Musim dingin di pinggiran Tokyo punya cara sendiri untuk membuat rumah terasa lebih kecil. Udara di luar jendela begitu dingin sampai kaca kamar Renji tampak sedikit berkabut pada pagi hari, sementara sinar matahari yang masuk hanya memberikan warna pucat pada lantai kayu. Pemanas ruangan bekerja tanpa banyak suara, tetapi kehangatannya tidak pernah benar-benar menghilangkan rasa dingin yang menempel pada ujung jari. Di meja belajar dekat jendela, tumpukan buku latihan, lembar soal tahun-tahun sebelumnya, buku catatan, dan kartu-kartu hafalan sudah menempati hampir seluruh permukaan meja. Di tengah semuanya, Renji duduk dengan punggung sedikit membungkuk, pensil mekanik bergerak cepat di atas kertas sementara jam digital di sudut meja menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh malam.
"Kalau integral ini salah lagi, aku benar-benar bakal benci matematika seumur hidup."
Renji menghapus jawabannya.
Menulis lagi.
Menghapus lagi.
Ia menghela napas panjang dan menyandarkan tubuh ke kursi. Matanya terasa kering. Bahunya pegal setelah berjam-jam duduk, tetapi pandangannya kembali jatuh pada soal di hadapannya. Ujian masuk universitas tinggal semakin dekat, dan setiap kali ia melihat kalender yang ditempel di dinding, angka-angka merah yang menandai tanggal ujian terasa seperti semakin besar.
Universitas negeri lokal yang selama ini ia incar bukan universitas yang mustahil dimasuki. Nilai-nilainya cukup baik, dan guru wali kelasnya bahkan mengatakan bahwa peluang Renji cukup besar selama ia mempertahankan ritme belajar. Masalahnya justru karena Renji tahu ia punya peluang, ia tidak ingin menyia-nyiakannya.
Ia ingin masuk.
Bukan sekadar demi gelar.
Bukan hanya karena universitas itu dekat rumah.
Ia ingin tetap bisa pulang dan makan malam bersama keluarganya. Ingin tetap bisa mendengar Kasumi mengomel soal lampu yang lupa dimatikan, melihat Kenji membaca koran sambil makan, dan tentu saja masih bisa mendengar suara Miyu berteriak dari lantai bawah setiap kali menemukan alasan baru untuk mengawasi dirinya.
Dan, kalau semuanya berjalan baik, Aoi juga masih akan berada di kota yang sama.
Renji tersenyum kecil.
"Makanya harus lolos."
Tangannya kembali mengambil pensil.
Di luar kamar, seseorang berdiri diam.
Miyu mengintip melalui celah pintu yang terbuka beberapa sentimeter. Hanya sebelah matanya yang terlihat. Ia sudah berdiri di sana hampir lima menit, tetapi Renji tidak menyadarinya karena terlalu sibuk mengerjakan soal. Rambut Miyu masih sedikit berantakan setelah mandi, dan kedua tangannya memegang ujung lengan piyamanya. Ia memandang punggung kakaknya yang tidak bergerak dari kursi belajar dengan perasaan yang sulit ia beri nama.
Biasanya, melihat Renji belajar berarti melihat kesempatan untuk mengganggu.
Menyembunyikan penghapus.
Menaruh permen di atas buku.
Bertanya apakah Renji mau teh.
Atau sekadar membuka pintu dan mengatakan bahwa belajar terlalu lama akan membuat rambutnya botak.
Namun malam itu tidak ada satu pun dari semua itu yang dilakukan Miyu.
Ia hanya berdiri.
Memperhatikan.
Renji menekan pelipisnya dengan dua jari.
Kemudian mengambil botol air.
Minum sedikit.
Lalu kembali menatap soal.
Miyu mengerutkan dahi.
"Dia belum istirahat..."
Suaranya hampir tidak terdengar.
Ia memperhatikan tumpukan soal yang sudah dikerjakan. Beberapa halaman penuh coretan. Ada yang diberi tanda centang, ada yang diberi lingkaran, ada pula yang memiliki tanda silang merah dari latihan sebelumnya.
Miyu tahu kakaknya pintar.
Tetapi ia juga tahu Renji bukan mesin.
Selama beberapa minggu terakhir, semakin dekat jadwal juken, semakin sering Renji berada di kamar. Makan tetap turun ke meja makan, mandi tetap dilakukan, tidur tetap dilakukan, tetapi hampir seluruh waktu senggangnya habis untuk belajar. Bahkan ketika Miyu sengaja bertanya apakah Renji mau ikut menonton televisi, kakaknya hanya menjawab, "Nanti kalau selesai satu bab."
Satu bab berubah menjadi dua.
Dua menjadi tiga.
Dan akhirnya malam sudah terlalu larut.
Miyu menggigit bibir.
"Jangan sampai sakit..."
Ia hampir membuka pintu.
Namun tangannya berhenti di gagang.
Kalau ia masuk sekarang, Renji pasti akan tersenyum dan mengatakan bahwa dia terlalu khawatir. Lalu Miyu akan malu. Kemudian mereka bertengkar. Kemudian Renji mungkin akan meminta camilan sebagai kompensasi.
Miyu tidak ingin itu.
Setidaknya malam ini.
Ia mundur perlahan dan menutup pintu tanpa suara.
Namun sebelum berjalan pergi, Miyu menoleh sekali lagi.
Di balik pintu itu, Renji masih belajar.
Dan entah kenapa, melihat kakaknya berusaha sekeras itu membuat dada Miyu terasa sedikit sesak.
Bukan karena takut Renji gagal.
Miyu tahu Renji akan berusaha sampai akhir.
Yang membuatnya takut justru kemungkinan bahwa Renji akan terlalu memaksakan dirinya sendiri.
Miyu kembali ke kamarnya.
Menutup pintu.
Kemudian duduk di lantai.
Ia menatap meja belajarnya sendiri.
Buku pelajaran ada.
Pensil ada.
Penghapus ada.
Tetapi tidak ada satu pun benda yang bisa membuat Renji berhenti belajar.
Miyu mengembungkan pipinya.
"Kalau aku suruh berhenti, dia pasti enggak mau."
Ia mengusap dagu.
"Kalau aku kasih makanan, dia paling cuma bilang makasih lalu lanjut belajar."
Ia terdiam.
Kemudian matanya bergerak ke sebuah buku kecil yang ia simpan di bagian belakang rak.
Buku kerajinan tangan.
Miyu mengambilnya.
Membuka beberapa halaman.
Ada pola kain kecil, cara menjahit bentuk kantong sederhana, cara memasukkan tali, dan beberapa contoh hiasan benang.
Miyu menatap gambar sebuah omamori kain.
Kemudian ia teringat omamori yang pernah ia lihat di kuil.
Jimat keberuntungan.
Orang-orang membelinya dan membawanya dalam tas, dompet, atau menggantungkannya pada barang pribadi. Ada berbagai macam doa dan tujuan, termasuk kesehatan, keselamatan, keberuntungan, dan keberhasilan dalam ujian.
Miyu menatap gambar itu cukup lama.
"...Jimat ujian."
Sebuah ide muncul.
Ia langsung menggeleng.
"Enggak."
Beberapa detik kemudian, ia mengangguk.
"...Mungkin."
Kemudian menggeleng lagi.
"Enggak, ini terlalu sentimental."
Namun tangannya sudah membuka laci.
Di dalamnya terdapat potongan kain yang tersisa dari proyek kerajinan sekolah, gulungan benang, jarum, gunting kecil, dan beberapa hiasan.
Miyu menatap semua itu.
Kemudian menoleh ke pintu.
Memastikan tidak ada orang.
"Ini cuma supaya Onii-chan enggak terlalu tegang."
Ia mengambil kain.
"Dan bukan karena aku sayang."
Ia mengambil benang.
"Ini cuma benda keberuntungan."
Ia mengambil jarum.
"Dan kalau bentuknya jelek, itu karena aku memang belum terlalu ahli."
Miyu berhenti.
"...Bukan karena aku gugup."
Lima menit kemudian, lantai kamarnya sudah dipenuhi potongan kain.
Miyu ternyata tidak terlalu ahli.
Jahitan pertamanya miring.
Jahitan kedua terlalu rapat.
Jahitan ketiga terlalu longgar.
Ia mencabutnya.
Mengulang.
Mencoba lagi.
Benang kusut.
Ia menariknya.
Semakin kusut.
"Kenapa jadi begini?!"
Miyu menggigit ujung benang sambil berusaha memisahkan simpul kecil.
Jarum hampir jatuh.
Ia menangkapnya.
Menghela napas.
Kemudian mulai lagi.
Jam sebelas lewat tiga puluh.
Malam semakin dalam.
Dari kamar Renji masih terdengar suara halaman dibalik.
Miyu menatap jam.
"Dia masih belajar..."
Tangannya bergerak lebih cepat.
Ia membuat kantong kecil dari kain berwarna gelap, lalu mencoba memasukkan benang merah dan putih sebagai hiasan. Bentuknya tidak benar-benar simetris. Salah satu sisinya sedikit lebih lebar daripada yang lain. Bagian bawahnya juga terlihat miring.
Tetapi Miyu tidak menyerah.
Ia bahkan membuat tali kecil untuk menggantungnya.
Tali itu menjadi masalah berikutnya.
Benang-benang yang digunakan terlalu banyak.
Miyu mencoba mengikatnya.
Satu simpul.
Dua simpul.
Tiga simpul.
Kemudian simpul itu berubah menjadi gumpalan.
Miyu menatapnya dengan wajah kosong.
"..."
Ia mencoba memperbaikinya.
Semakin buruk.
"..."
Miyu menutup mata.
"Sudahlah."
Ia menghela napas.
"Yang penting doanya."
Di bagian dalam kain itu, Miyu mengambil sepotong kertas kecil.
Tangannya berhenti ketika memegang pensil.
Apa yang harus ditulis?
Semoga Onii-chan lulus?
Terlalu langsung.
Semoga Onii-chan masuk universitas yang dia mau?
Terlalu lembut.
Semoga Onii-chan jangan gagal?
Terlalu pesimistis.
Miyu menghapus tiga kali.
Akhirnya ia menulis dengan huruf kecil dan hati-hati.
Semoga Onii-chan bisa melakukan yang terbaik dan pulang dengan senyum.
Miyu menatap tulisan itu.
Pipinya menghangat.
"Ah..."
Ia buru-buru melipat kertasnya.
"Kenapa aku menulis begini sih?"
Namun ia tidak menghapusnya.
Ia memasukkan kertas itu ke dalam kantong kecil, lalu menjahit bagian atasnya.
Kali ini jahitannya lebih rapi.
Sedikit.
Sangat sedikit.
Jam satu malam.
Miyu menguap.
Matanya terasa berat.
Tetapi setiap kali ia hampir menyerah, ia teringat Renji yang masih duduk di depan meja belajarnya.