ImouKano: Imouto vs Kanojo

Diva Amane
Chapter #27

Tugas Musim Panas

Musim panas memiliki satu kebiasaan buruk yang tidak pernah berubah: membuat liburan terasa sangat panjang di awal, lalu mendadak menjadi terlalu pendek ketika tenggat waktu mulai terlihat. Pada minggu pertama Natsuyasumi, hari-hari terasa seperti tidak akan pernah habis. Pagi bisa dipakai untuk tidur lebih lama, siang untuk pergi ke kolam renang, sore untuk membeli es krim, dan malam untuk bermain gim atau menonton sesuatu sampai ketiduran. Namun ketika kalender sudah mendekati akhir liburan dan halaman sekolah kembali mulai memenuhi pikiran, semua tugas yang sengaja disisihkan tiba-tiba muncul seperti pasukan yang sudah menunggu di balik pintu. Di rumah keluarga Amane, pasukan tersebut tidak sekadar muncul. Mereka telah menduduki seluruh meja ruang keluarga.

Miyu duduk di depan meja rendah dengan punggung tegak dan kedua tangan diletakkan di atas tatami. Di hadapannya bertumpuk buku latihan matematika, lembar kerja bahasa Jepang, tugas membaca, laporan singkat untuk pelajaran sains, beberapa lembar latihan bahasa Inggris, serta buku catatan yang sampulnya sudah mulai sedikit tertekuk karena terlalu sering dipindahkan tanpa pernah benar-benar dibuka. Di atas tumpukan itu ada secarik kertas yang ditulis dengan huruf besar oleh Miyu sendiri: TENGGAT: LUSA. Ia menatap tulisan tersebut selama beberapa detik, kemudian perlahan menoleh ke arah kalender dinding. Dua hari. Hanya dua hari.

"...Mustahil."

Suara Miyu begitu datar sampai terdengar lebih menyeramkan daripada teriakan.

Dari sofa di belakangnya, Renji sedang mengerjakan tugas dengan santai. Buku latihan matematika kelas tiga terbuka di pangkuannya, sebuah pensil mekanik berada di antara jari, dan segelas mug berisi teh dingin berdiri di meja samping. Berbeda dengan Miyu, sebagian besar tugas Renji sudah selesai beberapa hari sebelumnya. Ia memang menunda beberapa pekerjaan sampai mendekati akhir, tetapi Renji memiliki kebiasaan yang cukup menyebalkan bagi adiknya: kalau sudah merasa harus mengerjakan sesuatu, ia bisa menyelesaikannya dalam sekali duduk dengan kecepatan yang membuat orang lain kesal.

Miyu memandangnya.

Renji membalik halaman.

Miyu memandang tumpukan tugasnya.

Renji menulis sesuatu.

Miyu kembali memandangnya.

Pensil di tangan Miyu perlahan mulai bergetar.

"Onii-chan."

"Hm?"

"Berapa banyak tugasmu yang tersisa?"

"Sedikit."

"Sedikit itu berapa?"

Renji melihat buku di pangkuannya.

"Matematika tinggal dua halaman. Bahasa Jepang tinggal satu laporan. Yang lain sudah."

Miyu menatap tumpukan miliknya.

Lalu kembali menatap Renji.

"Kamu kapan mulai?"

"Awal bulan."

Ruangan menjadi hening.

Miyu memejamkan mata.

"Kenapa?"

"Kenapa apanya?"

"Kenapa kamu mulai awal bulan?"

"Karena waktu itu masih punya banyak waktu."

Miyu membuka mata perlahan.

"Jangan ngomong seperti orang yang baru menemukan konsep waktu."

Renji menahan tawa.

"Aku cuma jawab."

"Aku juga punya banyak waktu waktu itu."

"Iya."

"Kenapa aku tidak mengerjakannya?"

"Karena kamu bilang, 'Masih ada tiga minggu.'"

Miyu terdiam.

Renji melanjutkan menulis.

"Kemudian kamu bilang, 'Masih ada dua minggu.'"

Miyu menelan ludah.

"Terus?"

"Terakhir kamu bilang, 'Kalau tinggal seminggu, aku pasti serius.'"

Miyu memandang kalender.

Dua hari.

Ia perlahan meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja.

"Kalender adalah musuh."

Renji tertawa.

Miyu langsung meraih pensil.

"Onii-chan."

"Hm?"

"Aku ingin membunuh waktu."

"Kerjakan tugas dulu."

Miyu mengangkat pensil seperti senjata.

"Aku ingin membunuhmu."

Renji langsung menggeser tubuhnya sedikit ke belakang.

"Kenapa aku?"

"Karena kamu tenang sekali!"

"Aku sudah selesai sebagian besar."

"Itu justru membuatku kesal!"

Miyu mengangkat pensil lebih tinggi. Wajahnya mulai memerah, bukan karena malu, melainkan karena campuran frustrasi, panik, dan rasa terhina melihat kakaknya duduk santai di tengah bencana akademik yang ia ciptakan sendiri.

Renji menunjuk pensil itu.

"Jangan dilempar."

"Aku belum melempar."

"Tapi kelihatannya mau."

"Aku sedang mempertimbangkan."

"Pertimbangkan untuk mengerjakan matematika."

Miyu menarik napas panjang.

Kemudian mengembuskannya dengan suara kasar.

"Aku benci Natsuyasumi."

Dari arah dapur terdengar suara tawa kecil.

Kasumi, yang sedang menyiapkan makan siang, melongok dari balik pintu sambil membawa lap dapur di tangannya. Ia memandang tumpukan buku di meja, kemudian melihat ekspresi putrinya yang seperti sedang mempertimbangkan pemberontakan terhadap sistem pendidikan nasional.

"Baru sekarang panik?"

Miyu menoleh.

"Bu."

"Ya?"

"Jangan bicara."

Kasumi mengangkat kedua tangan.

"Baik."

Ia kembali ke dapur.

Renji tersenyum.

Miyu menatapnya.

"Jangan ikut senang."

"Aku enggak."

"Kamu senyum."

"Refleks."

Miyu menggeram pelan lalu membalik halaman buku matematika. Lima menit kemudian, ia masih berada di soal pertama.

Soalnya bukan sulit.

Masalahnya, pikirannya terlalu penuh.

Ia membaca kalimat soal, tetapi angka-angka di halaman seolah bergerak. Tangannya memegang pensil, tetapi ujungnya tidak menyentuh kertas. Dua hari lagi. Dua hari untuk mengerjakan semua itu. Bahkan jika ia belajar sampai malam, masih ada laporan yang harus ditulis dan tugas membaca yang belum disentuh sama sekali.

Ia mulai berkeringat.

"Ini tidak mungkin."

Renji melirik.

"Kamu bisa."

"Jangan bilang bisa kalau tidak membantu."

"Aku bisa bantu."

Miyu langsung menatapnya.

Renji tersenyum.

"Bayarannya satu puding."

Miyu mengambil penghapus.

"Keluar."

Renji tertawa.

Bel rumah berbunyi tepat ketika Miyu hampir benar-benar melempar penghapus.

Kasumi muncul dari dapur.

"Renji, tolong lihat siapa."

Renji bangkit.

Miyu masih menatap buku dengan wajah kusut.

Beberapa detik kemudian terdengar suara Renji dari genkan.

"Aoi!"

Miyu langsung menegakkan punggung.

Pensil di tangannya berhenti.

"Aoi-san?"

Renji terdengar senang.

"Masuk saja."

Miyu menoleh ke arah pintu ruang keluarga.

Aoi muncul beberapa saat kemudian dengan tas kain kecil di tangan. Ia mengenakan pakaian musim panas yang sederhana, rambutnya diikat longgar agar tidak terlalu panas, dan di dalam tasnya tampak beberapa wadah makanan kecil yang disusun rapi. Begitu melihat meja ruang keluarga, langkahnya melambat.

"Oh."

Miyu menunduk.

Aoi memandang tumpukan buku.

Kemudian Miyu.

Kemudian kembali ke tumpukan buku.

"Miyu-chan."

Miyu menelan ludah.

"Iya?"

"Kamu belum mulai?"

"...Sudah."

Aoi mendekat dan melihat satu halaman yang penuh coretan.

"Berapa?"

Lihat selengkapnya