Pagi hari Bunkasai selalu memiliki suara yang berbeda dari hari sekolah biasa. Begitu gerbang sekolah dibuka, halaman sudah dipenuhi siswa yang membawa kardus, gulungan kain, papan nama, dan berbagai perlengkapan terakhir yang belum sempat dipindahkan pada hari-hari persiapan. Dari lantai satu sampai lantai tiga, suara langkah kaki berlari kecil bercampur dengan panggilan antarkelas, suara selotip yang ditarik dari gulungannya, dan musik dari ruang aula yang sedang melakukan uji suara. Bau cat, kopi instan, makanan yang mulai dimasak, serta aroma manis dari berbagai stan makanan bercampur menjadi satu di udara pagi. Renji yang baru memasuki gedung sekolah bahkan belum sempat mencapai tangga ketika seorang teman kelasnya sudah menarik lengan seragamnya.
"Renji! Cepat! Tirai belakang belum dipasang!"
"Baru juga masuk."
"Festival sudah mulai!"
"Kalau begitu harusnya aku dapat waktu lima menit untuk bernapas."
"Bernapas nanti. Sekarang kerja."
Renji menghela napas, tetapi tetap mengikuti temannya menuju lantai tiga. Di sepanjang tangga, ia sempat melihat papan-papan kelas yang dihias berlebihan untuk menarik perhatian pengunjung. Ada kafe bertema retro, ruang permainan, pameran fotografi, bahkan satu kelas yang mengubah seluruh ruangan menjadi semacam laboratorium misterius. Di tengah keramaian itu, Renji melihat sosok kecil yang berdiri di persimpangan koridor lantai satu dengan sebuah clipboard tergantung di lehernya. Miyu mengenakan pakaian biasa untuk panitia festival dengan tanda pengenal besar di dada, tetapi tatapan matanya jauh lebih serius daripada siapa pun di sekitarnya.
Begitu melihat Renji, mata Miyu langsung bergerak mengikuti.
"Target terlihat."
Renji berhenti.
"Miyu, aku bisa dengar."
Miyu langsung membuang muka.
"Aku sedang melakukan pemeriksaan area."
"Jam segini?"
"Justru jam segini paling penting."
Renji memperhatikan clipboard di tangannya. "Rumah Hantu kelas kami masih aman."
"Aku tahu."
"Terus kenapa kamu di sini?"
Miyu menatapnya dengan wajah datar.
"Karena Bunkasai sudah dimulai."
"Itu bukan jawaban."
"Dan aku panitia."
"Itu juga bukan jawaban."
Miyu mendengus. "Onii-chan banyak tanya."
Renji tertawa kecil dan akhirnya menaiki tangga. Ia tahu bahwa kalau terus mengorek alasan adiknya, mereka akan menghabiskan lima menit hanya untuk mendengar tiga versi berbeda dari kalimat "aku sedang menjalankan tugas". Lagipula, ia punya pekerjaan sendiri di kelas. Rumah Hantu yang mereka bangun beberapa hari terakhir memang sudah selesai, tetapi persiapan terakhir tetap membutuhkan tenaga, terutama karena teman-temannya ternyata mampu menemukan begitu banyak hal yang bisa salah pada menit-menit terakhir.
Miyu memperhatikan punggung kakaknya menghilang di tangga.
Kemudian ia menurunkan clipboard.
"Aman."
Ia menghela napas.
Tetapi hanya sebentar.
Karena dari pengeras suara sekolah terdengar pengumuman pembukaan Bunkasai.
"Selamat datang kepada seluruh pengunjung. Bunkasai SMA kita resmi dimulai."
Sorak-sorai terdengar dari berbagai penjuru gedung.
Miyu memandang ke arah lantai dua.
Di sanalah kelas 2-C berada.
Dan di sana pula Aoi bekerja.
Miyu mengerutkan mata.
Sejak kemarin, ia sudah mendengar bahwa kelas 2-C membuat Maid Cafe. Awalnya informasi itu tidak terlalu berarti baginya. Maid Cafe hanyalah salah satu bentuk stan kelas yang biasa muncul saat Bunkasai. Tetapi ketika Renji tadi menyebut akan berkeliling melihat stan kelas lain setelah tugasnya selesai, Miyu langsung mengingat satu fakta yang jauh lebih penting.
Aoi akan mengenakan kostum maid.
Miyu menelan ludah.
Entah kenapa, ia langsung merasa tidak nyaman.
"Bukan karena kostumnya," gumamnya.
Ia berjalan menuju tangga lantai dua.
"Ini cuma inspeksi."
Beberapa menit kemudian, pintu kelas 2-C terbuka lebar. Kertas-kertas dekorasi berbentuk renda ditempel di sekitar kusen, meja-meja kelas disusun menjadi area pelayanan, dan tirai putih serta hitam membuat ruang kelas itu terlihat jauh berbeda dari hari biasa. Di depan pintu berdiri papan bertuliskan nama Maid Cafe mereka dengan desain yang sengaja dibuat sederhana tetapi elegan. Beberapa siswa kelas dua mengenakan kostum maid, sementara siswa laki-laki yang bertugas di belakang meja sibuk menata baki, minuman, dan makanan ringan.
Namun semua suara di dalam kelas terasa seperti mengecil ketika Miyu melihat seseorang berdiri di dekat pintu masuk.
Aoi.
Kostum maid itu sangat cocok dengannya.
Gaun hitam-putih dengan celemek putih bersih membentuk siluet sederhana yang anggun, sementara rambutnya ditata rapi dengan aksesori kecil di sisi kepala. Tidak ada kesan berlebihan atau kostum yang dibuat untuk sekadar lucu. Aoi justru terlihat seperti seseorang yang memang secara alami pantas berdiri di balik meja dan menyambut tamu dengan senyum hangat.
"Selamat datang."
Aoi membungkuk ringan kepada pengunjung yang baru masuk.
"Silakan duduk. Menu kami ada di meja."
Miyu berdiri di luar.
Wajahnya perlahan menjadi serius.
Bahaya.
Bukan karena Aoi terlihat cantik.
Itu bukan masalah.
Yang menjadi masalah adalah kemungkinan Renji datang ke sini.
Dan kalau Renji datang...
Aoi akan menyambutnya.
Dengan kostum seperti itu.
Dengan senyum seperti itu.
Miyu mengepalkan tangan.
"Ini situasi darurat."
Salah seorang siswa panitia yang lewat mendengar gumamannya.
"Eh?"
Miyu langsung tersenyum profesional.
"Semoga pelayanan berjalan lancar."
"Oh... iya."
Begitu siswa itu pergi, Miyu menatap papan menu.
Minuman manis.
Teh buah.
Soda.
Sirup melon.
Sirup stroberi.
Semuanya terlalu manis.
Sebuah ide muncul di kepalanya.
Miyu tersenyum kecil.
Kalau Aoi akan membuat Renji minum sesuatu yang manis sambil mengenakan kostum maid, maka ia harus melakukan sesuatu.
Bukan sabotase.
Miyu tidak akan menyebutnya sabotase.
Ia hanya akan melakukan penyesuaian rasa.
Sedikit.
Sangat sedikit.
Dan kalau Renji akhirnya meminum sesuatu yang rasanya pahit, mungkin dia akan mengurangi antusiasmenya datang ke kelas 2-C.
Miyu segera memikirkan sebuah racikan yang sudah ia siapkan dari rumah. Ia membawa botol kecil berisi sirup buatannya sendiri, campuran bahan-bahan pahit yang aman untuk dikonsumsi tetapi cukup kuat untuk membuat minuman manis kehilangan rasa menyenangkannya. Rencananya sederhana. Ia hanya perlu masuk ke area dapur sekolah, menemukan botol sirup yang digunakan untuk minuman, lalu menukarnya dengan racikannya.
Tidak ada yang terluka.
Tidak ada kerusakan.
Hanya sedikit rasa pahit.
"Operasi dimulai."
Miyu berjalan memutar melewati koridor, menunggu saat para pelayan sedang sibuk menerima pengunjung. Ketika pintu samping kelas terbuka, ia menyelinap masuk sambil membawa clipboard. Seorang siswa yang sedang mengangkat kotak hanya melirik sebentar.
"Oh, panitia logistik?"
Miyu mengangguk.
"Inspeksi properti."
"Silakan."
Mudah sekali.
Miyu masuk lebih dalam.
Area belakang kelas yang dijadikan dapur sementara dipenuhi peralatan sederhana. Ada termos air panas, wadah es, gelas plastik, botol-botol sirup, nampan kue, serta beberapa baki yang siap dibawa ke meja depan. Aroma gula dan mentega memenuhi ruangan. Miyu menelan ludah, tetapi segera mengingat tujuan awalnya.
Ia mengeluarkan botol kecil dari saku tas.
"Target ditemukan."
Tangannya baru saja hendak meraih botol sirup stroberi ketika terdengar suara dari belakang.
"Miyu-chan?"
Tubuh Miyu membeku.
Perlahan ia menoleh.
Aoi berdiri di pintu dapur.
Masih dengan kostum maid.
Masih dengan senyum lembut.
Miyu langsung menyembunyikan botol di belakang tubuh.
"A-Aoi-san."
Aoi memiringkan kepala.
"Kamu sedang apa?"
"Inspeksi."
"Di dapur?"
"Ya."
"Untuk logistik?"
"Ya."
Aoi melihat clipboard.
Kemudian melihat tangan Miyu yang disembunyikan.
Lalu melihat wajah Miyu.
Ia tidak langsung menuduh.
Sebaliknya, ia mendekat dengan tenang.
"Kalau begitu, terima kasih sudah membantu."
Miyu berkedip.
"Hah?"
Aoi menunjuk celemek kecil yang dipakai Miyu sebagai bagian dari perlengkapan panitia.
"Kamu pakai apron juga."
Miyu menunduk.
Benar.
Karena ia tadi membantu mengangkat beberapa kotak, celemek tipis memang sudah terpasang di pinggangnya.
"Kamu kelihatan imut."
Wajah Miyu langsung memerah.
"Apa?"
"Apronnya cocok."
"Jangan bilang begitu."
"Kenapa?"
"Karena..."
Miyu tidak menemukan jawabannya.
Aoi tersenyum.
"Terima kasih sudah datang membantu."