Malam musim panas di kawasan kuil selalu memiliki suara yang berbeda dari malam biasa. Dari jalan utama menuju halaman kuil, lentera-lentera kertas bergoyang pelan diterpa angin, sementara suara cicada yang sepanjang siang memenuhi pepohonan perlahan digantikan bunyi tawa pengunjung, denting lonceng stan permainan, dan teriakan para pedagang yatai yang menawarkan takoyaki, yakisoba, kakigori, dan jagung bakar. Udara membawa campuran aroma saus manis, minyak panas, dan tanah yang sedikit lembap setelah disiram air oleh petugas untuk mengurangi debu. Di kejauhan, atap bangunan kuil tampak gelap di bawah langit malam, sementara jalur menuju halaman utama dihiasi lentera yang membuat kerumunan manusia terlihat seperti aliran cahaya bergerak. Bagi Renji, semua itu adalah alasan sempurna untuk menikmati malam musim panas bersama pacarnya untuk pertama kalinya dalam suasana seperti ini.
"Keren juga."
Renji berhenti sebentar di depan gerbang torii, kemudian menatap ke arah halaman festival yang semakin ramai. Ia mengenakan yukata berwarna biru gelap dengan pola sederhana, dipadukan obi berwarna lebih terang yang diikat cukup rapi. Rambutnya sedikit lebih berantakan daripada biasanya karena ia sempat beberapa kali mengusap kepala sendiri ketika mencoba menyesuaikan pakaian itu. Namun, setidaknya ia terlihat cukup pantas untuk sebuah kencan musim panas.
Di sampingnya, Aoi berdiri dengan yukata berwarna krem lembut yang memiliki pola bunga kecil di sepanjang kain. Obi-nya tertata rapi, rambutnya ditata sederhana dengan beberapa helai dibiarkan jatuh di dekat pipi, dan sebuah jepit rambut kecil berbentuk bunga terpasang di salah satu sisinya. Ketika cahaya lentera menyentuh wajahnya, Renji sempat kehilangan kata-kata selama beberapa detik.
Aoi menyadarinya.
"Kenapa?"
"Enggak."
"Kamu tadi lihat aku terus."
"Karena..."
Renji menggaruk pipinya.
"...kamu cantik."
Aoi langsung memalingkan wajah.
"Jangan ngomong begitu tiba-tiba."
"Kenapa? Kan benar."
"Pakai suara biasa saja."
"Suara aku memang biasa."
"Enggak."
Aoi tersenyum kecil sambil menundukkan wajah. "Kamu juga kelihatan bagus."
Renji tertawa pelan.
"Kalau begitu impas."
Mereka kemudian berjalan masuk ke area festival. Ada pasangan muda, keluarga dengan anak-anak kecil, sekelompok siswa SMA, dan warga sekitar yang datang bersama tetangga atau kerabat. Di beberapa sisi halaman kuil, stan permainan berdiri berjejer, mulai dari kingyo sukui dengan ikan-ikan kecil yang bergerak cepat di dalam air, tembak target, lempar gelang, sampai permainan kupon berhadiah. Anak-anak berlarian membawa balon dan mainan plastik, sementara orang tua mereka sesekali memanggil agar mereka tidak terlalu jauh.
Renji dan Aoi berjalan berdampingan.
Sesekali tangan mereka hampir bersentuhan.
Setelah beberapa kali berjalan seperti itu, Aoi akhirnya menggerakkan tangannya sedikit lebih dekat. Jari mereka bersentuhan, lalu Aoi dengan hati-hati menggenggam tangan Renji.
Renji menoleh.
Aoi terlihat sedikit malu, tetapi tidak melepaskannya.
"Kenapa?"
"Enggak."
"Jangan senyum begitu."
"Aku cuma senang."
"Karena?"
"Ini kencan pertama kita setelah resmi pacaran."
Aoi terdiam.
Kemudian senyumnya menjadi semakin lembut.
"Iya."
Beberapa meter di belakang mereka, seseorang berdiri di balik stan permainan tembak target.
Sosok itu mengenakan yukata berwarna gelap dengan pola kecil yang sederhana. Tubuhnya kecil, sebagian tertutup papan stan, dan wajahnya sepenuhnya tersembunyi di balik topeng Kitsune berwarna putih dengan garis merah di sekitar mata. Dua telinga rubah pada topeng tersebut membuat sosok itu terlihat seperti makhluk misterius yang sedang mengintai dari balik keramaian.
Miyu menyipitkan mata.
"Target berada di posisi jam dua belas."
Tangannya memegang kipas kecil yang ia gunakan untuk menutupi sebagian leher.
"Jarak sekitar dua puluh meter."
Ia melirik Renji dan Aoi yang sedang berjalan sambil bergandengan tangan.
"Status kontak fisik terdeteksi."
Miyu mengepalkan tangan.
"Situasi memburuk."
Ia menarik napas.
"Tenang."
Topeng Kitsune membuat suaranya terdengar sedikit teredam.
"Topeng ini sempurna. Dengan ini, aku tidak akan dikenali."
Miyu sebenarnya sudah menghabiskan cukup banyak waktu mempersiapkan penyamaran tersebut. Ia memilih yukata yang tidak terlalu mencolok, kemudian mencari topeng Kitsune yang menurutnya bisa memberikan aura misterius. Bahkan sebelum berangkat, ia berdiri cukup lama di depan cermin sambil memiringkan kepala untuk memastikan apakah penampilannya cukup mengintimidasi.
Menurutnya, hasilnya sempurna.
Masalahnya hanya satu.
Tinggi badannya.
Dari kejauhan, sosok bertopeng itu bukan terlihat seperti penguntit misterius.
Lebih mirip anak kecil yang sedang mencari orang tuanya.
Miyu belum menyadari hal tersebut.
Ia melihat Renji dan Aoi berhenti di sebuah stan kakigori.
Aoi menunjuk rasa stroberi.
Renji memilih melon.
Miyu mengepalkan tangan.
"Jangan lengah."
Ia bergerak.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Namun tepat ketika ia keluar dari balik stan, sekelompok pengunjung berjalan melintas di depannya. Miyu mencoba menyelinap melalui celah, tetapi dari sisi lain muncul rombongan keluarga dengan dua anak kecil.
"Permisi..."
Tidak terdengar.
Ia bergeser ke kiri.
Ada orang lain.
Ke kanan.
Ada pasangan.
Miyu mulai kehilangan pandangan terhadap Renji.
"Onii-chan..."
Ia berdiri di ujung kerumunan dan mencoba melihat ke depan.
Yukata biru Renji masih terlihat.
Aoi juga masih terlihat.
Namun semakin Miyu berusaha mendekat, semakin banyak orang yang berada di antara mereka.
Ia mempercepat langkah.
"Permisi. Minggir sedikit..."
Seorang pengunjung tanpa sengaja menyenggol bahunya.
Miyu kehilangan keseimbangan.
"Ah!"
Ia mundur satu langkah.
Kerumunan bergerak.
Dan sebelum sempat memahami apa yang terjadi, tubuh kecilnya ikut terseret arus manusia menuju sisi lain halaman.
"Onii-chan!"
Miyu mencoba melawan.
Tidak berhasil.
Kerumunan malam festival seperti sungai besar. Sekali masuk terlalu jauh, seseorang yang bertubuh kecil tidak mudah keluar dari aliran tersebut. Miyu beberapa kali mencoba menyelinap ke pinggir, tetapi selalu terhalang bahu orang dewasa, yukata yang bergerak, atau anak-anak yang berlari mengikuti orang tua mereka.
Beberapa menit kemudian, ia sudah berada cukup jauh dari tempat Renji dan Aoi tadi berdiri.
Miyu berhenti.
Ia menatap sekeliling.
Tidak ada Renji.
Tidak ada Aoi.
Yang ada hanya kerumunan.
"...."
Ia mengangkat kedua tangan dan menyentuh topeng Kitsune di wajahnya.
"Tenang."
Ia menarik napas.
"Ini bukan masalah."
Ia menoleh ke kiri.
Tidak ada.
Ke kanan.
Tidak ada.
Miyu mulai berjalan mengikuti jalur yang menurutnya akan membawa kembali ke tempat semula.