ImouKano: Imouto vs Kanojo

Diva Amane
Chapter #31

Restu Setengah Hati

Langit siang di atas sekolah tampak begitu biru sampai-sampai atap gedung utama terasa seperti tempat yang terlalu damai untuk sebuah pertemuan yang dipanggil oleh Miyu. Angin musim gugur bergerak pelan melewati pagar pembatas, membawa udara yang mulai dingin serta aroma samar daun-daun kering dari pepohonan di halaman bawah. Suara klub olahraga terdengar jauh dari lapangan, bercampur dengan bunyi bel sepeda yang sesekali lewat di jalan depan sekolah. Di tengah suasana setenang itu, Renji membuka pintu menuju atap dengan satu tangan sambil menguap kecil, lalu mengernyit ketika melihat Aoi sudah berdiri di sana beberapa langkah di depan.

"Aoi-san juga dipanggil?"

Aoi mengangguk. Rambutnya bergerak sedikit tertiup angin. "Iya. Miyu-chan bilang ini penting."

Renji menutup pintu di belakang mereka dan memasukkan tangan ke saku celana. "Kalau dia bilang penting, biasanya antara ada ancaman, daftar hitam baru, atau dia menemukan metode baru buat melacak aku."

Aoi tertawa kecil. "Mungkin kali ini bukan begitu."

Renji menatapnya dengan wajah ragu. "Kamu terlalu percaya sama adikku."

"Setelah semua yang terjadi?" Aoi tersenyum. "Justru karena itu."

Renji hendak menjawab, tetapi suara langkah kaki terdengar dari sisi lain atap. Langkah itu teratur. Tidak tergesa-gesa. Bahkan terlalu teratur untuk ukuran Miyu yang biasanya berlari-lari ketika mengejar kakaknya. Renji dan Aoi menoleh bersamaan.

Miyu muncul dari balik bangunan kecil tempat tangga darurat berada.

Dan untuk beberapa detik, tidak ada yang mengatakan apa-apa.

Miyu mengenakan seragamnya dengan sangat rapi. Rambutnya tersisir sempurna. Pita seragamnya tidak miring sedikit pun. Bahkan kaus kaki dan sepatu dalamnya terlihat seolah-olah sudah diperiksa berkali-kali. Ia berjalan menuju tengah atap dengan kedua tangan di belakang punggung, kemudian berhenti beberapa meter dari Renji dan Aoi.

Wajahnya serius.

Sangat serius.

Renji langsung merasa tidak enak.

"Kenapa mukamu begitu?"

Miyu tidak menjawab.

Ia malah menarik napas panjang.

Kemudian berdiri semakin tegap.

Renji menyipitkan mata.

"Jangan bilang kamu mau mengumumkan perang."

Miyu akhirnya membuka mulut.

"Diam, Onii-chan."

"Oh."

Renji mengangkat kedua tangan.

Aoi menahan senyum.

Miyu memejamkan mata selama beberapa detik, seolah-olah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang akan mengubah sejarah keluarganya. Ketika matanya kembali terbuka, sorotnya begitu serius sampai-sampai Renji secara spontan meluruskan punggung.

Miyu memandang mereka bergantian.

"Renji."

Renji berkedip.

Aoi juga sedikit terkejut.

Jarang sekali Miyu memanggil kakaknya hanya dengan nama tanpa embel-embel ketika sedang berada dalam situasi serius.

"Dan Aoi-san."

Aoi mengangguk pelan. "Iya."

"Sebagai adik kandung Renji sekaligus orang yang selama ini bertanggung jawab menjaga keseimbangan hubungan keluarga ini..."

Renji mengangkat alis.

"Sebentar. Siapa yang mengangkat kamu jadi penanggung jawab?"

"Jangan potong pidatoku!"

Suara Miyu memantul di antara dinding bangunan.

Renji langsung menutup mulut.

Aoi menunduk untuk menyembunyikan senyum.

Miyu berdeham sekali. Wajahnya kembali serius.

"...setelah melalui pengamatan yang cukup panjang, serangkaian investigasi, evaluasi terhadap perilaku Aoi-san, serta mempertimbangkan beberapa kejadian yang terjadi selama beberapa bulan terakhir..."

Renji mulai tersenyum.

Miyu melihatnya.

"Jangan senyum."

"Aku belum bilang apa-apa."

"Ekspresimu mengganggu."

"Maaf."

"Kamu sama sekali tidak terlihat menyesal."

Renji memalingkan wajah sambil menahan tawa.

Miyu kembali menghadap Aoi.

Aoi berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan tubuhnya, menunggu dengan sabar. Tidak ada ketegangan di wajahnya. Tidak ada kekhawatiran. Bahkan ketika Miyu membangun suasana seperti sedang mengumumkan keputusan pengadilan, Aoi hanya tampak penasaran.

Miyu menarik napas sekali lagi.

"Baik."

Ia mengangkat dagunya.

"Mulai hari ini, aku..."

Angin berembus.

Ujung rambut Miyu bergerak.

"...secara resmi..."

Miyu mengepalkan kedua tangan di belakang punggung.

"...memberikan izin kepada kalian berdua untuk berpacaran."

Hening.

Renji menatap Miyu.

Aoi menatap Miyu.

Miyu menatap mereka berdua dengan wajah kaku.

Seolah-olah baru saja menjatuhkan keputusan terpenting abad ini.

Lalu Renji tertawa.

Awalnya hanya suara pendek.

"Heh."

Miyu langsung mengerutkan dahi.

Renji menutup mulut.

Tetapi gagal.

"Hahaha..."

Bahu Renji mulai bergetar.

"HAHAAHAHAHAHA!"

"ONII-CHAN!"

Miyu langsung merah.

"Apa yang lucu?!"

"Maaf, maaf!"

Renji berusaha menghentikan tawanya, tetapi semakin ia melihat wajah Miyu yang serius, semakin sulit baginya untuk menahan diri.

"Enggak, tunggu. Aku cuma... hahaha... aku enggak nyangka hubungan pacaran harus dapat izin dari adik kelas satu."

"Ini bukan sekadar izin dari adik kelas satu!"

Miyu menunjuk dirinya sendiri.

"Aku adalah adik kandungmu!"

"Yang umurnya lima belas tahun."

"Itu tidak relevan!"

"Relevan banget."

"Diam!"

Renji akhirnya mengusap wajahnya sendiri dan menarik napas panjang.

"Baiklah. Aku dengarkan."

Miyu mendengus.

Ia sebenarnya sudah menyiapkan pidato itu sejak pagi.

Setelah sembuh total dari demamnya, ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya. Ia masih merasa tidak nyaman ketika melihat Renji dan Aoi berjalan berdua. Ia masih otomatis mengawasi setiap siswi yang berbicara terlalu dekat dengan kakaknya. Ia bahkan masih memiliki buku hitam yang tersimpan aman di bawah tempat tidurnya, meskipun halaman tentang Aoi kini semakin banyak berisi catatan yang sulit dikategorikan sebagai ancaman.

"Memasak dengan baik."

"Menolong saat sakit."

"Memberikan syal."

"Headpat berlebihan."

"Memberikan makanan."

"Pelukan tidak terduga."

Miyu tidak tahu harus menulis Aoi sebagai musuh atau sebagai seseorang yang diam-diam ingin ia datangi ketika sedang lelah.

Terlebih setelah hari ketika ia sakit.

Ingatan tentang tangan Aoi yang perlahan mengusap rambutnya masih terasa jelas. Suara lembut Aoi ketika mengatakan bahwa ia menyayangi Miyu sebagai adiknya sendiri juga masih tersimpan di kepalanya. Miyu sudah mencoba berkali-kali meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah efek demam.

Tetapi semakin ia berusaha menyangkalnya, semakin jelas kenyataannya.

Aoi tidak pernah mencoba mengambil Renji darinya.

Aoi justru selalu berusaha membuat ruang yang cukup bagi Miyu untuk tetap berada di sisi kakaknya.

Itulah bagian yang paling menyebalkan.

Karena Miyu tidak lagi punya alasan yang masuk akal untuk membencinya.

Maka, daripada mengakui bahwa ia menyukai keberadaan Aoi secara langsung, Miyu memilih satu-satunya jalan yang masih sesuai dengan harga dirinya.

Ia akan memberikan restu.

Tetapi dengan syarat.

Miyu menarik napas.

"Aku sudah memikirkannya baik-baik."

Aoi tersenyum kecil.

"Terima kasih sudah memikirkannya."

Miyu langsung salah tingkah.

"Jangan bilang begitu dulu!"

"Kenapa?"

"Karena aku belum selesai!"

"Oh, maaf."

Aoi kembali diam.

Miyu memalingkan wajah sebentar, lalu melanjutkan.

"Aku menerima bahwa Aoi-san adalah pacar Onii-chan."

Renji tersenyum.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun bagi Miyu, mengucapkannya secara langsung ternyata jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.

Selama berbulan-bulan, Aoi selalu berada di sisi lain dari sebuah garis yang ia buat sendiri. Pacar kakaknya. Siswi kelas dua. Senior. Potensi rival. Orang yang berbahaya karena bisa mengalahkan Miyu hanya dengan headpat dan makanan manis.

Tetapi sekarang garis itu tidak lagi terasa seperti batas.

Aoi sudah masuk ke dalam kehidupan keluarga mereka.

Dan, tanpa Miyu sadari, Miyu sendiri sudah mulai membuat tempat untuknya.

Miyu mengepalkan tangan kecilnya.

"Jadi..."

Ia mengangkat satu jari.

"Aku memberikan restu."

Renji mengangguk.

Aoi membungkukkan kepala sedikit.

"Terima kasih, Miyu-chan."

Miyu langsung mengangkat telapak tangan.

"Tapi!"

Renji memejamkan mata.

"Nah."

Aoi justru terlihat semakin penasaran.

"Tentu."

Miyu mengeluarkan secarik kertas dari saku seragamnya.

Renji menatap kertas itu.

"Kamu bikin dokumen?"

"Ini bukan dokumen biasa."

Miyu membuka lipatan kertas tersebut dengan hati-hati.

"Ini adalah Syarat Restu Resmi."

Renji langsung tertawa lagi.

"Astaga."

"Jangan tertawa!"

"Maaf."

"Kalau tertawa lagi, restunya dibatalkan."

Renji segera mengatupkan mulut.

Lihat selengkapnya