ImouKano: Imouto vs Kanojo

Diva Amane
Chapter #34

Hatsumode

Udara malam pertama tahun baru terasa seperti menggigit ujung hidung.

Di sepanjang jalan menuju kuil Shinto kecil yang berdiri di atas bukit rendah di ujung kawasan permukiman, cahaya lampion bergoyang pelan diterpa angin musim dingin. Sisa-sisa salju yang turun sejak sore masih menempel di pagar, atap rumah, dan ranting pohon pinus di halaman kuil. Beberapa anak muda berjalan sambil tertawa, pasangan-pasangan muda merapatkan mantel, sementara keluarga dengan anak kecil bergerak perlahan mengikuti antrean menuju bangunan utama.

Renji berjalan di tengah dua orang yang paling ia kenal di dunia.

Di sebelah kanannya, Miyu mengenakan kimono musim dingin berlapis dengan warna gelap dan obi yang diikat rapi. Rambutnya ditata sederhana agar tidak mengganggu kerah kimono, tetapi ekspresi wajahnya tetap sama seperti ketika sedang melakukan patroli keamanan tingkat nasional. Di sebelah kiri Renji, Aoi mengenakan kimono berwarna lembut dengan haori tebal di atasnya, rambutnya dihias sederhana, dan kedua tangannya menggenggam ujung lengan mantel agar tidak tertiup angin.

Renji sendiri mengenakan hakama sederhana yang dipadukan dengan haori gelap. Tangannya masuk ke saku, sementara uap putih keluar dari mulutnya setiap kali bernapas.

"Rasanya kayak benar-benar tahun baru, ya," gumam Renji.

Aoi tersenyum. "Iya. Dingin sekali, tapi suasananya bagus."

Miyu mendengus dari sebelah kanan.

"Bagus dari mana? Lihat antreannya."

Renji melirik ke depan. Antrean pengunjung menuju tempat berdoa memang cukup panjang. Cahaya lampion membuat salju di sepanjang jalan tampak keemasan, sementara bunyi lonceng kuil sesekali terdengar dari kejauhan.

"Namanya juga Hatsumode."

"Aku tahu."

"Terus kenapa ngomel?"

"Aku bukan ngomel. Aku sedang melakukan observasi."

"Observasi apa?"

Miyu mempersempit mata.

"Komposisi kerumunan."

Renji menahan tawa.

"Komposisi kerumunan?"

"Ya. Terlalu banyak pasangan."

Aoi menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menyembunyikan senyum.

Renji menghela napas. "Dek, kita datang ke kuil pada malam tahun baru. Pasangan datang ke sini itu normal."

"Justru itu masalahnya."

"Masalah?"

Miyu mengangguk serius.

"Kalau terlalu banyak pasangan, tingkat potensi gangguan terhadap Onii-chan meningkat."

Renji menoleh kepada Aoi.

Aoi hanya tersenyum lembut.

"Biarkan saja. Ini bagian dari kebiasaan Miyu-chan."

"Aku cuma menjaga."

"Iya."

Aoi lalu meraih tangan Miyu yang sebagian tertutup lengan kimono.

"Terima kasih sudah menjaganya."

Miyu langsung kaku.

Angin dingin yang tadi membuat bahunya sedikit terangkat seolah mendadak tidak terasa selama beberapa detik. Wajahnya tetap berusaha mempertahankan ekspresi dingin, tetapi telinganya mulai memerah.

"A-Aku bukan menjaga Aoi-san."

"Oh?"

"Aku menjaga Onii-chan."

"Tentu."

Aoi tersenyum tanpa sedikit pun berniat membantah.

Justru itu yang membuat Miyu semakin sulit mempertahankan pertahanannya.

Renji melihat pemandangan tersebut dari samping sambil tersenyum tipis. Beberapa bulan terakhir, ia sudah terlalu sering menyaksikan pola yang sama. Miyu bisa berdiri di depan siapa saja dengan tatapan yang seolah mampu membekukan air, tetapi satu kalimat lembut dari Aoi sudah cukup membuatnya kehilangan arah.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah semua kekacauan yang terjadi sepanjang tahun sebelumnya, Renji merasa semuanya berada di tempat yang tepat.

Mereka bertiga datang ke kuil bukan karena sebuah misi, bukan karena Miyu hendak mengawasi siapa pun, dan bukan pula karena Aoi harus mengurus seseorang yang sakit.

Mereka hanya datang untuk menyambut tahun baru.

Bersama-sama.

Setelah melewati gerbang torii, mereka mengikuti jalur batu menuju bangunan utama kuil. Di sisi jalan terdapat beberapa kios kecil yang menjual amazake hangat, taiyaki, dan berbagai makanan ringan musim dingin. Aroma manis bercampur dengan udara dingin, membuat perut Renji yang belum sempat makan banyak sejak sore mulai terasa kosong.

Renji melirik salah satu kios.

Miyu langsung menangkap gerakannya.

"Onii-chan."

"Apa?"

"Jangan."

"Aku belum bilang apa-apa."

"Kamu lihat taiyaki."

"Pengamatanmu terlalu tajam."

"Aku tahu kebiasaanmu."

Renji tersenyum.

"Kalau aku beli, mau?"

Miyu terdiam sebentar.

Kemudian ia membuang muka.

"...Kalau Onii-chan mau."

Aoi tertawa kecil.

"Kalian ini."

Mereka akhirnya membeli tiga taiyaki panas. Miyu menggenggam miliknya dengan kedua tangan karena hangatnya adonan baru saja keluar dari pemanggang. Uap tipis naik dari permukaannya ketika ia menggigit sedikit bagian ekor.

Mata Miyu langsung sedikit melebar.

"Enak."

Renji tersenyum puas. "Kan."

Aoi memperhatikan wajah Miyu yang perlahan melunak.

"Hangat?"

Miyu mengangguk kecil.

"Iya."

"Kalau begitu makan pelan-pelan."

"Aku tahu."

Aoi kemudian membetulkan bagian kerah kimono Miyu yang sedikit bergeser akibat angin. Jarinya menyentuh kain dengan hati-hati agar tidak merusak susunan kimono.

Miyu membeku lagi.

"A-Aoi-san..."

"Hm?"

"Jangan tiba-tiba begitu."

"Maaf."

Miyu menunduk dan menggigit taiyaki lebih besar dari sebelumnya untuk menyembunyikan wajahnya.

Renji menahan tawa.

Tahun baru belum genap beberapa jam, tetapi adiknya sudah dua kali kalah tanpa ada satu pun serangan nyata.

Setelah selesai makan, mereka kembali mengikuti antrean menuju bangunan utama.

Di depan mereka, orang-orang berdiri dengan tenang. Ketika tiba giliran mereka, Renji memasukkan koin ke dalam kotak persembahan. Miyu dan Aoi mengikuti di sampingnya.

Mereka membungkuk dua kali.

Kemudian dua kali bertepuk tangan.

Renji memejamkan mata.

Tahun sebelumnya terasa begitu panjang ketika dipikirkan kembali. Ada sekolah, ujian, hubungan dengan Aoi, berbagai kekacauan Miyu, Bunkasai, musim panas, perjalanan kecil, pertengkaran-pertengkaran konyol, sampai akhirnya tahun berganti.

Ia tidak meminta sesuatu yang muluk.

Ia hanya ingin bisa melewati tahun terakhir SMA dengan baik.

Lulus.

Masuk universitas negeri yang ia incar.

Dan tetap bisa pulang ke rumah yang sama.

Tetap makan malam bersama keluarganya.

Tetap mendengar suara Miyu mengomel dari lantai atas.

Tetap bisa berjalan bersama Aoi.

Ketika Renji membuka mata, ia melihat Aoi masih menundukkan kepala dalam doa.

Di sebelahnya, Miyu juga diam dengan kedua tangan terlipat.

Renji tidak tahu apa yang didoakan mereka.

Ia juga tidak bertanya.

Ada beberapa hal yang memang lebih baik disimpan sebagai milik masing-masing.

Setelah selesai, mereka mundur perlahan dari tempat persembahan dan menuju sisi halaman kuil yang lebih sepi.

Di sana terdapat meja kecil dengan tumpukan papan kayu ema.

"Eh, ada Ema," kata Aoi.

Renji mengangguk. "Kita tulis?"

"Boleh."

Miyu ikut mendekat.

"Aku juga mau."

Renji menoleh.

"Kamu mau nulis?"

"Kenapa? Dilarang?"

"Bukan."

"Kalau begitu jangan banyak tanya."

Mereka membeli tiga papan kayu kecil.

Renji duduk di salah satu bangku kayu, sementara Aoi berdiri di sampingnya. Miyu mengambil papan miliknya dan segera bergerak menjauh beberapa langkah.

Renji memperhatikan.

"Kenapa menjauh?"

"Rahasia."

"Doa kok rahasia?"

"Doa itu urusan pribadi."

Aoi mengangguk.

"Benar juga."

Miyu memandang Aoi seolah baru saja mendapatkan pembelaan yang sangat berharga.

"Betul."

Ia lalu membawa papan Ema miliknya ke sisi halaman yang lebih gelap, dekat sebuah pohon tua. Lampu dari bangunan utama masih cukup menerangi tempat itu, tetapi jaraknya jauh dari Renji dan Aoi.

Renji melihat punggung kecil adiknya.

"Aneh."

"Apa?" tanya Aoi.

"Biasanya dia malah kepo sama urusan orang lain."

Aoi tersenyum.

"Mungkin karena kali ini dia punya sesuatu yang benar-benar ingin dia katakan."

Renji memandang Aoi sebentar.

"Kalau kamu?"

Aoi menunduk melihat papan Ema di tangannya.

"Aku?"

"Iya. Nulis apa?"

Aoi tersenyum malu.

"Rahasia juga."

Renji terkekeh.

"Jadi dua lawan satu."

Lihat selengkapnya