Musim panas di Tokyo memiliki cara sendiri untuk membuat orang menyerah pada udara. Matahari belum mencapai puncaknya ketika aspal di sekitar kolam renang umum kota sudah memantulkan panas sampai terasa menembus telapak kaki, dan suara anak-anak yang berlarian dari ruang ganti menuju kolam terdengar bercampur dengan pengumuman petugas melalui pengeras suara. Di kejauhan, permukaan air berkilau begitu terang sampai Renji harus menyipitkan mata ketika keluar dari bangunan ruang ganti. Udara membawa aroma khas klorin, tabir surya, dan air yang terus bergerak karena puluhan pengunjung berenang hampir tanpa jeda. Bagi kebanyakan orang, hari seperti itu adalah alasan sempurna untuk mencari tempat teduh, membeli minuman dingin, lalu menghabiskan beberapa jam di dalam air. Bagi Renji, hari itu seharusnya sederhana: berenang, makan sesuatu setelahnya, lalu pulang sebelum panas sore berubah menjadi lebih menyebalkan.
Sampai ia melihat seseorang berdiri di tepi kolam dangkal.
Renji berhenti.
Aoi, yang baru saja keluar di belakangnya, ikut berhenti ketika melihat arah pandangan Renji. Di depan mereka berdiri Miyu dengan pakaian renang yang sederhana dan rambut diikat agar tidak mengganggu wajahnya. Kedua tangannya memegang sebuah pelampung berbentuk bebek kuning berukuran cukup besar, dengan kepala bebek menghadap ke depan dan mata plastik hitam yang terlihat terlalu ceria dibandingkan ekspresi pemiliknya. Miyu menatap Renji dan Aoi dengan wajah serius, dagu sedikit terangkat, seolah-olah sedang berdiri di hadapan garis pertahanan terakhir sebuah benteng musuh.
Renji memijat pelipis.
"Kenapa kamu bawa itu?"
Miyu tidak langsung menjawab. Ia perlahan memasukkan kedua kakinya ke dalam air dangkal, kemudian duduk di tengah pelampung bebek tersebut dengan gerakan penuh kehati-hatian. Setelah memastikan posisinya stabil, ia mencengkeram kedua pegangan di sisi pelampung dan menatap Renji dari seberang permukaan air.
"Ini bukan pelampung."
Renji mengangkat alis.
"Terus?"
"Armada."
Aoi menutup mulutnya, menahan tawa.
"Armada?"
"Armada pengawasan."
Miyu menunjuk Renji dengan satu tangan.
"Mulai sekarang, aku akan memastikan Onii-chan tidak melakukan tindakan mencurigakan di dalam air."
Renji melihat pelampung bebek itu.
Kemudian melihat Miyu.
Kemudian kembali melihat pelampung.
"Kamu sadar kalau bebek kuning itu justru bikin kamu kelihatan lebih gampang ditemukan?"
Miyu langsung tersinggung.
"Ini penyamaran visual!"
"Warnanya kuning terang."
"Karena armada pengintai harus mudah dibedakan dari kapal musuh."
"Logikanya dari mana?"
"Jangan ganggu operasi."
Aoi akhirnya tertawa kecil. "Miyu-chan, hati-hati ya. Kalau di kolam ramai, jangan terlalu jauh dari area yang aman."
"Aku tahu."
"Kalau capek, langsung ke pinggir."
"Aku tahu."
"Dan jangan berdiri di tempat yang dalam kalau belum yakin."
"Aku tahu."
Miyu menjawab semuanya dengan nada sangat tegas, lalu kembali memusatkan perhatian kepada Renji.
Aoi memandang Renji.
"Dia benar-benar sudah merencanakannya."
"Sepertinya."
Renji menghela napas sambil tersenyum.
"Padahal kita cuma mau berenang."
"Kalau ada Miyu-chan, mungkin memang tidak akan pernah sesederhana itu."
Mereka bertiga akhirnya masuk ke area kolam. Kolam umum tersebut dibagi menjadi beberapa bagian dengan kedalaman berbeda, termasuk area dangkal yang dipenuhi keluarga dan anak-anak, serta area yang lebih dalam untuk pengunjung yang ingin berenang lebih serius. Petugas berjaga di beberapa sisi, sementara tanda-tanda keselamatan dipasang jelas di dekat tangga dan pembatas. Pelampung pribadi boleh digunakan di area tertentu selama tidak mengganggu pengunjung lain, dan Miyu tampaknya sudah memastikan bahwa armada bebeknya memenuhi syarat sebelum berangkat.
Setidaknya, kali ini ia cukup patuh terhadap aturan.
Masalahnya adalah apa yang hendak ia lakukan dengan pelampung tersebut.
Renji dan Aoi mulai berjalan ke bagian kolam yang agak lebih dalam. Mereka tidak benar-benar melakukan sesuatu yang romantis. Renji hanya ingin berenang beberapa putaran santai, sementara Aoi ingin menikmati air setelah berminggu-minggu menghadapi udara panas. Namun ketika mereka berhenti di sisi kolam untuk berbicara, Miyu yang sejak tadi mengambang beberapa meter jauhnya langsung memutar kepala.
Target berhenti.
Miyu mempersempit mata.
"Jarak terlalu dekat."
Ia menggerakkan kedua tangan.
Byur.
Pelampung bebek meluncur ke depan.
Aoi menoleh.
"Miyu-chan?"
Miyu lewat di antara mereka.
"Permisi."
Renji menatapnya.
"Kenapa?"
"Jalur navigasi."
"Di antara gue sama Aoi?"
"Ini jalur navigasi."
Pelampung bebek itu terus bergerak hingga berada tepat di antara Renji dan Aoi.
Miyu menatap keduanya dari balik kepala bebek.
"Silakan lanjut berenang."
Renji tertawa.
"Jadi kamu memang sengaja?"
"Aku tidak tahu apa yang kamu maksud."
"Barusan kamu motong jalan."
"Kebetulan."
"Dan kamu berhenti tepat di tengah."
"Kebetulan."
Aoi mengusap rambutnya yang basah ke belakang.
"Miyu-chan, kamu sebenarnya mau berenang atau mau menjaga kami?"
Miyu terdiam beberapa detik.
"...Dua-duanya."
Aoi tersenyum.
"Baiklah."
Renji menghela napas.
"Kalau begini kita harus pakai strategi."
Ia berenang ke sisi kanan.
Miyu langsung mengikuti.
Aoi bergerak ke kiri.
Miyu memutar pelampung.
Renji kembali ke kanan.
Miyu mengejar.
Aoi mendekat dari belakang.
Miyu berbalik lagi.
Dalam waktu kurang dari satu menit, pelampung bebek kuning itu sudah bergerak zig-zag di antara mereka seperti kapal patroli kecil yang kehilangan kompas tetapi memiliki tujuan hidup yang sangat jelas.
Beberapa anak di sekitar bahkan mulai memperhatikannya.
"Papa, lihat bebeknya."
"Jangan menghalangi orang lain, ya."
"Dia muter-muter."
Miyu tidak peduli.
Seluruh fokusnya hanya satu.
Jangan biarkan Renji dan Aoi terlalu dekat.
Renji akhirnya menyadari bahwa semakin ia mencoba menghindar, semakin Miyu bersemangat. Maka, seperti biasa, sisi usilnya mulai bekerja.
Ia menatap pelampung bebek yang sedang berhenti beberapa meter di depannya.
"Miyu."
"Apa?"
"Kamu yakin pelampung itu bisa dikendalikan?"
"Tentu."
"Kalau begitu coba kejar aku."
Miyu langsung menyipitkan mata.
"Tantangan?"
"Kalau bisa."
Renji berenang perlahan menjauh.
Miyu mendayung dengan kedua tangannya.
Tentu saja ia tidak tahu bahwa Renji sengaja mengatur kecepatan agar pelampung itu mudah dikejar. Ia membiarkan Miyu mendekat beberapa meter, kemudian mempercepat sedikit, membuat adiknya harus mendayung lebih kuat.
"Ayo, Onii-chan!"
Miyu semakin serius.
Pelampung bebek meluncur.
Renji berbelok.
Miyu ikut berbelok.
Renji kembali berputar.
Miyu mengejar.
Sampai akhirnya Renji berenang mengitari pelampung bebek itu dan mendorongnya pelan dari sisi luar.
Pelampung berputar.