ImouKano: Imouto vs Kanojo

Diva Amane
Chapter #35

Pengumuman Kelulusan Kampus

Pagi itu, ruang tamu keluarga Renji terasa lebih sunyi daripada biasanya.

Bukan karena tidak ada orang. Justru hampir semua penghuni rumah berkumpul di sana, tetapi tidak seorang pun benar-benar melakukan kegiatan seperti hari biasa. Televisi dalam keadaan mati. Radio yang biasanya menyala pelan di dekat rak buku juga tidak disentuh. Bahkan suara jam dinding yang berdetak setiap beberapa detik terasa terlalu jelas di antara keheningan.

Di atas meja rendah, sebuah laptop terbuka menghadap Renji. Halaman situs pengumuman hasil ujian masuk universitas sudah terbuka sejak beberapa menit lalu, tetapi pengumuman belum dapat diakses sampai waktu yang ditentukan. Kursor Renji berhenti di dekat tombol muat ulang, seolah-olah benda kecil itu adalah pemicu yang dapat mengubah seluruh masa depannya.

Renji duduk bersila di atas karpet dengan punggung sedikit membungkuk. Kedua telapak tangannya menempel pada lutut. Sesekali ia melihat jam dinding, lalu kembali menatap layar, kemudian melihat jam lagi.

Di belakangnya, terdengar langkah kaki.

Tap.

Tap.

Tap.

Miyu berjalan dari satu ujung ruang tamu ke ujung lainnya.

Kemudian berbalik.

Tap.

Tap.

Tap.

Berbalik lagi.

Renji menutup mata.

"Adik."

"Hm?"

"Berhenti."

"Aku nggak melakukan apa-apa."

"Kamu sudah lewat di belakangku enam belas kali."

Miyu berhenti.

Ia berdiri dengan kedua tangan menggenggam ujung lengan bajunya. Wajahnya terlihat jauh lebih tegang daripada Renji. Sejak pagi, ia bahkan belum benar-benar menyelesaikan sarapannya. Semangkuk nasi yang dibuat Kasumi hanya disentuh beberapa suap sebelum ia kembali bertanya pukul berapa pengumuman keluar.

"Aku cuma jalan."

"Jalannya seperti petugas keamanan stasiun."

"Aku sedang mengatur pikiran."

"Kalau terus jalan, lantainya yang perlu diatur."

Miyu mengerucutkan bibir.

Kemudian ia kembali berjalan.

Renji menghela napas.

Di sofa, Kasumi yang sedang menyusun beberapa bungkus camilan ke atas nampan menoleh.

"Miyu."

"Iya, Ibu?"

"Duduk dulu."

"Tapi—"

"Duduk."

Nada Kasumi tidak keras, tetapi cukup untuk membuat Miyu langsung berhenti. Ia memandang ibunya beberapa detik sebelum akhirnya duduk di ujung sofa dengan punggung tegak seperti murid yang sedang menunggu hasil pemeriksaan.

Kasumi meletakkan nampan di meja.

Ada senbei, biskuit, castella, dan beberapa bungkus kecil cokelat. Semuanya ditata seperti persediaan menghadapi bencana nasional.

Renji melirik.

"Ibu beli sebanyak ini?"

"Kalau kalian tegang, paling tidak mulut kalian sibuk."

"Aku nggak tegang."

Kasumi menatapnya.

Renji kembali menatap layar.

"...Sedikit."

Kasumi tersenyum.

"Begitu."

Di sebelah Kasumi, Aoi duduk dengan kedua tangan menggenggam cangkir teh hangat. Ia datang pagi-pagi setelah meminta izin kepada keluarganya untuk menemani Renji menunggu pengumuman. Rambutnya diikat sederhana, dan wajahnya tampak tenang, meskipun Renji tahu Aoi juga beberapa kali melirik jam.

Aoi meletakkan cangkirnya.

"Renji-kun."

"Hm?"

"Minum dulu."

"Aku nggak haus."

"Kalau begitu sedikit saja."

Aoi menyodorkan cangkir.

Renji menerimanya.

Teh hangat menyentuh tenggorokan, tetapi rasa tegang di dada tidak benar-benar menghilang.

Hari ini adalah hari yang selama berbulan-bulan ia pikirkan.

Hari yang muncul dalam setiap sesi belajar.

Dalam setiap halaman soal.

Dalam setiap malam ketika ia duduk terlalu lama di depan buku.

Universitas negeri lokal itu bukan universitas yang paling terkenal di Tokyo. Bukan pula kampus yang akan membuat orang-orang bertepuk tangan ketika namanya disebut. Namun bagi Renji, kampus itu punya arti yang jauh lebih sederhana dan lebih penting.

Jaraknya masih bisa ditempuh dari rumah.

Ia tidak perlu pindah kota.

Tidak perlu mencari apartemen kecil.

Tidak perlu tinggal sendirian di tempat yang asing.

Ia bisa tetap pulang ke rumah setelah kuliah.

Tetap makan malam bersama keluarganya.

Tetap bisa bertemu Aoi.

Dan, yang paling jelas, tetap bisa mendengar suara adiknya mengomel setiap pagi.

Renji sebenarnya sudah mengatakan berkali-kali bahwa ia memang ingin kuliah di sana. Namun memilih kampus dan benar-benar diterima di sana adalah dua hal yang berbeda.

Ia menatap layar.

Nomor peserta ujian masih belum muncul.

Miyu kembali berdiri.

Kasumi langsung menoleh.

"Miyu."

Miyu membeku.

"Maaf."

Ia duduk lagi.

Aoi menahan senyum.

Renji melirik adiknya.

"Kamu lebih panik daripada aku."

"Aku nggak panik."

"Kamu dari tadi jalan."

"Karena..."

Miyu berhenti.

Renji menunggu.

Miyu menunduk.

"...Kalau Onii-chan nggak diterima di sini, kamu bisa daftar lagi di tempat lain, kan?"

"Ya."

"Dan kalau tempat lain itu jauh?"

Renji tidak langsung menjawab.

Miyu memainkan ujung lengan bajunya.

"Kalau jauh, Onii-chan mungkin harus tinggal di kos."

Kasumi menatap putrinya.

Aoi juga diam.

Renji menyandarkan tubuhnya ke sofa.

"Belum tentu."

"Tapi bisa."

"Iya."

"Terus kalau Onii-chan tinggal sendiri, siapa yang bikin sarapan?"

"Kayaknya aku bisa beli."

"Siapa yang ingetin bawa payung?"

"Ramalan cuaca."

"Siapa yang mengingatkan kalau kamu belum mengerjakan tugas?"

"Notifikasi."

Miyu menatapnya tajam.

"Berarti aku nggak dibutuhkan."

Renji tersenyum tipis.

"Nggak begitu."

Miyu diam.

Renji menepuk ruang kosong di sebelahnya.

"Sini."

Miyu ragu sebentar sebelum akhirnya bergeser mendekat.

Renji mengusap kepalanya sekali.

"Kalau aku sampai kuliah jauh pun, kamu tetap adikku."

Miyu menunduk.

"Itu bukan masalahnya."

"Terus?"

"Aku cuma..."

Suaranya mengecil.

"...nggak mau rumah terasa sepi."

Renji terdiam.

Ia tahu Miyu selalu membungkus rasa takutnya dengan kemarahan. Ketika ia takut kehilangan sesuatu, ia akan membuat daftar hitam. Ketika khawatir seseorang pergi, ia akan memasang alat pelacak. Ketika tidak tahu bagaimana mengungkapkan rasa sayang, ia akan membuat ancaman dengan spatula kayu.

Tetapi kali ini tidak ada spatula.

Tidak ada daftar.

Tidak ada pengintaian.

Hanya seorang adik berusia lima belas tahun yang duduk diam karena takut kakaknya meninggalkan rumah.

Renji mengacak rambutnya sekali lagi.

"Kalau begitu, kita tunggu hasilnya."

Miyu mengangguk.

"Iya."

Aoi tersenyum lembut dari sofa.

"Dan apa pun hasilnya, kita pikirkan bersama."

Miyu menoleh.

"Termasuk kalau Onii-chan harus pergi?"

"Termasuk itu."

Miyu menggembungkan pipi.

"...Aku tetap nggak suka."

Aoi tertawa kecil.

"Aku tahu."

Waktu pengumuman semakin dekat.

Kasumi menaruh piring castella baru di meja.

Kenji sempat muncul dari dapur sambil membawa koran pagi, melihat empat orang di ruang tamu, lalu melihat layar laptop.

"Sudah mau keluar?"

"Lima menit lagi," jawab Renji.

Kenji mengangguk.

"Semoga lancar."

Ia kemudian duduk di kursi dekat jendela dan membuka koran.

Miyu menatap ayahnya.

"Ayah kok santai?"

Kenji membalik halaman.

"Kalau aku ikut tegang, siapa yang baca koran?"

Lihat selengkapnya