Malam sudah cukup larut ketika pintu rumah keluarga Renji akhirnya terbuka. Suara engsel pintu depan terdengar pelan, disusul bunyi sepatu yang dilepas di genkan dan langkah kaki yang masuk ke ruang utama. Setelah seharian berada di sekolah, mengurus sisa Bunkasai, mengejar Renji, menyamar sebagai kardus, menjatuhkan diri dari pohon, menerima headpat berkali-kali dari Aoi, lalu menghabiskan es krim di bawah lampu jalan, tubuh Miyu sebenarnya sudah mencapai batas kemampuan operasionalnya. Namun bukan rasa lelah yang membuatnya bergerak begitu cepat. Begitu melewati ruang keluarga dan melihat ibunya sedang duduk santai sambil merapikan beberapa barang festival, Miyu hanya menundukkan kepala sekilas, lalu berlari menaiki tangga menuju lantai atas tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Miyu?" panggil Kasumi dari bawah.
Tidak ada jawaban.
Pintu kamar Miyu terdengar ditutup.
Kemudian terdengar bunyi gedebuk dari lantai atas.
Kasumi mengangkat wajahnya dari ruang keluarga. Beberapa detik kemudian Renji masuk sambil menguap, membawa tas sekolah yang sudah penuh dengan barang-barang festival. Kenji masih berada di ruang makan dengan koran terbuka di depannya, seolah suara anak bungsunya yang melarikan diri ke kamar tidak lebih penting daripada berita ekonomi malam itu.
"Dia kenapa?" tanya Kasumi.
Renji melepas jaket seragamnya.
"Capek."
"Capek atau kalah?"
Renji berhenti.
Ia menoleh kepada ibunya dengan ekspresi yang langsung mengandung senyum usil.
"Kayaknya dua-duanya."
Kasumi menahan tawa.
"Jadi?"
"Diterima."
"Oh."
Satu kata pendek itu keluar dari mulut Kasumi dengan nada yang terlalu tenang untuk sebuah kabar sebesar itu. Ia hanya tersenyum, kemudian kembali merapikan pita dekorasi yang dibawa pulang dari sekolah. Renji sempat menatap ibunya beberapa detik, seolah menunggu reaksi yang lebih dramatis, tetapi Kasumi malah mengambil gunting kecil dan memotong ujung pita yang kusut.
"Ibu nggak kaget?"
"Kenapa harus kaget? Dari cara Aoi-chan datang ke rumah, bantu masak, bantu belajar, dan menghadapi Miyu tanpa pernah benar-benar marah, Ibu sudah bisa menebak."
Renji menghela napas.
"Semua orang ternyata sudah tahu kecuali gue yang harus nembak duluan."
"Begitulah kehidupan."
Kenji menurunkan korannya sedikit.
"Selamat."
Renji menoleh.
"Terima kasih, Ayah."
Kenji kembali mengangkat koran.
"Jangan berisik."
"......"
Renji menatap ayahnya dengan wajah datar.
Kasumi tertawa kecil.
Sementara itu, di lantai dua, dunia Miyu sedang mengalami krisis yang jauh lebih besar daripada persoalan hubungan asmara kakaknya.
Miyu sudah berada di dalam kamar sejak kurang dari satu menit setelah menaiki tangga. Tas sekolahnya dilempar begitu saja ke samping meja belajar, pita rambut dilepas tanpa dirapikan, lalu tubuhnya langsung meluncur ke atas futon. Ia menarik selimut sampai menutupi kepala, kemudian menggulung tubuhnya sendiri seperti makhluk hidup yang berusaha menghilang dari dunia.
Di balik selimut, wajah Miyu merah.
Bukan karena marah.
Bukan sepenuhnya.
Ia sendiri tidak tahu.
Yang ia tahu hanyalah bahwa hari ini adalah bencana.
Bencana total.
Kehancuran sistem.
Kekalahan strategis.
"Kenapa..." gumamnya dari balik selimut. "Kenapa tadi aku pasrah pas diusap kepalanya?!"
Kedua tangannya mengepal di depan dada.
"Harusnya aku tebas!"
Ia mengayunkan kepalan tangan ke bantal.
Buk.
"Harusnya aku bilang, 'Jangan sentuh Onii-chan!'"
Buk.
"Harusnya aku jatuh dari pohon dengan lebih keren!"
Buk.
"Harusnya aku..."
Miyu berhenti.
Ia mengingat kembali kejadian di belakang gedung sekolah.
Aoi berlutut di depannya.
Rambut Miyu berantakan karena jatuh dari pohon. Ada ranting kecil yang tersangkut di antara helai rambutnya. Aoi tidak tertawa. Tidak mengejek. Tidak mengomel karena Miyu mengganggu momen pengakuan cintanya dengan Renji. Gadis itu justru membersihkan ranting tersebut dengan hati-hati, kemudian mengusap kepalanya dengan telapak tangan yang hangat.
Makasih ya udah jagain Kakakmu sampai jam segini...
Miyu menarik selimut lebih tinggi.
"Jangan ingat lagi!"
Ia berguling ke kanan.
Kemudian ke kiri.
Kemudian kembali tengkurap.
Tidak berhasil.
Ingatan itu tetap ada.
Lebih buruk lagi, ia bisa mengingat sensasi telapak tangan Aoi dengan sangat jelas. Sentuhan lembut di atas rambutnya, gerakan jemari yang perlahan menyisir bagian atas kepalanya, dan suara Aoi yang selalu terdengar tenang setiap kali berbicara kepadanya. Tidak ada paksaan. Tidak ada ejekan. Justru itulah yang membuat semuanya menjadi sangat sulit dilawan.
Kalau Aoi bersikap menyebalkan, Miyu bisa membencinya.
Kalau Aoi bersikap kasar, Miyu bisa membalas.
Kalau Aoi mencoba merebut Renji dengan cara terang-terangan, Miyu bisa menyusun strategi pertahanan.
Masalahnya, Aoi tidak melakukan semua itu.
Aoi malah memberinya syal ketika hujan.
Memberinya tamagoyaki.
Mengajarinya membuat bento.
Mengusap kepalanya.
Memeluknya ketika kedinginan.
Mengajaknya membeli pakaian.
Memberinya es krim.
Dan malam ini, gadis itu bahkan menerima perasaan Renji sambil tetap memikirkan apakah Miyu sudah cukup lelah untuk mendapatkan makanan manis.
Miyu menekan wajahnya ke bantal.
"Curang..."
Suaranya teredam kain.
"Onee-san itu curang..."
Ia mengangkat kepala sedikit.
"Kalau dia jahat, aku bisa menang."
Miyu memeluk bantal lebih erat.
"Tapi kalau dia baik..."
Ia terdiam.
Kalimat itu tidak pernah selesai.
Karena ada satu pertanyaan yang sejak tadi berputar di kepalanya.
Kalau Aoi benar-benar menjadi pacar Renji, apa yang sebenarnya hilang dari dirinya?
Miyu membayangkan masa depan.
Renji pulang sekolah bersama Aoi.
Aoi datang ke rumah.
Aoi memasak bersama Kasumi.
Aoi duduk di ruang keluarga.
Aoi memanggilnya dengan suara lembut.
Aoi mungkin akan menjadi seseorang yang sangat dekat dengan keluarga mereka.
Dan suatu hari nanti, kalau semuanya berjalan jauh...
Miyu langsung bangkit dari dalam selimut.
"Tunggu."
Wajahnya memucat.
"Calon kakak ipar?"
Ia mematung.
Pikiran itu terdengar terlalu nyata.
Aoi bukan lagi sekadar siswi kelas dua yang sering mengganggu sistem pertahanan Miyu. Sekarang statusnya sudah berubah. Aoi resmi menjadi pacar Renji.
Pacar.
Kanojo.
Berarti hubungan itu bisa bertahan.
Bisa menjadi serius.
Bisa membuat Aoi semakin sering datang ke rumah.
Bisa membuat Aoi semakin dekat dengan keluarga.
Dan kalau semuanya berjalan sesuai jalurnya...
Miyu menatap kosong ke dinding.
"...Kakak ipar."
Wajahnya kembali merah.
"Kenapa aku malah mikirin sejauh itu?!"
Ia menjatuhkan diri lagi ke kasur.
Namun kali ini ia tidak memukul bantal.
Ia hanya menatap langit-langit kamar dari bawah selimut dengan ekspresi rumit.
Aneh.
Sangat aneh.
Kalau dipikir-pikir, selama ini yang paling ia takutkan bukanlah Aoi menjadi pacar Renji.
Yang ia takutkan adalah kehilangan posisi dirinya sendiri.
Miyu terbiasa menjadi orang yang paling dekat dengan Renji di rumah. Ia terbiasa mengetahui kapan kakaknya lapar, kapan kakaknya pulang, kapan kakaknya membutuhkan sesuatu, dan kapan kakaknya sedang menyembunyikan camilan di kamar. Ia terbiasa menjadi adik yang paling sering mengomel, paling sering mengawasi, dan paling sering membuat Renji kesal.
Tetapi Aoi datang dan melakukan sesuatu yang berbeda.
Aoi tidak mencoba menggantikan Miyu.
Ia hanya menambahkan dirinya sendiri.
Ia memasuki ruang yang selama ini Miyu kira harus dijaga, tetapi bukannya mengambil tempat, Aoi malah membuka ruang baru di sebelahnya.
Miyu membenci kenyataan itu.
Karena ternyata ia tidak bisa menemukan alasan untuk menolak.
"Kalau dia jadi kakak iparku..." Miyu bergumam pelan.
Ia membayangkan Aoi duduk di dapur bersama Kasumi.
"Masak bareng Ibu..."
Lalu membayangkan Aoi memberinya bento.
"Ngajarin aku masak..."
Kemudian membayangkan Aoi mengusap kepalanya lagi.
Miyu langsung menarik selimut sampai menutupi wajah.