ImouKano: Imouto vs Kanojo

Diva Amane
Chapter #19

Inspektur Spatula Kayu

Siang hari pada Bunkasai selalu memiliki jenis keramaian yang berbeda dari pagi hari. Setelah upacara pembukaan, pengumuman dari pengeras suara, dan rombongan orang tua yang memenuhi lorong-lorong gedung sekolah mulai berkurang, lapangan sekolah berubah menjadi pusat kehidupan yang hampir mustahil dilewati tanpa berhenti setidaknya sekali. Tenda-tenda stan berjajar di sepanjang sisi lapangan, dihiasi kain warna-warni dan papan nama buatan tangan para siswa. Aroma takoyaki yang baru diangkat dari panggangan bercampur dengan wangi yakisoba, karaage, crepe, dan jagung bakar, sementara dari panggung kecil di ujung lapangan terdengar suara klub musik yang sedang memainkan lagu pop dengan kualitas pengeras suara yang sedikit terlalu keras. Renji berjalan santai membawa papan kecil bertuliskan 巡回係 di dadanya, sesekali memeriksa jalur pengunjung yang menjadi tanggung jawab kelasnya. Ia sebenarnya tidak keberatan mendapat tugas patroli seperti ini. Selama tidak disuruh berdiri di tempat yang sama selama tiga jam, berkeliling sambil mencicipi makanan festival justru terdengar seperti pekerjaan yang cukup menguntungkan.

"Renji-senpai!"

Renji menoleh ketika seorang siswi kelas dua yang berdiri di depan stan crepe melambaikan tangan kepadanya. Siswi itu mengenakan celemek kelasnya dan memegang menu plastik di depan dada, senyumnya terlihat jelas bahkan dari jarak beberapa meter. Renji membalas lambaian tersebut sambil berjalan mendekat, terutama karena dari arah stan itu tercium aroma stroberi dan mentega yang baru saja dipanaskan. "Oh, ini stan kalian? Ramai juga." Ia melirik daftar menu yang ditempel di papan, lalu menunjuk salah satu gambar. "Yang stroberi custard itu kelihatannya enak." Siswi tersebut langsung mengambil formulir pesanan dan tertawa kecil. "Mau coba? Aku bisa bikinin yang agak banyak krimnya. Kebetulan yang bikin juga aku."

Renji baru saja membuka mulut untuk menjawab ketika sebuah bayangan memanjang jatuh di atas meja stan.

Bukan bayangan pohon.

Bukan bayangan tiang tenda.

Melainkan bayangan sebuah spatula kayu berukuran tidak wajar yang diangkat lurus ke udara.

Siswi penjaga stan membeku. Renji menutup mata sebentar karena ia sudah mengenali pemilik bayangan tersebut bahkan sebelum menoleh. Di belakangnya berdiri Miyu dengan seragam kelas 1-B yang masih rapi, rambut hitamnya bergerak pelan tertiup angin lapangan, dan wajah yang begitu datar hingga nyaris tidak menunjukkan emosi apa pun. Kedua tangannya menggenggam spatula kayu besar yang biasanya digunakan Kasumi untuk menggoreng atau membalik makanan di wajan. Ujung spatula itu sekarang mengarah tepat ke arah siswi kelas dua tadi, seolah-olah benda tersebut adalah pedang pendek milik seorang pengawal kerajaan yang sedang menjaga gerbang istana.

"Interaksi mencurigakan terdeteksi."

Renji menghela napas.

"Miyu."

"Apa?"

"Turunkan itu."

"Ini alat dapur."

"Justru karena itu aku suruh turunkan."

Miyu menurunkannya beberapa sentimeter, tetapi tidak benar-benar melepaskan genggamannya. Siswi kelas dua di depan stan memandang spatula tersebut, kemudian Miyu, lalu Renji, sebelum akhirnya berbisik kepada temannya di belakang meja. "Itu adiknya Renji-senpai, kan?" Temannya mengangguk cepat. "Iya. Katanya kelas satu." Mereka berdua saling menatap dengan ekspresi yang sama seperti orang yang baru menyaksikan fenomena alam yang belum pernah masuk buku pelajaran. Renji sendiri sudah terlalu terbiasa untuk merasa malu sepenuhnya.

"Miyu, aku cuma mau beli crepe."

"Aku tahu."

"Terus kenapa kamu bawa spatula?"

"Untuk memastikan keamanan."

"Keamanan dari apa?"

Miyu memandang siswi kelas dua tadi.

"Situasi seperti ini."

Renji menekan pelipisnya. "Situasi seperti apa?"

"Situasi ketika seorang siswi kelas dua menawarkan krim tambahan kepada Onii-chan dengan ekspresi terlalu ramah."

Siswi kelas dua itu langsung memerah. "Eh? Tidak, ini memang pelayanan stan!"

"Justru itu."

"Apa yang justru itu?!"

Renji akhirnya menarik papan patroli di dadanya dan menggunakannya untuk menurunkan spatula Miyu. "Sudah. Aku beli crepe, selesai. Tidak ada pembunuhan hari ini."

Miyu menatapnya tajam. "Aku tidak pernah bilang mau membunuh siapa pun."

"Bagus."

"Aku cuma mau mengingatkan batas interaksi."

"Dengan spatula?"

"Metode komunikasi visual lebih efektif."

Renji menatap benda di tangan adiknya. Spatula itu memang tampak cukup besar untuk membuat orang berpikir dua kali sebelum melanjutkan percakapan. Yang membuat keadaan semakin absurd adalah kenyataan bahwa spatula tersebut masih memiliki sedikit noda tepung kering di bagian gagangnya. Miyu rupanya tidak sempat membersihkannya dengan sempurna setelah mengambilnya dari dapur. Renji bisa membayangkan Kasumi nanti berdiri di depan laci dapur, mencari spatula yang hilang, lalu bertanya dengan nada datar mengapa alat memasak rumah mereka kembali digunakan untuk operasi keamanan sekolah.

Ia membeli crepe itu tanpa perdebatan lebih lanjut. Miyu berdiri dua langkah di belakangnya dengan spatula di tangan, mengawasi seluruh stan seperti petugas keamanan yang sedang memeriksa potensi ancaman. Ketika Renji menerima crepe dan menggigit ujungnya, rasa manis custard dan asam stroberi langsung memenuhi mulutnya. "Enak," katanya spontan. Siswi penjaga stan tersenyum lega. "Syukurlah. Kalau suka, nanti bisa datang lagi." Renji mengangguk sambil mengunyah, tetapi sebelum sempat menjawab, terdengar bunyi tok kecil dari spatula yang diketukkan Miyu ke meja stan.

"Jadwal patroli Onii-chan masih panjang."

"Jangan ketuk meja orang."

"Baik."

Miyu mengangkat spatula kembali.

Renji hanya bisa menatap langit siang yang cerah dan bertanya dalam hati bagaimana hidupnya bisa sampai pada titik di mana adik kelas satu membawa alat masak berkeliling Bunkasai demi mengatur siapa yang boleh menjual crepe kepadanya.

Ia belum tahu bahwa kejadian itu baru permulaan.

Setelah meninggalkan stan crepe, Renji melanjutkan patroli mengelilingi lapangan. Ia memeriksa beberapa papan petunjuk, memastikan jalur masuk ke area panggung tidak terhalang, lalu berhenti sebentar di dekat stan yakisoba milik kelas satu. Di belakangnya, langkah kaki Miyu mengikuti dengan jarak yang selalu sama. Dua meter. Tidak lebih, tidak kurang. Renji mempercepat langkah. Miyu mempercepat langkah. Renji memperlambat langkah. Miyu memperlambat langkah. Bahkan ketika Renji tiba-tiba berhenti untuk melihat sebuah poster buatan tangan, Miyu ikut berhenti tepat dua meter di belakangnya, spatula tetap berada di depan tubuh seperti senjata yang siap digunakan.

"Serius?" Renji menoleh.

"Apa?"

"Kamu masih ngikutin?"

"Aku sedang patroli."

"Patroli siapa?"

"Patroli Onii-chan."

"Itu bukan patroli."

"Kalau aku bilang patroli, berarti patroli."

Renji mendengus kecil. Ia sudah tahu percuma berdebat. Miyu sedang berada dalam salah satu fase ketika logika hanya berlaku jika mendukung kesimpulan yang sudah dibuatnya sendiri. Jadi Renji memilih strategi lain. Ia berjalan ke stan karaage dan sengaja membeli satu porsi. Begitu menerima tusuk karaage pertama, ia mengangkatnya di depan wajah Miyu.

"Mau?"

Mata Miyu bergerak sepersekian detik ke arah makanan.

Hanya sepersekian detik.

Namun Renji melihatnya.

"Tidak."

"Kamu lihat."

"Aku tidak lihat."

"Matamu bergerak."

"Itu refleks."

"Kalau begitu refleksmu mau karaage."

"Jangan mengarang."

Renji menyodorkan tusuk karaage itu sedikit lebih dekat. "Satu?"

Miyu menatapnya dengan wajah dingin. "Aku sedang bertugas."

"Petugas juga boleh makan."

"Aku tidak menerima suap."

"Ini bukan suap."

"Ini?"

"Bonus patroli."

Miyu diam selama tiga detik. Kemudian ia mengambil satu potong karaage dengan gerakan cepat dan langsung memasukkannya ke mulut. Pipinya sedikit menggembung saat mengunyah, tetapi spatula di tangannya tetap terangkat dengan penuh kewibawaan. Renji menahan tawa. "Inspektur yang hebat."

Miyu berhenti mengunyah.

"Siapa bilang aku inspektur?"

"Belum ada."

"Jangan beri nama aneh."

"Baik."

Renji memalingkan wajah, menyembunyikan senyum.

Di belakangnya, Miyu menggigit karaage kedua.

Tidak lama kemudian, insiden kedua terjadi.

Seorang siswi dari kelas 3-B menghampiri Renji ketika ia sedang berdiri dekat stan minuman. Mereka pernah satu kelompok dalam kegiatan sekolah beberapa bulan sebelumnya, jadi percakapan mereka sebenarnya sangat biasa. Siswi itu menanyakan apakah Renji sudah melihat pertunjukan klub musik dan kemudian mengomentari papan pengumuman lomba dekorasi. Renji menjawab santai, bahkan sempat tertawa ketika siswi tersebut menceritakan kesalahan dekorasi kelasnya pagi tadi.

Lalu terdengar suara langkah kaki dari belakang.

Tok.

Spatula kayu mengetuk tanah.

Siswi kelas 3-B itu berhenti bicara.

Miyu berdiri di samping Renji.

"Maaf," katanya dengan nada datar.

Siswi tersebut berkedip. "Eh?"

"Durasi percakapan sudah cukup."

Renji langsung menoleh. "Miyu."

"Aku cuma mengingatkan."

"Kamu baru saja menghentikan percakapan orang."

"Topiknya tidak penting."

"Justru karena tidak penting, tidak ada alasan dihentikan."

Miyu mengangkat spatulanya sedikit. "Onii-chan sedang patroli."

Siswi kelas 3-B itu menatap Renji dengan ekspresi campuran antara bingung dan geli. "Adikmu... selalu begini?"

Renji menggaruk pipi. "Tidak selalu."

Miyu menyela. "Hanya ketika diperlukan."

"Yang diperlukan oleh siapa?" tanya Renji.

"Oleh keamanan."

Siswi tersebut akhirnya tertawa kecil. Bukan karena takut, melainkan karena situasinya terlalu aneh untuk dianggap serius. "Baiklah. Aku pergi dulu, Renji. Selamat bertugas." Ia melambaikan tangan dan kembali ke stan kelasnya. Miyu mengikuti gerakannya dengan tatapan sampai siswi itu benar-benar menghilang di antara kerumunan.

Renji mengembuskan napas panjang.

"Kamu sadar tidak, kalau terus begini orang-orang bakal mengira aku punya pengawal?"

"Lebih baik daripada mereka mengira Onii-chan tidak punya perlindungan."

"Ini Bunkasai."

"Justru tempat seperti ini berbahaya."

"Kenapa?"

Lihat selengkapnya