ImouKano: Imouto vs Kanojo

Diva Amane
Chapter #30

Demam Musim Gugur

Musim gugur datang dengan cara yang tidak terlalu sopan.

Beberapa hari sebelumnya, matahari masih terasa cukup hangat ketika Renji pulang sekolah, dan Miyu masih bisa berjalan pulang sambil mengomel tentang betapa menyebalkannya lantai dua dan lantai tiga sekolah. Namun memasuki minggu itu, udara pagi tiba-tiba berubah dingin. Angin yang melewati halaman sekolah membawa aroma dedaunan kering, langit lebih cepat berubah kelabu menjelang sore, dan suhu turun begitu saja ketika matahari mulai condong ke barat. Para siswa yang sebelumnya masih mengenakan seragam tanpa banyak tambahan mulai memakai cardigan dan jaket tipis, sementara Miyu tetap bersikeras bahwa ia tidak membutuhkan pakaian lebih tebal karena "musim gugur biasa tidak mungkin mengalahkan sistem pertahanan tubuhnya."

Ternyata tubuhnya tidak pernah menerima laporan mengenai sistem pertahanan tersebut.

Pada jam pelajaran terakhir, Miyu mulai merasa pandangannya berat. Tulisan di papan tulis tampak sedikit kabur, dan suara guru seperti terdengar dari tempat yang jauh meskipun ia duduk tidak terlalu belakang. Ia menekan punggung tangannya ke dahi ketika guru sedang membelakangi kelas, lalu buru-buru menurunkannya ketika siswi di sebelahnya melirik. Hangat. Terlalu hangat. Miyu menarik napas pelan dan mencoba duduk lebih tegak, seolah-olah dengan memperbaiki postur ia bisa memerintahkan tubuhnya untuk berhenti membuat masalah.

"Aku tidak sakit," gumamnya hampir tanpa suara.

Namun ketika bel pulang berbunyi, Miyu berdiri dan dunia langsung terasa miring.

Ia memegang tepi meja.

Seorang teman sekelas yang berada di dekatnya segera memperhatikan.

"Miyu, kamu nggak apa-apa?"

"Aku baik-baik saja."

"Kelihatannya pucat."

"Memang wajahku begini."

"Enggak. Kamu merah."

Miyu tidak sempat membalas. Kepalanya terasa berat seperti diisi kapas basah, dan tenggorokannya mulai kering. Ia mengambil tas dengan gerakan lambat, menolak tawaran untuk diantar, lalu berjalan keluar kelas. Setiap langkah menuju tangga terasa lebih panjang dari biasanya. Ketika akhirnya sampai di lantai satu, ia berhenti sebentar di dekat pintu masuk, menarik napas, kemudian memaksakan diri berjalan pulang.

Hari itu, bahkan lantai dua dan lantai tiga tidak menarik perhatiannya.

Itulah tanda pertama bahwa sesuatu benar-benar salah.

Biasanya Miyu akan mengangkat kepala setiap kali melihat siswi kelas dua atau tiga yang berjalan melewati gerbang. Ia akan memeriksa siapa yang berbicara dengan Renji, siapa yang berjalan terlalu dekat dengannya, atau setidaknya memastikan tidak ada ancaman baru bagi keseimbangan hidup kakaknya. Sore itu, ia bahkan tidak menoleh ketika dua siswi senior berjalan melewatinya sambil tertawa. Miyu hanya ingin sampai rumah, masuk kamar, dan tidur.

Begitu pintu rumah dibuka, Kasumi yang sedang berada di ruang keluarga langsung menoleh.

"Miyu?"

Miyu melepas sepatu.

"Ibu."

"Kok pulang cepat?"

"Enggak."

Kasumi berdiri.

"Kenapa wajahmu merah?"

Miyu menggeleng.

"Ngantuk."

Ia baru berjalan dua langkah ketika lututnya terasa lemas.

Kasumi segera memegang bahunya.

"Hei."

Miyu bersandar tanpa sadar.

Tubuhnya panas.

"Astaga."

Kasumi menyentuh dahinya.

"Kamu demam."

Miyu ingin menyangkal.

Namun bibirnya hanya bergerak sedikit sebelum akhirnya tidak mengeluarkan suara.

"Renji belum pulang?" tanyanya pelan.

"Sebentar lagi."

Miyu mengangguk.

"Aku mau ke kamar."

Kasumi mengantarnya naik. Miyu bahkan tidak memiliki tenaga untuk memprotes ketika ibunya menyuruhnya berbaring. Begitu kepalanya menyentuh bantal, matanya langsung terpejam. Selimut ditarik sampai bahunya, dan Kasumi pergi sebentar untuk mengambil termometer serta air minum.

Ketika Renji pulang beberapa puluh menit kemudian, suasana rumah terasa berbeda.

Ia baru meletakkan tas ketika Kasumi memanggil dari dapur.

"Renji, jangan berisik dulu."

Renji berhenti.

"Kenapa?"

"Miyu demam."

Ekspresi santainya langsung hilang.

"Serius?"

Kasumi mengangguk.

"Demamnya cukup tinggi. Ibu sudah mengukur suhunya dan menyuruh dia istirahat."

Renji meletakkan tas.

"Obat?"

"Sudah Ibu siapkan sesuai yang biasa digunakan keluarga. Kalau kondisinya memburuk atau ada gejala yang mengkhawatirkan, kita akan cari pertolongan medis."

Renji mengangguk.

"Aku lihat dia."

Ia naik ke lantai atas dengan langkah lebih cepat daripada biasanya. Pintu kamar Miyu sedikit terbuka. Renji mengetuk pelan sebelum masuk.

Miyu berbaring di bawah selimut.

Wajahnya merah.

Rambutnya menempel di dahi.

Ia membuka mata ketika mendengar suara pintu.

"Onii-chan..."

"Iya."

Renji duduk di tepi tempat tidur.

"Kamu gimana?"

"Enggak apa-apa."

"Kamu ngomongnya saja sudah kayak orang sakit."

Miyu mencoba mengangkat tubuh.

Renji langsung menahan bahunya.

"Jangan bangun."

"Aku cuma mau duduk."

"Enggak perlu."

Miyu menatapnya beberapa saat.

Kemudian matanya kembali tertutup.

"Capek..."

Renji menghela napas pelan.

Ia jarang melihat Miyu seperti itu.

Biasanya gadis itu bisa menghabiskan setengah jam berdebat hanya karena Renji mengambil puding terakhir di kulkas. Ia bisa mengejar Renji dari ruang tamu sampai halaman hanya karena mendengar namanya disebut oleh seorang siswi kelas dua. Bahkan ketika sakit sekalipun, Renji membayangkan Miyu masih akan berusaha mengangkat spatula kayu sambil berkata bahwa tubuhnya belum menyerah.

Sekarang ia hanya berbaring.

"Jangan khawatir," kata Renji pelan. "Ibu ada."

Miyu membuka mata sedikit.

"Kamu juga?"

Renji tersenyum.

"Iya. Aku juga."

Miyu mengangguk kecil.

Tidak lama kemudian terdengar bel pintu.

Renji turun.

Ketika pintu dibuka, Aoi berdiri di luar.

"Renji-kun."

Aoi mengenakan jaket tipis dan membawa dua tas. Satu berisi beberapa bahan makanan, sementara tas lainnya tampak berisi perlengkapan rumah tangga.

"Bagaimana Miyu-chan?"

"Demam."

"Aku tahu dari pesan Kasumi-san."

Renji menatap kedua tas itu.

"Kamu bawa apa?"

"Beberapa bahan untuk makanan yang mudah dimakan, minuman elektrolit, dan lembar kompres."

Renji terdiam.

"Kamu langsung datang setelah sekolah?"

Aoi mengangguk.

"Aku khawatir."

Renji membuka pintu lebih lebar.

"Masuk."

Aoi melepas sepatu dan langsung menuju dapur setelah menyapa Kasumi. Ia tidak banyak bertanya. Ia hanya meletakkan bahan-bahan di meja, memeriksa apa yang sudah tersedia, lalu menggulung sedikit lengan bajunya.

"Kasumi-san, aku boleh buatkan okayu?"

Kasumi tersenyum.

"Tentu."

"Kalau begitu, aku bantu."

Renji berdiri di pintu dapur sambil memperhatikan.

Ia merasa sedikit aneh melihat Aoi begitu tenang.

Tidak panik.

Tidak tergesa-gesa.

Namun setiap gerakannya terlihat penuh perhatian.

Aoi mencuci beras, menyiapkan air, kemudian mulai memasak bubur dengan api kecil. Ia menambahkan sedikit garam dan memastikan teksturnya lembut. Sesekali ia mengaduk perlahan agar bagian bawah tidak menempel. Aroma nasi yang dimasak lama mulai memenuhi dapur, sederhana tetapi menenangkan.

"Dia bisa makan?"

Renji bertanya.

"Kalau sudah lebih nyaman, sedikit-sedikit," jawab Aoi.

Renji mengangguk.

"Aku ambil air hangat."

Lihat selengkapnya