ImouKano: Imouto vs Kanojo

Diva Amane
Chapter #17

Rencana Rumah Hantu Kelas 3

Ruang kelas 3-A pada jam istirahat siang biasanya memiliki dua macam suasana. Ada hari ketika sebagian besar siswa langsung menyerbu kantin begitu bel berbunyi, meninggalkan kelas dalam keadaan setengah kosong dan dipenuhi suara kursi yang bergeser. Namun, beberapa minggu menjelang Bunkasai, suasana berubah menjadi jauh lebih ribut karena papan tulis mulai dipenuhi daftar pekerjaan, coretan anggaran, serta nama-nama siswa yang ditugaskan mengurus dekorasi. Hari itu, Renji duduk di bangku dekat jendela sambil menopang dagu dengan tangan, memandangi tiga pilihan atraksi kelas yang tertulis besar-besar di papan. Di bawah tulisan "Maid Cafe", "Quiz Rally", dan "Obake Yashiki", sudah terdapat jumlah suara yang terus bertambah setiap kali teman-temannya mengangkat tangan.

"Jadi hasil sementara?" tanya ketua kelas sambil memegang spidol.

"Rumah hantu unggul jauh."

"Serius? Padahal Maid Cafe sudah punya beberapa orang yang mau jadi maid."

"Justru itu masalahnya. Kostumnya mahal."

"Rumah hantu tinggal pakai kardus, kain hitam, sama lampu."

Renji mengangkat alis. "Kalau cuma begitu, yang masuk bukan takut. Mereka malah kasihan."

Beberapa teman tertawa.

Ketua kelas menghela napas, lalu menuliskan angka terakhir di papan. "Oke. Kita sudah cukup. Dengan suara mayoritas, kelas 3-A resmi membuat Obake Yashiki."

Sorakan langsung memenuhi ruangan. Ada yang langsung membahas riasan hantu, ada yang mengusulkan lorong sempit dengan tirai, sementara dua siswa laki-laki di belakang sudah berdebat mengenai siapa yang paling cocok menjadi hantu berkepala tanpa badan. Renji ikut tersenyum, meskipun ia tahu keputusan itu berarti pekerjaan tambahan yang cukup besar. Bunkasai adalah salah satu kesempatan terakhir bagi siswa kelas tiga untuk membuat kenangan bersama sebelum ujian dan kelulusan mulai mendominasi kehidupan mereka, jadi tidak ada yang ingin membuat acara setengah hati.

"Renji, kamu bagian properti sama konstruksi, ya."

"Kenapa aku?"

"Karena kemarin kamu bilang bisa pakai bor."

"Itu bukan alasan memilihku."

"Itu alasan yang sangat bagus."

Renji menghela napas sambil bangkit dari kursinya. "Baiklah. Tapi kalau ada yang menyuruhku bikin hantu tiga kepala, aku pulang."

"Dicatat."

Di tengah keributan itu, tidak seorang pun di lantai tiga menyadari bahwa sebuah kepala kecil sedang mengintip dari balik pintu kelas beberapa meter dari sana.

Miyu berdiri di koridor lantai satu dengan sebuah map transparan di tangan.

Ia sebenarnya tidak punya urusan apa pun dengan kelas 3-A.

Secara resmi.

Secara administratif, ia bahkan belum pernah diminta untuk membantu persiapan kelas Renji. Sebagai siswi kelas 1-B, tugasnya hanyalah mengikuti kegiatan kelasnya sendiri dan menjalani hari-hari sekolah seperti biasa. Tetapi sejak mendengar kabar bahwa kelas Renji akan membuat Rumah Hantu, Miyu sudah sampai pada satu kesimpulan yang menurutnya sangat logis.

Rumah hantu berarti gelap.

Gelap berarti orang tidak bisa melihat siapa yang berada di sebelah siapa.

Dan kalau orang tidak bisa melihat siapa yang berada di sebelah siapa, maka ada kemungkinan seorang siswi menyelinap mendekati Onii-chan.

Kesimpulan itu begitu mengerikan sampai Miyu hampir tidak bisa tidur semalam.

Karena itu, ketika pagi tadi ia melihat pengumuman perekrutan panitia logistik Bunkasai yang membutuhkan perwakilan lintas angkatan, Miyu langsung mengisi formulir. Ia bahkan tidak perlu berpikir lama mengenai bagian yang ingin dipilih.

Properti.

Dekorasi.

Pencahayaan.

Jalur pengunjung.

Semua yang berkaitan dengan benda-benda yang bisa dipindahkan, diatur, dipasang, atau dibatasi.

Dengan kata lain, wilayah kekuasaan yang sempurna.

"Kalau aku tidak mengawasi..." gumam Miyu sambil membuka map. "Mereka bisa saja membuat lorong gelap sepanjang dua puluh meter. Onii-chan masuk bersama satu siswi. Lalu pintu tertutup. Lalu..."

Ia berhenti.

Pipinya mengembung.

"Mustahil."

Seorang siswa kelas dua yang berjalan melewatinya melirik bingung.

Miyu langsung menegakkan badan dan memasang ekspresi dingin.

"Selamat siang."

Siswa itu buru-buru mengangguk.

"Si-siang..."

Begitu orang tersebut pergi, Miyu kembali menatap denah sekolah.

Ia sudah membuat rancangan sendiri.

Rumah Hantu kelas 3-A harus memiliki jalur satu arah.

Tidak boleh ada titik buta.

Tidak boleh ada pintu yang bisa dikunci dari dalam.

Tidak boleh ada lorong yang terlalu sempit.

Pencahayaan harus cukup untuk memastikan semua kelompok pengunjung terlihat.

Dan yang paling penting, kalau ada dua orang yang masuk bersamaan, mereka harus selalu berada dalam jarak pandang satu sama lain.

Miyu tersenyum tipis.

"Keselamatan pengunjung adalah prioritas."

Ia mengangguk puas.

Kemudian menambahkan catatan kecil di bawahnya.

Terutama keselamatan Onii-chan dari cewek lain.

Siang itu, rapat panitia logistik berlangsung di ruang serbaguna dekat aula. Perwakilan kelas satu, dua, dan tiga duduk mengelilingi beberapa meja yang disatukan. Di atas meja terdapat daftar kebutuhan dekorasi, kabel sambungan, kain hitam, kardus, cat, lampu kecil, papan petunjuk, dan berbagai benda lain yang diperlukan untuk mendukung Bunkasai. Guru pembina berdiri di depan sambil menjelaskan pembagian tugas, tetapi Miyu sudah lebih dulu memeriksa setiap lembar inventaris dengan ketelitian yang membuat beberapa siswa kelas tiga terlihat gugup.

"Siapa yang mengurus properti Rumah Hantu 3-A?" tanya ketua panitia.

Miyu langsung mengangkat tangan.

"Saya."

Beberapa kepala menoleh.

Ketua panitia melihat formulirnya.

"Miyu dari 1-B?"

"Ya."

"Kamu yakin? Ini lumayan banyak."

"Saya sanggup."

"Sudah pernah menangani properti acara?"

Miyu terdiam sepersekian detik.

"Belum."

"Kalau begitu kenapa mau mengambil bagian ini?"

Miyu menatap lurus ke depan.

"Karena saya sangat memperhatikan keselamatan dan efisiensi."

Jawaban itu terdengar cukup masuk akal.

Setidaknya sampai ia menambahkan, "Dan saya punya kemampuan observasi tinggi."

Ketua panitia mengangguk pelan.

"Baiklah. Kalau begitu kamu jadi penanggung jawab properti bersama dua orang dari kelas dua."

Miyu menundukkan kepala.

"Terima kasih."

Di dalam hati, ia mengepalkan tangan.

Berhasil.

Posisinya resmi.

Sekarang tidak ada yang bisa mempertanyakan kenapa ia berkeliaran di sekitar Rumah Hantu kelas 3-A.

Selama ia membawa map panitia dan mengenakan tanda pengenal, ia bukan lagi adik yang menguntit kakaknya.

Ia adalah petugas logistik.

Petugas logistik yang kebetulan memiliki kepentingan sangat besar terhadap satu orang tertentu.

Setelah rapat selesai, Miyu langsung naik ke lantai tiga.

Koridor lantai tiga masih ramai oleh siswa yang sedang mempersiapkan Bunkasai. Papan pengumuman dipenuhi kertas rancangan, beberapa pintu kelas terbuka lebar, dan aroma cat dari ruang kelas lain bercampur dengan bau kardus serta debu. Miyu berjalan sambil memegang clipboard, berusaha mempertahankan wajah profesional ketika sebenarnya matanya terus mencari satu sosok.

Akhirnya ia menemukannya.

Renji sedang berdiri di tengah kelas 3-A, memegang meteran sambil berbicara dengan dua teman sekelasnya.

Miyu langsung berhenti.

Onii-chan.

Ia sedang bekerja.

Tidak ada gadis yang berdiri terlalu dekat.

Bagus.

Miyu menghela napas lega.

Lalu seorang siswi kelas 3 datang membawa gulungan kain hitam.

"Renji, ini kainnya."

Miyu langsung menyipitkan mata.

Jarak mereka sekitar satu meter.

Masih aman.

Siswi itu menyerahkan kain.

Renji menerimanya.

Masih aman.

Mereka berbicara.

Miyu mencatat sesuatu di clipboard.

Potensi interaksi: sedang.

Renji tiba-tiba menoleh ke arah pintu.

Mata mereka bertemu.

"Miyu?"

Miyu langsung berdiri tegak.

"Aku sedang bertugas."

Renji menatap papan identitas yang tergantung di leher adiknya.

"Serius?"

"Serius."

"Sejak kapan kamu ikut panitia?"

"Sejak aku menyadari bahwa sekolah membutuhkan orang yang kompeten."

Renji menatapnya beberapa detik.

"Kamu ikut karena Rumah Hantu, ya?"

Miyu membuang muka.

"Jangan menuduh tanpa bukti."

"Map kamu bertuliskan 'Rencana Pengamanan Onii-chan'."

Miyu melihat mapnya.

Terdiam.

Ia buru-buru membalik halaman.

"Itu... singkatan."

"Singkatan apa?"

Lihat selengkapnya