Angin malam bergerak pelan di belakang gedung sekolah, membawa sisa kehangatan dari aspal yang seharian dipanggang matahari dan aroma samar dari festival budaya yang belum sepenuhnya hilang. Lampu-lampu di sisi gedung sudah menyala, memantulkan warna kekuningan ke jendela kelas yang sebagian besar telah gelap. Di bawah pohon sakura tua yang berdiri sedikit menjauh dari bangunan, Miyu masih duduk dengan tubuh kaku yang perlahan kehilangan tenaga, sementara tangan Aoi belum berhenti mengusap kepalanya. Rambut Miyu yang tadi berantakan karena aksi penyamaran kardus kini sudah jauh lebih rapi, meskipun beberapa helai masih mencuat di sisi pipinya. Anehnya, gadis yang beberapa menit lalu menjatuhkan diri dari atas pohon sambil membawa megafon mini dan spatula kayu itu sekarang hanya diam seperti kucing yang baru selesai dimandikan.
Renji masih berdiri beberapa langkah di depan mereka. Jantungnya berdegup keras sampai ia sendiri merasa suara detaknya mungkin terdengar ke seluruh halaman belakang sekolah. Kalimat yang tadi hendak ia ucapkan sebelum diganggu Miyu masih terasa menggantung di udara, tetapi sekarang situasinya justru berubah menjadi jauh lebih aneh daripada yang ia bayangkan. Di satu sisi ada Miyu yang sedang menikmati headpat tanpa sadar, di sisi lain ada Aoi yang terlihat tenang seolah tidak ada yang aneh dengan semua ini. Namun ketika Aoi perlahan mendongakkan wajahnya dan menatap langsung ke mata Renji, suasana mendadak berubah.
Tatapan Aoi tidak lagi sekadar lembut seperti ketika ia berbicara kepada Miyu. Ada sedikit gugup di sana, sedikit rona merah di pipinya, dan senyum kecil yang membuat Renji langsung tahu bahwa kali ini Aoi benar-benar sedang menunggunya. Tangan Aoi masih berada di atas kepala Miyu, jemarinya bergerak perlahan menyisir rambut gadis itu. Miyu tidak bereaksi sedikit pun. Renji menelan ludah, lalu berdiri lebih tegak.
"Aoi-san..."
"Hmm?"
"Aku tadi sebenarnya mau bilang..." Renji berhenti sebentar, berusaha mengatur napas. "Aku suka sama kamu. Bukan cuma sebagai teman atau teman sekelas yang sering bantu aku. Aku benar-benar suka sama kamu. Jadi... kalau kamu nggak keberatan, aku mau kamu jadi pacarku."
Untuk beberapa detik, hanya suara serangga malam yang terdengar dari balik semak-semak. Renji bahkan bisa mendengar suara kipas ventilasi dari sisi gedung yang berputar dengan dengungan monoton. Ia sudah membayangkan banyak kemungkinan sejak beberapa minggu terakhir. Ditolak. Diterima. Aoi tertawa karena menganggapnya terlalu serius. Aoi meminta waktu untuk berpikir. Bahkan kemungkinan Miyu muncul lagi dari balik pohon sebenarnya sudah masuk daftar prediksinya. Tetapi ia sama sekali tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi keheningan seperti ini.
Aoi menatapnya cukup lama sampai Renji mulai merasa telapak tangannya berkeringat. Lalu sudut bibir gadis itu perlahan terangkat.
"Jawabannya..." Aoi menarik napas kecil, kemudian tersenyum lebih lebar. "Iya. Aku mau jadi pacar kamu."
Renji membeku.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Di dalam kepalanya, sesuatu meledak.
Diterima.
Ia benar-benar diterima.
Seluruh suara di sekitar mendadak seperti menghilang. Renji hanya bisa melihat Aoi yang tersenyum di depannya, wajahnya sedikit memerah karena malu, sementara tangannya masih mengusap kepala Miyu. Selama ini ia memang sudah menyadari bahwa Aoi mungkin memiliki perasaan yang sama. Cara Aoi memperlakukannya, perhatian kecil yang selalu diberikan, bento yang kadang dibuatkan, cara gadis itu mengingat hal-hal sepele tentang dirinya, semuanya sudah cukup menjadi petunjuk. Tetapi mengetahui kemungkinan itu berbeda dengan mendengar langsung jawabannya.
Aku punya pacar.
Renji hampir tertawa sendiri.
Selama ini ia harus menghadapi Miyu yang menganggap lantai dua dan tiga sebagai wilayah berbahaya, harus menghindari serangan spatula kayu, harus menyuap adiknya dengan janji makanan, bahkan harus bersaing dengan kepala Miyu sendiri untuk mendapatkan perhatian Aoi. Semua kekacauan itu, entah bagaimana, membawa dirinya sampai ke titik ini.
Kalau dipikir-pikir, perjalanan cintanya benar-benar tidak normal.
Tetapi tetap saja berhasil.
Renji mengepalkan tangan kecil di sisi tubuhnya agar tidak terlihat terlalu berlebihan. Dalam hati ia sudah berteriak sekeras mungkin.
YES!
Akhirnya!
Gue berhasil!
Namun ekspresi wajahnya masih berusaha dipertahankan tetap tenang. Setidaknya sampai Aoi tertawa kecil melihat perubahan ekspresinya.
"Renji-kun, kamu kelihatan seperti baru menang ujian masuk universitas."
"Lebih penting dari itu."
"Begitu?"
"Jauh lebih penting."
Aoi tersenyum. "Senang?"
Renji akhirnya menyerah mempertahankan ketenangannya. "Banget."
Aoi menundukkan wajah sedikit, pipinya kembali memerah. "Aku juga."
Kedua mata Renji langsung berbinar lagi.
Namun sebelum suasana berubah menjadi adegan romantis yang sepenuhnya normal, tangan Aoi yang sejak tadi mengusap kepala Miyu berhenti.
Miyu masih diam.
Aoi melihatnya.
Renji melihatnya.
Keduanya lalu saling pandang.
Miyu duduk dengan kedua tangan di atas paha, punggung sedikit membungkuk, wajah kosong, rambut masih sedikit berantakan, dan mata setengah terpejam. Spatula kayu yang tadi dibawanya bahkan sudah tergeletak begitu saja di samping sepatu. Aura intimidasi yang biasanya membuat siswa kelas dua atau tiga memilih mengambil jalan memutar telah lenyap tanpa jejak.
Aoi tersenyum lembut.
"Ngomong-ngomong, Renji-kun."
"Hm?"
"Aku punya satu syarat."
Renji langsung waspada.
Satu syarat.
Kata-kata itu terdengar sederhana, tetapi pengalaman beberapa minggu terakhir telah mengajarinya bahwa sesuatu yang keluar dari mulut Aoi dengan senyum selembut itu bisa berakhir sangat tidak terduga.
"Syarat?"
Aoi mengangguk.
"Tapi sekarang kita bawa adikmu beli es krim dulu yuk?"
Renji berkedip.
"Hah?"
"Kasihan dia sudah kerja keras seharian."
Renji menatap Miyu.
Miyu menatap tanah.
Tidak ada reaksi.
"Kerja keras?" ulang Renji.
Aoi mengangguk serius. "Dia mengikuti kita dari tadi, menyamar pakai kardus, membawa spatula kayu, terus jatuh dari pohon. Menurutku itu cukup melelahkan."
Renji menatap kardus yang tergeletak beberapa meter dari mereka. Kardus itu sudah penyok di satu sisi dan memiliki dua lubang mata yang dipotong tidak simetris. Di sampingnya terdapat megafon mini dan spatula kayu yang bentuknya sekarang sedikit miring akibat digunakan sebagai alat gertak.
"Kalau dipikir-pikir..." Renji menggaruk pipinya. "Iya juga."
Miyu akhirnya mengangkat wajah.
"Aku... tidak butuh es krim."
Suaranya lemah.
Renji menahan senyum.
Ini bukan Miyu yang biasanya.
Biasanya kalimat seperti itu akan disertai sorot mata tajam, tuduhan terhadap Aoi, dan setidaknya tiga ancaman terhadap siapa pun yang berusaha mendekati kakaknya. Sekarang ia bahkan tidak punya tenaga untuk mengangkat spatula.
Aoi kembali mengusap kepalanya.
"Es krim?"
Miyu langsung diam.
"Enggak perlu..."
Usapan kedua.
"Tapi..."
Usapan ketiga.
Mata Miyu perlahan menutup.
"...kalau Aoi-san yang beliin..."
Renji hampir tertawa.
Aoi tersenyum puas.
"Kalau begitu ayo."
Miyu mengangkat kepala sedikit. "Aku belum bilang mau."
"Tapi tadi bilang kalau aku yang beli."
"Itu... bukan berarti aku mau!"
Aoi mengusap kepalanya lagi.
Miyu langsung kembali lemas.
Renji menutup mulut dengan tangan agar tidak tertawa keras.
"Kenapa kamu bisa kalah terus sama headpat?" tanyanya.
Miyu membuka satu mata.
"Onii-chan..."
"Hm?"
"Jangan bicara."
"Kenapa?"
"Aku sedang tidak punya tenaga untuk memukulmu."
Renji tertawa kecil. "Oh, begitu."
"Dan jangan berpikir kamu menang."
"Aku nggak bilang apa-apa."
"Ekspresimu bilang begitu."
"Memang."
Miyu mengerang kecil, lalu kembali menundukkan kepala. Aoi tertawa pelan melihat mereka.
Malam sudah semakin gelap ketika mereka meninggalkan belakang gedung sekolah. Lampu jalan di sepanjang trotoar menyala satu demi satu, membentuk garis cahaya yang memanjang menuju jalan utama. Festival budaya telah selesai untuk hari itu, sehingga suara siswa yang tadi memenuhi halaman mulai menghilang. Beberapa poster yang menempel di papan pengumuman bergerak tertiup angin, sementara sisa pita dekorasi di dekat pintu aula bergoyang pelan.
Renji berjalan di sisi Miyu.
Awalnya ia hanya membiarkan adiknya berjalan sendiri, tetapi langkah Miyu begitu lambat sehingga jarak antara dirinya dan Aoi semakin jauh. Aoi beberapa kali menoleh ke belakang, memastikan Miyu masih mengikuti mereka. Akhirnya Renji menghela napas, lalu merangkul bahu Miyu.
"Ayo."
Miyu tidak melawan.