ImouKano: Imouto vs Kanojo

Diva Amane
Chapter #24

Kunjungan ke Rumah Pacar

Libur musim panas seharusnya menjadi masa ketika seorang siswa SMA bisa melepaskan diri sejenak dari tekanan sekolah, tidur sedikit lebih lama, bermain gim sampai lupa waktu, atau sekadar bermalas-malasan di ruang keluarga sambil menikmati pendingin udara. Bagi Renji, semua itu terdengar seperti rencana yang cukup masuk akal. Bagi Miyu, libur musim panas justru memberikan satu keuntungan strategis yang jauh lebih penting: kakaknya memiliki lebih banyak waktu untuk bertemu Aoi. Dan sejak Aoi resmi menjadi pacar Renji, jumlah kemungkinan terjadinya sesuatu yang mencurigakan juga meningkat secara eksponensial. Karena itu, ketika Renji suatu siang mengatakan bahwa mereka akan berkunjung ke rumah Aoi, Miyu langsung mengangkat kepala dari meja makan dengan tatapan yang terlalu tajam untuk sebuah ajakan sederhana.

"Ke rumah Aoi-san?" ulang Miyu.

"Iya."

"Rumahnya?"

"Iya."

"Rumah tempat dia tinggal?"

Renji berhenti mengunyah.

"Kalau rumahnya bukan tempat dia tinggal, namanya apa?"

Miyu menyipitkan mata. "Jangan bercanda, Onii-chan."

"Aku serius."

"Kenapa kita harus ke sana?"

Renji meletakkan sumpitnya. "Karena Aoi ngajak makan siang. Katanya sekalian ingin mengenalkan kita lebih baik ke keluarganya kalau kebetulan mereka ada di rumah. Ibu juga sudah tahu."

Miyu langsung diam. Di kepalanya, satu demi satu kemungkinan terbuka seperti papan investigasi yang baru saja dipenuhi benang merah. Rumah Aoi. Kamar Aoi. Barang-barang pribadi Aoi. Kebiasaan sehari-hari Aoi. Lemari pakaian. Rak buku. Meja belajar. Semua informasi yang selama ini tidak pernah bisa ia dapatkan di sekolah sekarang berada dalam jangkauan. Miyu menunduk perlahan, lalu menyembunyikan senyum kecil di balik gelas teh.

"Baik."

Renji mengangkat alis.

"Baik?"

"Aku ikut."

"Kok cepat banget?"

"Aku cuma mau memastikan..."

Miyu berhenti, lalu memasang wajah setenang mungkin.

"...bahwa rumah pacar Onii-chan aman."

Renji hampir tersedak.

"Rumah orang perlu inspeksi keamanan?"

"Kalau menyangkut Onii-chan, iya."

"Padahal tadi kelihatannya kamu senang."

"Aku tidak senang."

"Ekspresimu beda."

"Aku cuma..."

Miyu mengambil gelas tehnya dan meneguk terlalu cepat.

"...bertanggung jawab sebagai adik."

Renji menahan senyum. Ia mengenal ekspresi itu. Itu bukan ekspresi Miyu ketika merasa khawatir. Itu ekspresi Miyu ketika menemukan peluang baru untuk melakukan sesuatu yang tidak seharusnya ia lakukan. Dan kali ini, Renji cukup yakin adiknya sedang merencanakan sebuah operasi yang tidak akan berhenti pada sekadar duduk manis di ruang tamu.

Ia hanya tidak tahu bahwa beberapa jam kemudian Miyu akan mengalami kehancuran mental akibat menemukan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada kelemahan Aoi.

Kesempurnaan.

Mereka berangkat menjelang tengah hari. Matahari musim panas menggantung tinggi di langit Tokyo, membuat permukaan jalan memantulkan cahaya putih yang menyilaukan. Suara cicada memenuhi pepohonan di sepanjang kawasan perumahan, begitu keras sampai percakapan harus sedikit dinaikkan volumenya ketika mereka melewati jalan yang dikelilingi pepohonan. Renji mengenakan kaus polo sederhana dan celana panjang tipis, sementara Miyu memilih pakaian kasual yang lebih rapi daripada biasanya karena Kasumi sempat mengingatkan bahwa mereka akan bertamu ke rumah orang. Miyu awalnya menganggap komentar itu tidak penting, tetapi lima belas menit sebelum berangkat ia menghabiskan waktu cukup lama di depan cermin memastikan tidak ada bagian pakaiannya yang terlihat terlalu berantakan.

Renji tentu saja memperhatikan.

"Kamu dandan?"

Miyu langsung menoleh tajam.

"Aku cuma merapikan rambut."

"Biasanya nggak peduli."

"Karena ini rumah orang."

"Rumah Aoi."

"Jangan sebut namanya terus."

Renji tertawa.

Miyu mempercepat langkah, tetapi kemudian teringat sesuatu dan kembali berjalan di samping kakaknya.

"Onii-chan."

"Hm?"

"Kalau nanti aku bertanya sesuatu kepada Aoi-san, jangan ikut campur."

"Pertanyaan apa?"

"Pertanyaan biasa."

"Seperti?"

"Rahasia rumah tangga."

Renji berhenti berjalan.

Miyu juga berhenti.

Keduanya saling menatap.

Renji menghela napas.

"Kamu benar-benar mau menyelidiki dia?"

Miyu memalingkan wajah.

"Aku hanya ingin tahu."

"Tahu apa?"

"Celanya."

"Celanya?"

"Semua orang pasti punya."

Renji menggaruk kepala.

"Kalau kamu menemukan dia nggak punya cela?"

Miyu mendengus.

"Itu mustahil."

"Kalau ternyata?"

Miyu menatap jalan di depannya dengan ekspresi penuh keyakinan.

"Berarti dia menyembunyikannya dengan sangat baik."

Renji tertawa.

"Optimis banget."

"Aku realistis."

"Kalau begitu selamat menyelidiki."

Miyu menyipitkan mata.

"Aku akan menemukan sesuatu."

Renji hanya mengangkat bahu.

Dalam hati, ia sudah tahu bahwa perjalanan ini akan menarik.

Rumah Aoi berada di sebuah kawasan perumahan yang lebih tenang, dengan deretan rumah yang berdiri rapi di balik pagar pendek dan pot tanaman yang dirawat dengan baik. Begitu mereka berhenti di depan rumah yang ditunjukkan Aoi, Miyu langsung memperlambat langkah. Rumah itu tidak terlihat mencolok, tetapi seluruh bagian depannya tampak terawat. Pot hydrangea yang sudah mulai melewati masa mekarnya masih tersusun rapi di dekat pintu, sepeda diletakkan sejajar di tempatnya, dan tidak ada barang yang berserakan di genkan.

Aoi sudah menunggu di depan pintu.

Ia mengenakan pakaian rumahan sederhana berupa blus lengan pendek berwarna lembut dan rok panjang kasual, rambutnya diikat setengah ke belakang agar tidak mengganggu pekerjaan. Begitu melihat mereka, wajahnya langsung cerah.

"Renji-kun! Miyu-chan!"

"Siang, Aoi-san."

"Selamat datang."

Aoi sedikit membungkukkan badan.

"Terima kasih sudah mau datang."

Miyu ikut membungkuk dengan gerakan yang sangat formal.

"Permisi."

Aoi tersenyum.

"Masuk, ya."

Mereka melewati genkan setelah melepas sepatu. Miyu menata sepatunya dengan sangat rapi, kemudian berdiri dan melirik ke sekeliling. Tidak ada debu yang terlihat di sudut lantai. Tidak ada payung yang dilempar sembarangan. Rak sepatu tertata berdasarkan jenis dan penggunaan, sementara aroma lembut dari pengharum ruangan bercampur dengan bau masakan yang baru selesai dimasak.

Miyu mengerutkan kening.

Tenang.

Ini baru lantai bawah.

Belum ada apa-apa.

Ia mengikuti Renji dan Aoi menuju ruang tamu. Ruangan itu terang karena sinar matahari masuk dari jendela besar, tetapi tirainya sudah diatur sedemikian rupa sehingga cahaya tidak terasa menyilaukan. Meja rendah di tengah ruangan bersih tanpa satu pun benda yang tidak diperlukan. Di salah satu sudut terdapat rak buku dengan beberapa novel, buku resep, majalah, dan buku pelajaran yang disusun berdasarkan ukuran.

Miyu berhenti.

"Rapi sekali..."

Ia buru-buru menutup mulut.

Aoi menoleh.

"Hm?"

"Enggak."

Miyu segera duduk.

Renji melihat wajah adiknya dan hampir tertawa.

Aoi menawarkan teh dingin, kemudian pergi sebentar ke dapur. Begitu gadis itu menghilang, Miyu langsung mendekatkan wajah kepada Renji.

"Onii-chan."

"Apa?"

"Ini mencurigakan."

Renji menatap ruang tamu.

"Yang mana?"

"Semua."

"Karena rapi?"

"Terlalu rapi."

Renji mengangkat bahu.

"Memangnya kamu berharap ada kaus kaki berserakan?"

"Itu salah satu kemungkinan."

"Kenapa?"

"Untuk membuktikan dia manusia biasa."

Renji menahan tawa.

"Dia manusia biasa."

"Belum terbukti."

Aoi kembali membawa dua gelas teh dingin dan semangkuk kecil camilan. Miyu langsung kembali duduk tegak dengan ekspresi polos. Aoi meletakkan gelas di depan mereka.

"Silakan."

"Terima kasih," jawab Renji.

Miyu mengangguk.

"Terima kasih, Aoi-san."

Aoi tersenyum, kemudian duduk di seberang mereka.

"Kalau Miyu-chan mau lihat-lihat rumah, bilang saja."

Miyu hampir tersedak teh.

Renji menatapnya.

Aoi melanjutkan dengan santai, "Aku sudah cerita ke Ibu kalau kalian datang. Katanya kalian boleh lihat kamar atau ruang kerja kalau penasaran."

Miyu membeku.

Lihat selengkapnya