ImouKano: Imouto vs Kanojo

Diva Amane
Chapter #33

Coklat Valentine Paling Absurd

Pagi tanggal 14 Februari datang bersama udara musim dingin yang menggigit ujung hidung. Langit di atas kawasan pinggiran Tokyo masih berwarna putih kebiruan ketika Renji turun ke ruang makan dengan rambut sedikit berantakan dan mata yang belum sepenuhnya terbuka. Aroma sup miso, nasi hangat, dan ikan panggang memenuhi ruangan, sementara di dekat pemanas ruangan, Kasumi sedang menuangkan teh ke dalam cangkir. Kenji sudah duduk di tempat biasanya dengan koran terbuka di depan wajahnya, tetapi ada satu hal yang berbeda pagi itu. Di meja, tepat di sebelah mangkuk sarapan Renji, terdapat sebuah kantong kecil berwarna merah muda dengan motif hati.

Renji berhenti berjalan.

Ia menatap kantong itu.

Kemudian menatap Kasumi.

"Bu."

"Hm?"

"Ini punya siapa?"

Kasumi melirik kantong tersebut.

"Entahlah. Tadi pagi sudah ada di situ."

Renji menyipitkan mata.

Dari arah dapur terdengar suara benda logam beradu dengan mangkuk.

Miyu.

Renji langsung tersenyum.

"Oh."

Kasumi menatapnya.

"Kenapa?"

"Enggak apa-apa."

Renji duduk.

Ia mengambil kantong merah muda itu dengan dua jari, mengangkatnya sedikit, lalu sengaja menggoyangkannya di depan wajah.

"Jangan-jangan ada yang kasih cokelat."

Suara dari dapur langsung berhenti.

Renji menahan senyum.

Hari Valentine selalu menjadi hari yang menarik di sekolah. Beberapa siswa akan pulang membawa kantong cokelat, sebagian akan sibuk menyembunyikan hadiah dari teman sekelas, sementara yang lain akan berusaha terlihat tidak peduli meski diam-diam berharap ada sesuatu di laci meja mereka. Renji sendiri tidak pernah terlalu memikirkan tradisi itu. Ia bukan tipe siswa yang berharap mendapat belasan kotak honmei-choko seperti tokoh utama dalam manga. Namun sejak memiliki Aoi sebagai pacar, Valentine tahun ini jelas terasa berbeda.

Dan tentu saja, ada satu orang yang pasti tidak akan membiarkan hari ini berlalu dengan tenang.

Renji melirik ke arah dapur.

"Miyu."

Tidak ada jawaban.

"Miyu?"

"Apa?!"

Suara itu terdengar terlalu keras.

Renji tertawa.

"Enggak ada."

"Kalau enggak ada, jangan panggil!"

Renji kembali menatap kantong merah muda di tangannya. Ia sudah bisa membayangkan adiknya berdiri di balik pintu dapur dengan wajah merah dan ekspresi seolah-olah baru saja dituduh melakukan kejahatan besar. Miyu memang selalu memiliki hubungan aneh dengan Valentine. Ia tidak pernah mengakui bahwa membuat cokelat untuk Renji berarti menyayanginya. Menurutnya, cokelat itu hanya "jatah keluarga", atau "kewajiban adik", atau alasan lain yang terdengar semakin tidak masuk akal setiap tahun.

Renji membuka kantong itu sedikit.

Di dalamnya ada sebungkus kecil biskuit cokelat yang dibeli di konbini.

Ia langsung tertawa.

"Ini giri-choko?"

Miyu muncul dari dapur.

"Jangan sentuh!"

Renji menghentikan tangannya.

Miyu berdiri dengan kedua tangan di pinggang. Rambutnya diikat ke belakang, dan pipinya tampak sedikit merah karena udara dapur yang hangat. Ia masih mengenakan celemek sederhana di atas pakaian rumah, tetapi ada sesuatu yang aneh pada ujung celemek itu. Terdapat bercak cokelat kecil.

Renji menunjuk.

"Kamu habis masak?"

"Enggak."

"Ada cokelat di celemekmu."

"Itu..."

Miyu melihat noda tersebut.

"...dekorasi."

"Ah."

Renji mengangguk pura-pura serius.

"Decorative chocolate."

"Betul."

"Di dapur."

"Betul."

"Jam tujuh pagi."

"Betul."

"Padahal kamu bilang enggak masak."

Miyu terdiam.

Renji tersenyum lebar.

"Jadi sebenarnya ada cokelat?"

Miyu langsung mengambil biskuit tadi dari tangan Renji.

"Ini bukan cokelat Valentine!"

"Lalu?"

"Cuma camilan."

"Untuk siapa?"

"Untuk keluarga."

"Kalau begitu aku boleh makan?"

"Enggak!"

Jawabannya terlalu cepat.

Renji tertawa.

"Nah, ketahuan."

Miyu memeluk kantong biskuit itu ke dada.

"Yang ini bukan punya Onii-chan."

"Padahal katanya untuk keluarga."

"Definisi keluarga bisa berubah sesuai keadaan."

"Logika macam apa itu?"

Miyu mendengus lalu kembali ke dapur.

Namun ketika ia berjalan pergi, Renji sempat melihat sesuatu yang membuat senyumnya semakin lebar.

Di meja dapur terdapat sebuah loyang kecil.

Dan di atasnya ada beberapa bentuk cokelat.

Bukan hati.

Bukan bunga.

Bukan pita.

Tengkorak.

Beberapa puluh menit kemudian, dapur keluarga Renji berubah menjadi medan perang cokelat.

Miyu berdiri di depan kompor dengan celemek terpasang rapat. Di atas meja terdapat mangkuk stainless, spatula silikon, cokelat batangan, krim, kacang hazelnut, cetakan silikon berbentuk tengkorak, dan beberapa benda kecil yang bahkan Renji tidak tahu fungsinya. Uap tipis dari panci berisi air panas naik ke udara ketika Miyu meletakkan mangkuk berisi potongan cokelat di atasnya untuk melelehkannya secara perlahan. Aroma kakao mulai memenuhi ruangan, pahit dan hangat, bercampur dengan wangi kacang panggang yang baru saja dihancurkannya.

Miyu mengaduk cokelat dengan penuh konsentrasi.

"Harus sempurna."

Ia menatap cetakan tengkorak.

Rongga mata.

Gigi.

Lekukan tulang.

Semua terlihat cukup menyeramkan.

"Valentine tidak harus berbentuk hati."

Miyu menuangkan sedikit cokelat cair ke dalam cetakan.

"Justru tengkorak lebih cocok."

Ia menambahkan lapisan tipis cokelat, lalu menggoyangkan cetakan perlahan agar tidak ada gelembung udara yang tertinggal.

Kemudian ia membuat isian.

Krim hazelnut.

Miyu sebenarnya menemukan resep itu secara tidak sengaja ketika membaca buku resep milik Kasumi beberapa hari sebelumnya. Ia tertarik karena resep tersebut tidak terlalu sulit, tetapi hasilnya terlihat seperti cokelat dari toko kue. Ia sudah mencoba sedikit kemarin malam, dan sejak saat itu memutuskan bahwa cokelat Valentine tahun ini harus dibuat sendiri.

Bukan karena Renji.

Bukan karena Aoi.

Tentu saja bukan.

Ia hanya ingin membuktikan bahwa ia bisa membuat sesuatu yang lebih bagus daripada cokelat kemasan biasa.

Namun ketika ia memasukkan krim hazelnut ke dalam bagian tengah cetakan, pikirannya justru mengingat dua orang yang akan menerima cokelat itu.

Renji pasti akan tertawa melihat bentuk tengkoraknya.

Aoi pasti akan mengatakan lucu.

Miyu mengerutkan dahi.

"Enggak."

Ia menambahkan lapisan cokelat terakhir.

"Harus kelihatan berbahaya."

Ia memasukkan cetakan ke lemari pendingin.

Kemudian berdiri dengan kedua tangan di pinggang.

Untuk beberapa saat, ia merasa bangga.

Sampai ia melihat mangkuk yang penuh dengan cokelat sisa.

Dan meja yang berantakan.

Dan satu sendok yang menempel di lantai.

"Ah."

Miyu menutup mata.

"Kasumi-san bakal marah."

Tepat saat itu, suara langkah terdengar dari lorong.

Miyu membeku.

Kasumi muncul di pintu dapur.

Ia memandang meja.

Memandang Miyu.

Memandang cetakan.

Memandang cokelat yang menempel di pipi Miyu.

"Valentine?"

Miyu mengangguk kaku.

"Ya."

Kasumi tersenyum.

"Bagus."

"Jangan tanya buat siapa."

Kasumi mengangkat kedua tangan.

"Enggak tanya."

"Dan jangan bilang aku membuat honmei-choko."

"Enggak bilang."

"Dan jangan..."

Kasumi menunjuk pipinya.

"Ada cokelat di situ."

Miyu langsung menyeka pipinya.

"Oh."

Kasumi tertawa kecil.

"Kalau mau pakai dapur, pakai saja sampai selesai. Nanti Ibu bantu beresin."

Miyu mengerutkan dahi.

"Aku bisa sendiri."

"Iya."

Kasumi berjalan pergi.

Kemudian berhenti di pintu.

"Kalau untuk Renji, bentuk tengkorak?"

Miyu langsung merah.

"Itu estetika!"

Kasumi tertawa lalu meninggalkan dapur.

Miyu mendengus.

"Semua orang kenapa sih..."

Lihat selengkapnya