Spatula kayu itu masih terangkat di depan tubuh Miyu ketika Aoi berdiri beberapa langkah darinya. Cahaya senja yang menembus sela-sela daun pohon sakura membuat permukaan spatula tampak keemasan, seolah-olah benda dapur itu benar-benar merupakan senjata legendaris yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun ancaman tersebut tidak menghasilkan reaksi apa pun dari Aoi. Ia hanya memandang Miyu dengan ekspresi lembut, kemudian menggeser pandangannya sedikit ke arah kostum kardus yang masih dikenakan gadis kelas satu itu. Renji yang berdiri di samping Aoi langsung menyadari sesuatu yang membuat tengkuknya terasa dingin. Bukan karena Aoi takut. Justru sebaliknya. Aoi sama sekali tidak takut.
"Miyu-chan," panggil Aoi pelan.
Miyu menggenggam spatula lebih erat.
"Aku serius."
"Aku tahu."
"Aku tidak bercanda."
"Aku juga tahu."
"Kalau begitu jangan mendekat."
Aoi tersenyum.
"Kenapa?"
Miyu terdiam.
Pertanyaan itu terlalu sederhana.
Ia sudah menyiapkan berbagai kemungkinan sebelumnya. Aoi akan mundur. Aoi akan memanggil Renji. Aoi mungkin tertawa gugup karena mengira Miyu hanya sedang mengancam secara main-main. Kalau perlu, Miyu sudah menyiapkan kalimat lanjutan mengenai "Dekrit Perlindungan Kakak Bab 1 Pasal 1" yang tadi diteriakkannya melalui pengeras suara mini. Ia bahkan sudah memikirkan kemungkinan bahwa Aoi akan mencoba merebut spatula tersebut.
Tetapi Aoi tidak melakukan satu pun dari semua kemungkinan itu.
Aoi hanya berdiri di sana.
Tenang.
Memandang Miyu seperti seseorang yang sedang melihat anak kecil berdiri terlalu dekat dengan jalan raya.
"Miyu-chan," katanya lagi, kali ini sedikit lebih lembut. "Boleh aku mendekat?"
Miyu membuka mulut.
Tidak ada suara keluar.
Renji mengangkat alis.
"Ini jebakan," pikirnya.
Bukan jebakan yang direncanakan Aoi dengan sengaja. Justru itu yang membuatnya lebih berbahaya. Renji sudah cukup lama mengenal Aoi untuk tahu bahwa ketika gadis itu menggunakan nada suara seperti itu, ia tidak sedang mencoba memenangkan perdebatan. Ia hanya sedang mengaktifkan sisi motherly-nya. Dan entah bagaimana, setiap kali sisi itu muncul, semua pertahanan Miyu selalu berakhir dengan cara yang sama.
Miyu menelan ludah.
"K-kalau cuma mendekat..."
"Un."
"Jangan sentuh spatulanya."
"Baik."
"Dan jangan coba-coba mengambil Onii-chan."
Aoi mengangguk.
"Aku nggak akan mengambil Onii-chan-mu."
Miyu menatapnya tajam.
Kemudian, perlahan, ia menurunkan spatulanya.
Renji mengembuskan napas.
Satu langkah.
Aoi maju.
Miyu mundur setengah langkah.
Aoi berhenti.
Miyu memegang spatula di depan dada, tetapi tidak lagi mengarahkannya. Kostum kardus yang dikenakannya sejak tadi membuat pemandangan itu semakin tidak masuk akal. Sebagian kardus menutupi bahu dan punggungnya, sementara sebuah lubang kecil di bagian depan digunakan sebagai tempat melihat. Di sela-sela rambut hitamnya, beberapa ranting kecil dan daun kering menempel akibat aksi melompat dari pohon yang sama sekali tidak elegan beberapa menit sebelumnya.
Aoi memperhatikannya.
"Miyu-chan."
"Apa?"
"Diam sebentar."
"Kenapa?"
"Rambutmu."
Miyu langsung menyentuh kepalanya.
"Apa?"
"Ada sesuatu."
"Apa?"
Aoi mendekat lagi.
Kali ini Miyu tidak mundur.
Aoi berjongkok di depannya, kemudian perlahan berlutut agar posisi mata mereka sejajar. Lutut seragamnya menyentuh rumput yang agak kering di bawah pohon sakura. Dari jarak sedekat itu, Aoi bisa melihat wajah Miyu yang memerah karena berlari, rambut yang sedikit berantakan, dan keringat tipis di dekat pelipisnya.
Miyu membeku.
"Jangan bergerak dulu."
"T-tapi..."
"Ada ranting kecil."
Aoi mengangkat tangan.
Jari-jarinya menyentuh rambut Miyu dengan sangat hati-hati.
Satu helai.
Kemudian satu lagi.
Ranting kecil yang tersangkut di antara rambut ditarik keluar. Setelah itu Aoi mengambil daun kering yang menempel di dekat belakang kepala Miyu dan membuangnya ke tanah. Gerakannya begitu ringan sehingga Miyu bahkan tidak sempat menghindar. Ia hanya berdiri diam sambil menatap Aoi dengan mata yang semakin lama semakin membesar.
Renji memperhatikan dari belakang.
Ia sudah tahu.
Ia benar-benar sudah tahu apa yang akan terjadi.
"Jangan..." gumam Renji.
Miyu menoleh sedikit.
"Apa?"
Renji mengangkat satu tangan.
"Enggak."
Aoi masih memeriksa rambut Miyu.
"Masih ada satu."
"Apa?"
"Daun."
Aoi mengambil daun terakhir dari atas kepala Miyu.
Kemudian tangannya tidak segera menjauh.
Telapak tangan Aoi berhenti di atas kepala Miyu.
Miyu menatapnya.
Aoi tersenyum.
Lalu mengusap kepala Miyu.
Pelan.
Sangat pelan.
Jari-jari Aoi menyisir rambutnya dari atas kepala menuju belakang dengan gerakan lembut, seolah-olah sedang menenangkan anak kecil yang baru saja pulang setelah hari yang melelahkan. Tidak ada unsur mengejek. Tidak ada niat mempermalukan. Hanya sentuhan sederhana yang penuh kehangatan.
Dan efeknya langsung terjadi.
Miyu berhenti bergerak.
Spatula kayu yang masih berada di tangan kanannya turun perlahan.
Matanya berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Kemudian bahunya yang sejak tadi tegang perlahan jatuh.
"Eh..."
Suaranya sangat kecil.
Aoi tersenyum.
"Capek, ya?"
Miyu menggeleng cepat.
"Enggak."
Aoi mengusap kepalanya lagi.
"Benarkah?"
"Benar."
Usapan kedua.
Miyu memejamkan mata sepersekian detik.
Renji menutup wajah dengan satu tangan.
"Sudah."
Tidak ada yang menjawab.
Aoi tetap mengusap kepala Miyu.
Miyu membuka mata lagi, tetapi tatapan tajam yang biasanya ia gunakan untuk mengintimidasi orang lain sudah tidak ada. Yang tersisa hanya ekspresi bingung dari seseorang yang sistem pertahanannya sedang mengalami gangguan total. Wajahnya perlahan memerah dari pipi sampai telinga.
"Onii-chan..."
"Hm?"
"Jangan lihat."
Renji menurunkan tangan dari wajahnya.
"Kenapa?"
"Jangan lihat aku."
"Kenapa?"
"Aku sedang..."
Miyu kesulitan menemukan kata.
"Sedang apa?"
"...tidak tahu."
Renji hampir tertawa.
Aoi mengusap kepalanya sekali lagi.
Miyu menegang.
Kemudian langsung lemas lagi.
Renji benar-benar menepok jidat.
"Ya ampun."