ImouKano: Imouto vs Kanojo

Diva Amane
Chapter #29

Aliansi Ibu dan Calon Menantu

Sabtu menjelang siang selalu memiliki suasana yang berbeda di rumah keluarga Renji. Tidak ada suara langkah kaki terburu-buru menuju sekolah, tidak ada alarm yang berdering dari lantai atas, dan tidak ada Kasumi yang berteriak dari dapur mengingatkan seseorang agar tidak terlambat. Cahaya matahari masuk melalui jendela dapur, jatuh di atas meja kayu dan membuat permukaan mangkuk-mangkuk keramik terlihat hangat. Dari halaman belakang terdengar suara angin menyentuh dedaunan, sesekali diselingi suara sepeda warga yang lewat di jalan depan rumah. Renji duduk santai di meja makan sambil membuka bungkus camilan, menikmati ketenangan akhir pekan yang menurutnya terlalu langka di rumah ini.

Ketenangan itu bertahan tepat sampai bel pintu berbunyi.

"Tunggu, aku buka!"

Kasumi yang sedang memeriksa bahan masakan di dapur berteriak dari dalam. Namun sebelum ia sempat mencapai pintu, Renji sudah bangkit dengan sebungkus biskuit di tangan. Ia membuka pintu dan menemukan Aoi berdiri di depan pagar dengan senyum hangat, mengenakan pakaian kasual sederhana dan membawa tas kain besar yang tampaknya cukup berat.

"Selamat siang, Renji-kun."

"Siang."

Renji melirik tas itu.

"Itu apa?"

"Bahan-bahan."

"Sebanyak itu?"

Aoi mengangkat tas sedikit.

"Aku pikir sekalian."

Renji membuka pintu lebih lebar.

"Masuk aja."

"Permisi."

Begitu Aoi masuk, Kasumi muncul dari arah dapur sambil mengeringkan tangannya dengan kain lap. Wajahnya langsung berubah cerah.

"Aoi-chan! Datang juga."

"Iya, Kasumi-san."

"Kamu bawa bahan sendiri?"

"Aku ingin belajar masakan yang Renji-kun suka."

Kasumi tersenyum lebar.

"Oh, bagus sekali. Kebetulan Ibu sudah menyiapkan beberapa bahan."

Renji berhenti mengunyah.

"Sebentar."

Kedua perempuan itu sudah bergerak menuju dapur.

"Masakan apa?"

Kasumi menoleh.

"Beberapa masakan rumahan yang sering kamu minta."

"Yang mana?"

"Yang biasanya habis paling cepat kalau ada di meja."

Renji berpikir sejenak.

"Berarti hampir semuanya."

Kasumi tertawa.

Aoi ikut tersenyum sambil mengikuti Kasumi ke dapur.

Renji berdiri di ruang makan dengan biskuit masih di tangan. Ia menatap punggung keduanya yang menghilang di balik pintu dapur, kemudian mengangkat bahu dan kembali duduk.

Tidak ada yang aneh.

Setidaknya pada awalnya.

Beberapa menit kemudian terdengar suara talenan.

Tok. Tok. Tok.

Kemudian suara air mengalir.

Lalu suara Kasumi.

"Kalau bawang bombai untuk tumisan, jangan terlalu tipis."

"Oh, begini?"

"Iya. Sedikit lebih tebal supaya teksturnya masih terasa."

"Begini?"

"Nah, pas."

Renji berhenti mengunyah.

Ada sesuatu yang berbeda.

Biasanya dapur adalah wilayah Kasumi dan Miyu. Kasumi mengatur bahan dan Miyu kadang mengambil alih bagian tertentu dengan keseriusan seorang koki yang sedang mengikuti kompetisi memasak. Sejak beberapa waktu terakhir, Miyu bahkan semakin bangga dengan kemampuannya menyiapkan bento dan camilan untuk Renji. Ia pernah menghabiskan hampir satu jam membuat sosis berbentuk gurita hanya untuk memastikan pesan nori di atas nasi terlihat sempurna.

Tetapi hari ini, suara lain memenuhi dapur.

Suara Aoi.

"Kalau dagingnya begini?"

"Bagus. Tapi sebelum dibumbui, lap sedikit permukaannya."

"Supaya bumbunya menempel?"

"Betul. Dan jangan langsung dimasukkan ke wajan terlalu banyak."

Aoi mengangguk.

"Oh, begitu."

Renji tersenyum.

Sepertinya Aoi benar-benar serius.

Tidak lama kemudian aroma bawang putih yang ditumis mulai memenuhi ruang makan. Harumnya bercampur dengan aroma kecap asin dan jahe yang baru diparut. Renji menarik napas dalam-dalam.

"Ini bahaya."

Ia mengambil satu biskuit lagi.

Dari tangga terdengar suara langkah.

Miyu muncul.

Rambutnya belum sepenuhnya rapi. Ia mengenakan pakaian rumah dan membawa segelas air. Matanya masih setengah mengantuk ketika ia berjalan menuju ruang makan.

Kemudian ia mencium aroma masakan.

Miyu berhenti.

Ia menoleh ke dapur.

Suara ibunya terdengar dari sana.

"Bagus sekali, Aoi-chan."

Suara Aoi menyusul.

"Terima kasih, Kasumi-san."

Miyu menyipitkan mata.

Aoi?

Ia berjalan mendekat.

Dari balik pintu dapur, ia melihat sesuatu yang membuat langkahnya berhenti total.

Kasumi sedang berdiri di sebelah Aoi.

Di atas meja terdapat sayuran yang sudah dipotong rapi, daging yang telah dibumbui, beberapa mangkuk kecil berisi bumbu, dan sebuah wajan yang sedang dipanaskan. Aoi memegang pisau dapur dengan hati-hati, sementara Kasumi berdiri di sampingnya menjelaskan cara mengiris bahan.

Tidak ada ketegangan.

Tidak ada kecanggungan.

Mereka tampak seperti dua orang yang sudah lama memasak bersama.

"Kalau begini, nanti rasanya lebih masuk."

"Berarti jahe sedikit lebih banyak?"

"Untuk Renji, iya."

Aoi tertawa.

"Dia memang suka rasa yang kuat, ya?"

"Kalau masakan pedas sedikit, dia pasti tambah nasi."

Miyu membeku.

Itu informasi pribadi.

Informasi keluarga.

Informasi yang seharusnya berada dalam wilayah pengetahuannya.

Ia tahu Renji suka makanan tertentu.

Ia tahu seberapa banyak nasi yang biasanya diambil kakaknya.

Ia tahu Renji akan mencari lauk tambahan kalau dagingnya dimasak dengan saus manis-gurih.

Ia tahu cara membuat tamagoyaki yang disukai Renji.

Ia tahu semua itu.

Namun sekarang Aoi sedang belajar langsung dari Ibu.

Miyu memegang gelas airnya sedikit lebih erat.

"Jangan..."

Suara kecil keluar dari bibirnya.

Renji yang sedang duduk di ruang makan mendengar.

"Hm?"

Miyu langsung menoleh.

Renji mengangkat alis.

"Kamu kenapa?"

"Enggak."

"Kamu berdiri di situ seperti penjaga pintu."

"Aku cuma lewat."

"Sudah lima menit."

Miyu menatapnya tajam.

"Diam."

Renji tersenyum.

Ia tahu ekspresi itu.

Itu adalah ekspresi Miyu ketika ada sesuatu yang mengganggu keseimbangan dunia kecilnya.

Dan hari ini, gangguannya bukan Aoi.

Bukan secara langsung.

Yang membuat Miyu gelisah justru Kasumi.

Ibunya.

Orang yang selama ini menjadi pusat otoritas dapur.

Orang yang paling sering berdiri di sampingnya ketika ia belajar memasak.

Orang yang biasa memuji bento buatannya.

Sekarang sedang berdiri di samping Aoi sambil tersenyum.

Miyu perlahan menurunkan gelasnya.

Tidak mungkin.

Ia harus memeriksa situasi.

Miyu kembali mengintip dari balik pintu.

Kasumi sedang mengajarkan cara membumbui daging.

"Jangan langsung banyak garam."

Aoi memegang sendok kecil.

"Sedikit dulu?"

"Iya. Nanti bisa ditambah."

Aoi mencicipi sedikit kuah dari sendok.

Matanya melebar.

"Enak."

Kasumi tertawa.

"Belum matang."

"Sudah enak."

"Kalau sudah matang nanti lebih enak."

Miyu merasakan sesuatu menusuk dadanya.

Akrab sekali.

Terlalu akrab.

"Kasumi-san."

"Hm?"

"Kalau aku tambahkan sedikit mirin di sini?"

"Boleh. Sedikit saja."

"Seperti ini?"

"Ya."

Miyu mengepalkan tangan.

Mereka bahkan sudah mulai memakai pola percakapan pendek yang biasanya hanya dimiliki orang yang sudah terbiasa bekerja bersama.

Ia tidak bisa diam.

Miyu masuk ke dapur.

"Aku bantu."

Kasumi menoleh.

"Oh, Miyu. Bangun juga."

"Aku sudah bangun dari tadi."

Renji dari ruang makan menyahut.

"Baru lima menit."

"Diam, Onii-chan!"

Aoi menoleh dan tersenyum.

"Selamat siang, Miyu-chan."

Miyu mengangguk.

"Siang."

Matanya kemudian turun ke talenan.

"Aku bisa potong sayuran."

Kasumi langsung menyerahkan beberapa wortel.

"Boleh. Hati-hati."

Miyu mengambil pisau.

Ia menarik napas.

Ini kesempatan.

Ia akan menunjukkan bahwa dirinya juga mampu.

Bahkan lebih mampu.

Ia memegang wortel.

Pisau turun.

Tok.

Potongannya terlalu tebal.

Tok.

Terlalu tipis.

Tok.

Miring.

Tok.

Hampir berbentuk segitiga.

Lihat selengkapnya