Pagi musim panas di pinggiran Tokyo terasa jauh lebih ramah sebelum matahari naik terlalu tinggi. Udara masih menyimpan kesejukan malam, dedaunan di sepanjang jalan pemukiman bergerak pelan ketika angin turun dari arah perbukitan, dan suara kendaraan yang lewat terdengar jarang dibandingkan hiruk-pikuk siang hari. Jalanan kecil di antara rumah-rumah warga masih dipenuhi bayangan bangunan, sementara beberapa ibu yang baru selesai berbelanja berjalan pulang membawa tas belanja dan menyapa tetangga yang sedang menyiram tanaman. Dari sebuah rumah dua lantai dengan pagar rendah, suara burung kecil terdengar bersahut-sahutan sebelum akhirnya tertelan suara lonceng sepeda yang lewat. Bagi Renji, pagi seperti itu adalah waktu yang sempurna untuk keluar sebentar tanpa tujuan yang terlalu rumit.
"Jadi kita benar-benar mau ke bukit itu?"
Aoi berdiri di samping sepeda Renji sambil merapikan ujung bajunya. Ia mengenakan pakaian kasual yang ringan untuk bersepeda, rambutnya diikat agar tidak mengganggu pandangan, dan sebuah tas kecil tergantung di bahunya. Renji memeriksa rem depan dan belakang, kemudian memastikan ban tidak kekurangan udara sebelum mengangkat kepala.
"Iya. Dari sana katanya bisa kelihatan sebagian kota."
"Kalau naiknya tidak terlalu curam."
"Kalau terlalu curam, kita turun."
Aoi tertawa.
"Kamu selalu punya solusi paling sederhana."
"Karena solusi rumit biasanya bikin capek."
Mereka sudah merencanakan perjalanan itu sejak beberapa hari sebelumnya. Bukan kencan besar seperti festival musim panas atau pergi ke pusat perbelanjaan, hanya perjalanan pagi menuju area perbukitan di pinggiran kota yang memiliki jalur pandang menghadap rumah-rumah dan gedung-gedung di kejauhan. Setelah beberapa minggu musim panas diisi kegiatan sekolah, kolam renang, dan berbagai keributan yang hampir selalu melibatkan Miyu, Renji ingin memiliki beberapa jam yang benar-benar tenang bersama Aoi. Ia bahkan sengaja memilih pagi karena biasanya jalanan lebih sepi dan udara belum terlalu panas.
Namun ketika Renji hendak naik sepeda, suara pintu rumah terbuka terdengar dari belakang.
"Tunggu."
Renji menoleh.
Miyu berdiri di depan pintu.
Ia masih mengenakan pakaian rumah, rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya menunjukkan ekspresi yang sama sekali tidak cocok dengan seseorang yang baru bangun pagi.
"Aku ikut."
Renji mengerutkan kening.
"Ikut ke mana?"
"Ke bukit."
"Kenapa?"
"Karena kalian pergi berdua."
Aoi yang berdiri di samping sepeda langsung tersenyum kecil.
"Miyu-chan mau ikut?"
"Iya."
Renji menghela napas.
"Jalannya lumayan jauh."
"Aku tahu."
"Naik."
Miyu melirik sepeda Renji.
"Enggak."
"Terus?"
"Aku punya cara sendiri."
Renji mulai curiga.
Beberapa menit kemudian, Miyu keluar lagi dari rumah.
Kali ini ia membawa sebuah sepeda kecil berwarna merah tua milik Kasumi. Sepeda itu adalah jenis mamachari yang biasa dipakai Kasumi untuk berbelanja atau mengurus keperluan di sekitar lingkungan, lengkap dengan keranjang besar di bagian depan dan rak belakang yang tampak sudah cukup sering digunakan. Ukurannya jelas sedikit terlalu besar untuk Miyu, tetapi bukan itu yang membuat Renji terdiam.
Miyu mengenakan helm.
Sarung tangannya sudah terpasang.
Tas kecilnya dimasukkan ke keranjang.
Wajahnya serius.
"Aku siap."
Renji memandang sepeda itu.
Kemudian Miyu.
Kemudian kembali ke sepeda.
"Kamu mau naik itu sampai bukit?"
"Kenapa?"
"Itu sepeda Ibu."
"Makanya."
"Dan kamu sudah minta izin?"
Miyu terdiam.
Dari pintu rumah, Kasumi muncul sambil membawa mug kopi.
"Sudah."
Renji menoleh.
"Ibu mengizinkan?"
"Kalau dia mau ikut, biarkan. Tapi jangan ngebut dan jangan main-main di jalan."
Miyu mengangguk dengan penuh keyakinan.
"Aku akan mematuhi semua aturan."
Kasumi menunjuknya.
"Dan jangan pakai sepeda sambil melihat-lihat kakakmu terus."
Miyu langsung membuang muka.
"Aku tidak akan."
Renji tersenyum.
"Padahal jelas bakal."
Miyu menatapnya.
"Onii-chan."
"Hm?"
"Aku akan mengalahkanmu."
"Ini bukan lomba."
"Bagiku lomba."
Aoi menahan tawa.
Kasumi hanya menggeleng sambil menyeruput kopi.
Akhirnya mereka berangkat.
Renji mengendarai sepeda lebih dulu, dengan Aoi duduk di boncengan belakang. Miyu mengikuti beberapa meter di belakang dengan mamachari milik Kasumi. Mereka mengambil jalan lingkungan yang lebih tenang, menjaga kecepatan tetap rendah dan berada di sisi kiri jalan. Sesekali mereka melewati persimpangan kecil, dan Renji selalu memperlambat laju sebelum menyeberang atau berbelok. Jalanan pagi itu cukup aman, tetapi Renji tetap memperhatikan kendaraan yang keluar dari gang sempit maupun pejalan kaki yang berjalan di tepi jalan.
Angin pagi menyentuh wajahnya.
Aoi memegang sisi belakang jok dengan satu tangan.
"Sejuk."
"Iya."
"Enak juga."
"Makanya aku ngajak."
Aoi melihat ke samping.
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Sudah ngajak aku."
Renji tersenyum.
"Kalau sama kamu, pergi ke mana juga enak."
Aoi terdiam.
Kemudian telinganya perlahan memerah.
"Jangan bilang kalimat begitu sambil santai."
"Kenapa?"
"Karena aku jadi malu."
Renji tertawa kecil.
"Kan kita pacaran."
"Itu bukan alasan."
Dari belakang terdengar suara bel sepeda.
Ting! Ting!
Renji menoleh.
Miyu mengayuh dengan wajah masam.
"Onii-chan!"
"Apa?"
"Jangan terlalu cepat!"
"Kamu yang bilang mau ikut."
"Aku sedang menjaga jarak!"
"Jarak dari apa?"
Miyu memicingkan mata.
"Dari situasi yang mencurigakan."
Renji kembali melihat jalan.
"Jadi sekarang kita naik sepeda juga diawasi."
Aoi tertawa.
"Sepertinya iya."
Miyu mempercepat kayuhan.
Sepeda kecil itu bergerak lebih cepat.
Renji melihat dari kaca kecil yang terpasang di setang.
Miyu mulai mendekat.
"Aku akan menyusul."
"Jangan dipaksakan."
"Aku tidak memaksakan."
Dua menit kemudian, Miyu sudah bernapas lebih berat.
Jalan mulai sedikit menanjak.
Kemiringannya belum terlalu curam, tetapi cukup untuk membuat mamachari yang berat terasa berbeda. Keranjang depannya bergoyang sedikit setiap kali roda melewati permukaan jalan yang tidak rata. Miyu tetap mengayuh tanpa mengeluh.
Renji memperlambat sedikit.
Aoi menoleh ke belakang.
"Miyu-chan masih kuat?"
"Aku kuat."
Suaranya terdengar lebih pendek daripada tadi.
Renji tersenyum.
"Kalau capek, bilang."