Karena kita pasangan," jawab Renji santai.

Miyu memegang dadanya.

"Serangan langsung..."

Aoi terkekeh.

Akhirnya Miyu melangkah masuk.

Udara di dalam toko terasa hangat dan memiliki aroma khas kain baru. Musik pop Jepang dengan tempo ringan mengalun dari speaker di langit-langit, sementara pegawai toko bergerak di antara rak-rak pakaian untuk merapikan gantungan yang baru disentuh pelanggan. Lampu-lampu putih kekuningan membuat warna pakaian terlihat lembut, berbeda dengan cahaya jalanan di luar yang mulai berubah keemasan.

Miyu langsung berjalan ke sisi paling gelap dari toko.

Renji memperhatikan.

"Kenapa kamu ke sana?"

"Tempat aman."

"Di sebelah rak pakaian hitam?"

"Iya."

Miyu berdiri di depan deretan cardigan hitam, sweater abu-abu gelap, dan jaket dengan potongan sederhana. Ia mengambil sebuah hoodie hitam, memeriksanya sebentar, lalu mengangguk puas.

"Ini cocok."

Aoi muncul di sebelahnya.

"Bagus."

Miyu tersenyum sedikit.

"Nah, kamu mengerti."

"Tapi coba lihat yang ini."

Aoi mengambil cardigan berwarna krem muda.

Miyu langsung mengerutkan kening.

"Terlalu terang."

"Kenapa?"

"Karena..."

Miyu memandang cardigan itu dengan serius.

"Aku punya aura yang lebih gelap."

Renji hampir tersedak menahan tawa.

Aoi tidak tertawa.

Justru ia mengangkat cardigan itu di depan tubuh Miyu dan memiringkan kepala.

"Menurutku cocok."

"Nggak."

"Coba dulu."

"Nggak."

"Kenapa?"

"Aku tidak bisa memakai pakaian seperti itu."

"Kenapa?"

"Karena..."

Miyu menatap dirinya sendiri dari pantulan kaca sebuah rak.

Jaket gelap.

Rok sederhana berwarna gelap.

Sepatu dengan warna senada.

Wajah serius.

Tatapan tajam.

Kemudian ia melihat cardigan krem di tangan Aoi.

"Kontrasnya terlalu besar."

Aoi tersenyum.

"Justru bagus."

Miyu menggeleng.

"Orang berbahaya tidak memakai warna seperti itu."

Renji akhirnya menyerah menahan tawa.

"Siapa yang mengajarkan kamu kalau orang berbahaya punya dress code?"

Miyu menatapnya tajam.

"Insting."

"Insting dari mana?"

"Pengalaman."

"Umurmu baru lima belas."

"Itu tidak menghalangi seseorang untuk berbahaya."

Aoi menahan senyum.

"Kalau begitu, kita cari sesuatu yang tetap nyaman buat Miyu-chan."

Miyu tampak lega.

"Nah."

Aoi berjalan beberapa langkah.

Kemudian berhenti di depan sebuah rak.

Ia mengambil blouse kasual berwarna putih gading dengan detail sederhana di bagian kerah. Setelah itu, ia mengambil cardigan rajut berwarna cokelat muda yang hangat. Warna keduanya lembut, tetapi tidak terlalu mencolok.

Aoi menempelkan kedua pakaian itu di depan tubuhnya sendiri.

"Bagaimana?"

Renji memperhatikan.

"Cocok."

Aoi tersenyum.

Lihat selengkapnya