ImouKano: Imouto vs Kanojo

Diva Amane
Chapter #16

Pengungsian Musim Hujan

Sore itu seharusnya menjadi perjalanan pulang yang biasa. Setelah berkeliling area pertokoan, Renji berjalan santai di trotoar sambil membawa kantong belanja kecil, sementara Miyu berjalan beberapa langkah di belakangnya dengan kedua tangan memegang tas sekolah di depan dada. Aoi berada di sisi Renji, sesekali menunjuk etalase toko yang masih tampak menarik meskipun mereka sudah melewatinya beberapa meter. Udara musim hujan terasa lembap sejak siang, tetapi langit di atas kawasan pertokoan masih tampak cukup terang, hanya dihiasi awan kelabu yang menggantung rendah di antara gedung-gedung. Tidak ada seorang pun dari mereka yang menyangka bahwa beberapa menit kemudian mereka akan berlari sekuat tenaga hanya untuk mencari atap.

"Kalau kita langsung pulang dari sini, mungkin masih sempat beli puding di konbini," kata Renji sambil melirik jam tangannya.

Miyu langsung mengangkat wajah. "Puding?"

"Kalau kamu nggak menghabiskan uangmu buat beli gantungan kunci tadi."

"Itu bukan pemborosan. Itu investasi emosional."

"Investasi apanya?"

"Supaya aku punya sesuatu yang mengingatkanku bahwa hari ini aku berhasil mengawasi Onii-chan selama tiga jam penuh."

Renji menghela napas panjang. "Kamu benar-benar menjadikan penguntitan sebagai kegiatan rekreasi."

Miyu mendengus dan membuang muka. "Aku cuma memastikan Onii-chan tidak melakukan hal aneh."

"Aku cuma beli buku, kaus kaki, sama alat tulis."

"Justru itu mencurigakan."

Aoi yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka hanya tertawa kecil. Ia membawa payung lipat di dalam tas, tetapi melihat langit dan kemudian menggeleng pelan. "Sepertinya hujannya belum turun. Kalau cepat, kita mungkin sampai stasiun sebelum—"

Suara gemuruh dari kejauhan memotong kalimatnya.

Ketiganya berhenti hampir bersamaan.

Renji menengadah. Awan gelap yang tadi hanya tampak seperti lapisan kelabu kini bergerak cepat di atas mereka. Angin yang semula hanya terasa sebagai hembusan lembut mendadak menerpa jalan dengan membawa aroma tanah basah. Beberapa orang di trotoar mulai mempercepat langkah. Seorang ibu menarik tangan anak kecilnya menjauh dari persimpangan, sementara toko-toko di sekitar mereka mulai menurunkan tirai pelindung di bagian depan.

"Eh..." Aoi memicingkan mata ke langit. "Ini kelihatannya bukan hujan biasa."

Tetes pertama jatuh ke pipi Renji.

Lalu satu lagi.

Kemudian puluhan.

"Renji!"

"Aku tahu!"

Dalam hitungan detik, jalan yang tadi masih ramai berubah menjadi lautan payung yang bermunculan dari berbagai arah. Hujan turun begitu deras sampai permukaan aspal tampak bergetar. Angin mendorong air secara miring, membuat payung kecil hampir tidak berguna bagi orang-orang yang berjalan terbuka. Renji refleks meraih lengan Miyu ketika melihat adiknya berdiri membeku di tempat.

"Gazebo taman!" teriaknya sambil menunjuk ke arah taman kota beberapa puluh meter di depan. "Kita ke sana!"

"Tapi—"

"Kalau berdiri di sini kita basah semua!"

Renji menarik Miyu, sementara Aoi berlari di sisi mereka. Sepatu mereka menghantam trotoar yang mulai dipenuhi genangan. Miyu berusaha menutupi kepala dengan tas sekolah, tetapi angin langsung menerbangkan ujung roknya dan air hujan menghantam seragamnya dari samping. Dalam beberapa detik rambutnya sudah menempel di dahi. Kaus kaki putihnya berubah transparan di bagian betis, dan sepatu yang tadi kering kini mengeluarkan bunyi kecipak setiap kali diinjak.

"Kenapa hujan sebanyak ini?!" Miyu berteriak.

"Karena langit lagi dendam!" balas Renji.

"Itu bukan penjelasan!"

"Aku juga nggak punya penjelasan!"

Aoi berlari sambil menahan rambutnya yang diterpa angin. "Sedikit lagi!"

Gazebo taman akhirnya terlihat di balik pepohonan. Bangunannya kecil, beratap kayu, dengan bangku memanjang di tiga sisinya. Atapnya cukup lebar untuk menahan sebagian besar hujan, meskipun air yang tertiup angin masih masuk dari sisi terbuka. Renji menjadi orang pertama yang naik ke lantai kayu gazebo. Ia kemudian berbalik dan mengulurkan tangan kepada Miyu.

"Ayo!"

Miyu meraih tangannya, dan Aoi menyusul sesaat kemudian. Mereka bertiga akhirnya berhasil masuk ke bawah atap tepat ketika hujan semakin menggila.

Suara air langsung memenuhi dunia.

Hujan menghantam atap gazebo dengan suara gemuruh yang hampir seperti ribuan kerikil dilemparkan bersamaan. Air mengalir dari tepi atap dalam tirai bening yang rapat, memisahkan mereka dari taman di luar. Jalan setapak yang tadi mereka lewati mulai tertutup genangan, dan dedaunan pohon bergerak liar diterpa angin. Sesekali kilat memutihkan langit di balik pepohonan, disusul gemuruh rendah yang membuat gazebo bergetar samar.

Renji menundukkan kepala dan mengibaskan air dari rambutnya.

"Astaga."

Aoi menyandarkan kedua tangan di lutut, mengatur napas. "Untung kita sempat."

Miyu tidak menjawab.

Ia berdiri di sudut gazebo dengan kedua tangan meremas ujung rok seragamnya. Rambutnya meneteskan air ke bahu. Pita seragamnya sedikit miring, dan ujung lengan bajunya basah sampai ke siku. Ia menggigil kecil.

Renji melihatnya.

"Miyu?"

"Aku nggak apa-apa."

Jawabannya keluar terlalu cepat.

Renji mengangkat alis. "Aku belum nanya."

Miyu terdiam.

Aoi langsung menoleh.

"Miyu-chan, kamu kedinginan?"

"Nggak."

Gigi Miyu beradu pelan.

Tik.

Renji menatapnya.

Tik.

Miyu menggigit bibir.

Tik.

"...Itu suara apa?"

"Angin."

"Angin nggak punya gigi."

Miyu memalingkan wajah. "Aku cuma sedikit dingin."

Aoi mendekat. "Tanganmu boleh aku lihat?"

"Nggak perlu."

"Miyu-chan."

"Nggak perlu, aku bilang."

Nada Miyu masih terdengar seperti biasanya. Tegas, defensif, sedikit mengancam. Tetapi suaranya tidak lagi memiliki kekuatan yang sama. Bahunya bergetar setiap beberapa detik, dan jari-jari yang mencengkeram rok tampak pucat.

Aoi berjongkok di depannya.

Miyu langsung mundur setengah langkah.

"Jangan mendekat."

"Kenapa?"

"Karena..."

Miyu berhenti.

Karena apa?

Karena Aoi adalah musuh alami.

Karena setiap kali Aoi mendekat dengan wajah lembut seperti itu, pertahanan mentalnya selalu runtuh.

Karena kalau Aoi sampai menyentuhnya sekarang, ketika tubuhnya sendiri sudah mulai menggigil tanpa izin, Miyu tahu dirinya tidak akan mampu mempertahankan gengsi.

"...Aku nggak suka dikasihani."

Aoi tersenyum kecil.

"Aku nggak sedang mengasihanimu."

Miyu menatapnya.

"Aku cuma mau kamu nggak kedinginan."

Jawaban sederhana itu justru terasa lebih sulit ditangkis.

Miyu mengalihkan pandangan.

"Aku bisa tahan."

"Kamu menggigil."

"Itu refleks."

"Justru karena refleks."

Aoi melepas cardigan tipis yang dikenakannya sebagai lapisan luar. Ia sendiri hanya tinggal dengan seragam yang juga sudah terkena percikan hujan di bagian bahu. Renji segera menyadari apa yang hendak dilakukan.

"Jangan-jangan kamu mau kasih cardigan itu ke Miyu?"

Aoi mengangguk.

"Kalau begitu kamu sendiri nanti kedinginan."

"Nggak apa-apa."

Renji hendak membantah, tetapi Aoi sudah lebih dulu bergerak.

"Miyu-chan, sini."

Miyu langsung memasang ekspresi waspada.

"Apa?"

"Angkat tanganmu sedikit."

"Kenapa?"

"Aku mau memakaikan ini."

"Aku bisa sendiri."

"Kalau begitu boleh aku bantu?"

Lihat selengkapnya