Malam itu, meja makan keluarga Renji dipenuhi suasana yang begitu normal sampai terasa mencurigakan. Uap dari sup miso mengepul perlahan di tengah meja, membawa aroma dashi yang gurih dan hangat, sementara ikan panggang yang baru diangkat dari panggangan masih mengeluarkan sedikit suara berdesis dari kulitnya. Di sampingnya ada nasi putih hangat dalam mangkuk besar, tsukemono dalam wadah kecil, dan beberapa lauk rumahan yang membuat meja makan terlihat seperti gambaran sederhana dari malam biasa sebuah keluarga Jepang. Kenji duduk di tempat biasanya sambil memegang sumpit dengan satu tangan dan membuka koran yang belum selesai dibacanya dengan tangan lain, meskipun istrinya sudah beberapa kali mengingatkan agar ia tidak membaca koran sambil makan. Kasumi duduk di seberangnya dengan punggung tegak, sesekali memperhatikan lauk yang mulai berkurang, sedangkan Renji makan dengan santai sambil sesekali melirik adiknya yang duduk di sampingnya.
Miyu malam itu terlihat sangat tenang.
Terlalu tenang.
Ia makan nasi dengan gerakan kecil dan rapi, sesekali mengambil ikan, lalu kembali menundukkan wajah. Rambutnya jatuh sedikit menutupi pipi, membuat ekspresinya sulit dibaca. Renji memperhatikannya beberapa saat sebelum akhirnya mengernyit. Biasanya kalau Miyu terlalu diam saat makan, ada dua kemungkinan. Pertama, ia sedang merencanakan sesuatu. Kedua, ia baru saja melakukan sesuatu dan berharap tidak ada yang mengetahuinya. Mengingat beberapa minggu terakhir dipenuhi perangkat pelacak, catatan pengawasan, dan operasi mengikuti Renji ke berbagai tempat, Renji merasa kemungkinan kedua jauh lebih besar.
"Kenapa?"
Miyu langsung mengangkat wajah.
"Apa?"
"Kamu diam."
"Aku makan."
"Biasanya sambil makan kamu ngomel."
"Aku sedang menikmati makanan."
"Biasanya kamu menikmati makanan sambil ngomel."
Miyu mengerutkan hidung.
"Onii-chan banyak bicara."
Renji tersenyum.
"Nah, sudah normal."
Kasumi yang sedang menuangkan teh ke cangkirnya melirik mereka sekilas.
"Jangan bertengkar saat makan."
"Kami nggak bertengkar, Bu," jawab Renji.
Miyu mengangguk cepat.
"Iya."
Kenji tidak ikut campur. Ia hanya memindahkan ikan panggang ke piringnya sendiri, membuka mulut, lalu menggigitnya dengan ekspresi puas. Bunyi kecil sumpit menyentuh mangkuk terdengar di antara suara televisi dari ruang sebelah yang volumenya sengaja dikecilkan.
Semuanya tampak biasa.
Sampai Kasumi meletakkan cangkir tehnya.
"Ngomong-ngomong."
Nada suaranya berubah.
Tidak keras.
Tidak pula marah.
Namun Renji mengenal nada itu.
Nada seorang ibu yang baru saja mengingat sesuatu yang penting.
Miyu juga mengenalinya.
Tangan Miyu yang sedang memegang sumpit berhenti di udara.
Kasumi meraih sesuatu dari samping kursinya.
Selembar kertas.
Dilipat menjadi dua.
Renji melihatnya dan langsung merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Kasumi membuka kertas itu di atas meja.
"Tagihan listrik bulan ini naik."
Tidak ada yang menjawab.
Kenji masih makan.
Renji melirik angka di kertas itu.
Miyu menunduk.
Terlalu cepat.
Renji melihat gerakan itu.
Kemudian ia melihat Miyu.
Kemudian melihat tagihan.
Kemudian kembali melihat Miyu.
"Oh."
Miyu memelototinya.
"Jangan bilang apa-apa."
"Aku belum ngomong."
"Wajahmu sudah ngomong."
Renji menahan tawa.
Kasumi menunjuk bagian tertentu pada tagihan.
"Lihat ini."
Renji mendekat.
"Naiknya lumayan."
"Kan?"
Kasumi menghela napas.
"Awalnya Ibu kira karena pemanas air atau pendingin ruangan. Tapi pemakaian perangkat rumah lain relatif sama. Jadi Ibu periksa lagi."
Miyu mulai makan lebih cepat.
Satu suapan.
Dua suapan.
Tiga suapan.
Seolah dengan mempercepat makan, percakapan akan selesai sebelum dirinya terseret.
Kasumi menatapnya.
"Miyu."
Sumpit Miyu berhenti.
"Ya."
"Pemancar sinyal di kamar kamu masih menyala?"
Ruangan langsung hening.
Renji menoleh perlahan.
Kenji tetap makan.
Miyu tidak bergerak.
Bahkan bahunya tampak kaku.
"Pemancar... apa?"
Kasumi mengangkat alis.
"Yang kamu pasang supaya alat pelacak di tas Renji tetap bisa terdeteksi."
Renji langsung terdiam.
Kemudian wajahnya berubah.
"Eh?"
Miyu menutup mata.
Ia tahu.
Rahasia itu sudah terbongkar.
Selama ini ia mengira perangkat kecil yang disembunyikannya di kamar begitu tidak mencolok sampai tidak ada seorang pun yang menyadarinya. Pemancar itu terhubung ke sumber listrik kamar, bekerja sebagai stasiun tetap yang membantu menjaga koneksi dengan perangkat kecil yang ia pasang pada tas sekolah Renji. Setiap kali Renji pergi terlalu jauh, sinyal akan melemah, dan Miyu bisa memeriksa keberadaannya dari alat penerima yang ia simpan sendiri.
Sistem itu menurut Miyu sangat canggih.
Menurut Kasumi, sistem itu adalah tambahan pengeluaran.
"Bu..."
Miyu meletakkan sumpit perlahan.
"Kenapa?"
"Karena alat itu."
Kasumi mengetuk tagihan listrik dengan ujung jarinya.
"Pemancarnya menyala hampir sepanjang hari."
Miyu menunduk.
"Kan supaya..."
"Supaya Onii-chan aman."
Miyu mengangguk kecil.
"Iya."
Kasumi menghela napas.
"Ibu nggak mempermasalahkan kamu mau tahu Renji ada di mana."
Renji menatap ibunya.
"Serius?"
"Ibu sudah lama berhenti mempermasalahkan itu."
Miyu sedikit mengangkat kepala.
"Tapi..."
Kasumi menunjuk angka di tagihan.
"Kalau mau mengawasi kakakmu, tolong jangan sampai tagihan listrik satu rumah ikut diawasi."
Renji menutup mulut.
BahuÂnya mulai bergerak.
Miyu menatapnya tajam.
"Onii-chan."
Renji mencoba menahan.
Tidak berhasil.
"Hahahaha..."
Miyu langsung merah.
"Jangan ketawa!"
Renji membungkuk di atas meja, satu tangan menekan perutnya.
"Maaf... maaf..."
"Tidak lucu!"
"Pelacak di tas sekolahku..."
Renji tertawa lagi.
"...ternyata ikut menaikkan tagihan listrik rumah!"
Miyu menutupi wajah dengan kedua tangan.
"Jangan dibahas!"
Kasumi masih tenang.
"Ibu sudah hitung kira-kira."
Miyu menurunkan tangannya perlahan.
"Berapa?"
"Kalau pemancar itu menyala terus seperti sekarang, konsumsi dayanya memang tidak besar per sekali pemakaian, tapi kalau terus menerus selama berhari-hari, akumulasinya tetap terasa."