ImouKano: Imouto vs Kanojo

Diva Amane
Chapter #20

Kencan Senja di Bunkasai

Menjelang sore, Bunkasai perlahan memasuki fase terakhirnya. Matahari yang sejak siang menggantung tinggi di atas gedung sekolah mulai turun ke balik deretan bangunan di kejauhan, dan cahaya keemasan menyapu lapangan yang beberapa jam sebelumnya penuh sesak oleh siswa, orang tua, serta pengunjung dari lingkungan sekitar. Stan-stan yang sudah kehabisan makanan mulai membereskan meja, poster-poster yang ditempel tergesa-gesa pada pagi hari mulai sedikit terlepas di sudutnya, dan suara pengumuman dari pengeras suara sekolah terdengar lebih jarang dibandingkan beberapa jam lalu. Namun, justru ketika sebagian besar kegiatan mulai berakhir, keramaian terbesar hari itu baru akan dimulai. Di tengah lapangan, panitia telah menyiapkan area untuk acara penutup berupa api unggun, sementara klub musik mulai melakukan pemeriksaan suara di atas panggung kecil yang menghadap ke kerumunan.

Renji berdiri di lantai tiga dekat jendela kelas 3-A, memandang lapangan melalui celah tirai yang terbuka. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat lingkaran kayu yang disusun di tengah lapangan, dikelilingi tali pembatas dan beberapa ember air sebagai persiapan keselamatan. Beberapa anggota panitia membawa kursi tambahan, sementara siswa-siswa dari berbagai kelas mulai berkumpul membawa minuman dan makanan ringan sisa stan mereka. Suara gitar dari panggung terdengar samar-samar, disusul suara tepuk tangan ketika salah satu siswa mencoba mikrofon. Renji memasukkan kedua tangannya ke saku celana seragamnya dan mengembuskan napas perlahan, mencoba mengabaikan perasaan aneh yang sejak beberapa menit lalu mengganjal di dadanya.

Hari ini adalah hari terakhir Bunkasai.

Dan entah kenapa, sejak pagi ia terus memikirkan satu hal.

Aoi.

Bukan sekadar ingin mengobrol dengannya. Bukan sekadar ingin makan bersama setelah tugas festival selesai. Bukan pula sekadar ingin berjalan mengelilingi lapangan seperti yang mereka lakukan beberapa kali sepanjang hari. Renji ingin memiliki beberapa menit yang benar-benar hanya menjadi milik mereka berdua. Selama ini, setiap kali mereka mencoba menghabiskan waktu bersama, selalu ada sesuatu yang menyela. Tugas sekolah, kegiatan kelas, teman-teman, stan festival, atau tentu saja satu adik perempuan kelas satu yang memiliki kemampuan luar biasa untuk muncul dari tempat-tempat yang secara logika tidak mungkin digunakan sebagai tempat bersembunyi.

Renji menutup tirai.

"Kalau terus menunggu, sampai lulus juga nggak akan dapat kesempatan."

Ia mengucapkannya pelan kepada dirinya sendiri, lalu segera merasa sedikit konyol karena harus menyemangati diri sendiri untuk mengajak pacarnya sendiri berkencan. Namun hubungan mereka bukan masalahnya. Renji sudah tahu bahwa ia menyukai Aoi, dan Aoi pun bukan tipe orang yang akan pura-pura tidak memahami perasaan orang lain. Yang membuatnya gugup justru karena ia ingin mengatakan sesuatu yang lebih serius. Sesuatu yang selama ini hanya disimpan di antara percakapan sederhana, tatapan yang bertahan sedikit terlalu lama, dan momen ketika Aoi tanpa sadar tersenyum kepadanya seolah-olah dunia di sekitar mereka tidak terlalu penting.

Hari ini ia ingin mengatakannya.

Sebelum Bunkasai berakhir.

Renji turun dari lantai tiga ketika suara musik penutup mulai terdengar dari lapangan. Tangga sekolah yang sepanjang hari ramai kini justru terasa semakin padat karena hampir semua siswa bergerak menuju lantai dasar dan pintu keluar. Ia beberapa kali harus menepi agar rombongan siswa dari kelas lain bisa lewat. Di salah satu belokan tangga, ia bahkan mendengar dua siswi kelas dua membicarakan rumor tentang "Inspektur Spatula Kayu" yang muncul siang tadi. Renji hanya menggeleng sambil terus berjalan.

"Kalau Miyu sampai dengar mereka membicarakannya, kepalanya bakal makin besar."

Ia keluar melalui pintu belakang gedung dan berhenti sebentar di koridor luar. Dari sana, suara musik festival terdengar lebih jelas. Lagu yang dimainkan bukan lagi lagu pop yang cepat, melainkan aransemen lembut yang cocok untuk suasana penutupan. Angin sore membawa aroma kayu bakar yang mulai dinyalakan di tengah lapangan, bercampur dengan wangi makanan yang tersisa dari stan-stan festival. Langit di atas gedung mulai berubah warna, biru perlahan ditelan jingga, dan bayangan pohon di halaman memanjang hingga menyentuh kaki tangga.

Renji melihat Aoi.

Ia berdiri tidak jauh dari area kelas 2-C bersama dua teman sekelasnya, membantu mengumpulkan beberapa barang dari stan Maid Cafe. Aoi sudah tidak mengenakan celemeknya, tetapi pita kecil yang dipasang di rambutnya masih terikat rapi. Ia sedang berbicara sambil tersenyum, lalu tertawa kecil ketika salah satu temannya mengatakan sesuatu. Ada beberapa siswa yang berlalu-lalang di antara mereka, membuat Renji harus menunggu sampai pandangan mereka bertemu.

Aoi melihatnya.

Senyumnya berubah sedikit.

Bukan hilang, melainkan menjadi lebih lembut.

Renji mengangkat satu tangan, memberi isyarat kecil.

Aoi membalas.

Beberapa detik kemudian, Aoi menyerahkan barang yang sedang dibawanya kepada temannya dan berjalan mendekat.

"Renji-kun?"

"Kamu sudah selesai?"

"Hampir. Tinggal beres-beres sedikit." Aoi melihat ke arah lapangan, lalu kembali menatap Renji. "Kamu sendiri? Tugas patroli sudah selesai?"

"Sudah."

"Inspektur Spatula nggak mengganggu?"

Renji tertawa pendek. "Dia sedang istirahat."

Aoi menahan senyum. "Miyu-chan pasti capek."

"Dia justru kelihatan bangga."

"Itu juga benar."

Renji memasukkan tangan ke saku lagi. Untuk beberapa detik, ia tidak mengatakan apa-apa. Aoi tampaknya menyadari ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Ia memiringkan kepala sedikit, menatap Renji dengan ekspresi penasaran.

"Ada apa?"

"Enggak."

"Renji-kun."

"Kenapa?"

"Kamu kelihatan seperti mau mengatakan sesuatu."

Renji terdiam.

Tepat.

Aoi memang terlalu peka.

Namun justru karena itu, Renji tidak ingin berputar-putar lagi. Dari lapangan terdengar suara tepuk tangan ketika musik berganti, dan pengumuman dari pengeras suara sekolah memberitahukan bahwa acara api unggun akan segera dimulai. Para siswa mulai bergerak menuju area utama. Suasana berubah menjadi lebih ramai dalam hitungan detik.

Renji menoleh ke lapangan.

Lalu kembali kepada Aoi.

"Ayo."

Aoi berkedip.

"Ke mana?"

"Sebentar saja."

Renji mengulurkan tangan.

Tidak langsung menggenggam.

Hanya mengulurkannya di antara mereka.

Aoi melihat tangan itu.

Kemudian melihat wajah Renji.

Pipi Aoi perlahan berubah merah.

"Kita mau ke mana?"

"Belakang gedung."

"Belakang gedung?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Kalau aku bilang sekarang, nanti kamu bilang enggak."

Aoi tertawa pelan. "Aku nggak seperti itu."

"Justru karena kamu terlalu baik."

Aoi tidak segera menjawab.

Di belakang mereka, teman-teman Aoi mulai memanggil namanya dari arah kelas. Namun Aoi hanya menoleh sebentar, lalu kembali melihat Renji. Ada keraguan kecil di matanya, bukan karena ia tidak mau mengikuti, tetapi karena ia mulai memahami bahwa ajakan ini bukan sekadar ajakan biasa.

Ia meletakkan tangannya di tangan Renji.

Jari mereka bertemu.

Renji merasakan telapak tangan Aoi sedikit dingin meskipun udara sore tidak terlalu sejuk.

"Ayo," kata Aoi pelan.

Renji menggenggam tangannya dengan lembut.

Mereka berjalan.

Kerumunan di lapangan justru membantu mereka. Ketika siswa lain bergerak ke arah berlawanan, Renji dan Aoi menyelinap melewati sisi gedung, melewati pintu belakang yang jarang digunakan selama festival, lalu masuk ke jalur sempit di antara gedung sekolah dan pagar luar. Suara musik dari lapangan semakin lama semakin jauh. Riuh percakapan berubah menjadi gema samar, sementara suara sepatu mereka terdengar lebih jelas di atas permukaan beton.

Aoi masih menggenggam tangan Renji.

"Jadi..." katanya.

"Hm?"

Lihat selengkapnya