ImouKano: Imouto vs Kanojo

Diva Amane
Chapter #36

Pesta Perpisahan Kelompok Belajar

Siang itu, sebuah family restaurant di dekat stasiun dipenuhi suara-suara yang hanya bisa muncul ketika sekelompok siswa SMA merasa bahwa mereka akhirnya berhasil melewati sesuatu yang panjang dan melelahkan bersama-sama. Bunyi piring beradu dengan sendok terdengar dari berbagai meja, mesin minuman otomatis sesekali mengeluarkan suara mekanis, dan dari pintu masuk terus berdatangan pelanggan yang mencari tempat makan murah untuk menghabiskan akhir pekan. Di salah satu meja panjang dekat jendela, enam orang siswa kelas 3-A sudah berkumpul sejak beberapa menit lalu, sebagian masih mengenakan seragam sekolah dan sebagian lagi membawa tas yang diletakkan sembarangan di bawah kursi.

Renji duduk di salah satu ujung meja sambil menopang dagu.

Di depannya ada segelas es teh yang sudah hampir habis.

"Jadi benar-benar selesai, ya."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Haruka, yang duduk di seberangnya, mengangkat kepala dari menu.

"Jangan mulai sentimental dulu."

"Aku cuma bilang selesai."

"Kalau lima menit lagi kamu mulai lihat foto-foto lama sambil bilang, 'Wah, ternyata waktu cepat berlalu,' aku pulang."

Renji tertawa.

Di samping Haruka, dua teman lainnya ikut tertawa. Mereka adalah orang-orang yang selama setahun terakhir menjadi bagian dari kelompok belajar Renji. Ada yang sering membantu mengerjakan matematika, ada yang suka membawa catatan tambahan, dan ada pula yang hampir selalu datang terlambat ke sesi belajar tetapi selalu membawa camilan.

Mereka semua berhasil lulus.

Dan sekarang, sebelum masing-masing masuk ke universitas, sekolah kejuruan, atau mulai menjalani jalan hidup yang berbeda, mereka memutuskan mengadakan makan bersama sederhana.

Tidak ada acara resmi.

Tidak ada dekorasi.

Tidak ada pidato panjang.

Hanya meja di family restaurant, makanan yang relatif murah, minuman bebas isi ulang, dan waktu beberapa jam untuk duduk bersama sebelum semuanya berubah.

Namun Renji tahu satu hal.

Ada satu tamu yang belum datang.

"Ngomong-ngomong," kata salah satu teman Renji, "adikmu ikut, kan?"

Renji mengangkat alis.

"Miyu?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Ya karena kita sudah sepakat."

Renji memandang mereka satu per satu.

Beberapa orang langsung mengangguk.

Haruka bahkan tersenyum.

"Jangan bilang kamu lupa."

"Aku kira kalian bercanda."

"Kami serius."

Renji menghela napas.

"Dia bilang kalau ikut, dia harus jadi pengawal."

"Memang itu yang kami harapkan."

Renji menatap mereka seperti baru saja mendengar keputusan paling aneh dalam sejarah pendidikan Jepang.

"Kalian benar-benar sudah lupa apa yang pernah dia lakukan?"

Haruka langsung tertawa.

"Justru karena ingat."

"Dia pernah berdiri di depan kelas kita sambil bawa spatula."

"Yang lebih mengerikan, dia tidak mengatakan apa-apa selama hampir tiga puluh detik."

"Dia cuma menatap."

"Benar."

Haruka meletakkan menu.

"Tapi sekarang lucu."

Renji menggeleng.

"Dia tidak akan senang disebut lucu."

"Kami tahu."

"Kalau dia dengar kalian ngomong begitu—"

Pintu restoran terbuka.

Renji langsung berhenti.

Teman-temannya serempak menoleh.

Aoi masuk lebih dahulu, mengenakan pakaian kasual yang rapi. Di belakangnya, Miyu berjalan dengan seragam sekolah yang sangat rapi, rambutnya ditata sempurna, dan ekspresi wajah yang jelas-jelas berusaha terlihat dewasa.

Ia memegang tas dengan kedua tangan.

Langkahnya kecil tetapi teratur.

Tatapannya lurus ke depan.

Sikap tubuhnya begitu tegak hingga terlihat seperti seseorang yang sedang menghadiri acara resmi.

Renji langsung menahan tawa.

Miyu melihatnya.

"Onii-chan."

"Hm?"

"Jangan ketawa."

"Aku belum ketawa."

"Tapi wajahmu sudah."

Aoi berjalan mendekat.

"Maaf agak terlambat."

"Enggak masalah," jawab Haruka. "Kami baru pesan minuman."

Miyu berdiri di samping Aoi dan melihat seluruh meja.

Beberapa orang tersenyum kepadanya.

Miyu membungkuk sedikit.

"Terima kasih sudah mengundang saya."

Renji langsung menoleh.

"Kenapa ngomongnya seperti pegawai perusahaan?"

Miyu menyikutnya.

"Aku harus menjaga etika."

Haruka tertawa.

"Silakan duduk, Miyu-chan."

Miyu berjalan menuju kursi di sebelah Aoi.

Ia duduk perlahan.

Kemudian merapikan rok.

Kemudian merapikan lengan seragam.

Kemudian memeriksa posisi tas.

Setelah semuanya dianggap sempurna, ia meletakkan kedua tangan di atas pangkuan.

Aoi meliriknya.

"Miyu-chan tegang?"

"Tidak."

"Sedikit?"

"...Sedikit."

Aoi tersenyum.

Miyu membuang muka.

Renji yang duduk di seberangnya mengangkat alis.

"Kamu kenapa?"

"Ini pertama kalinya aku datang ke acara teman-teman Onii-chan."

"Terus?"

"Aku harus menjaga citra."

Haruka mendengar itu.

"Citra apa?"

Miyu menatapnya serius.

"Sebagai pengawal resmi."

Meja langsung pecah oleh tawa.

Miyu berkedip.

"Apa?"

Renji menutup wajah.

"Jangan bilang begitu dengan serius."

"Memangnya salah?"

Haruka mengusap sudut matanya karena tertawa.

"Enggak. Sama sekali enggak."

Pesanan mulai berdatangan.

Hamburger steak, omurice, pasta, gratin, salad, parfait, dan beberapa porsi kentang goreng memenuhi meja. Family restaurant itu tidak mewah, tetapi justru itulah tempat yang cocok untuk mereka. Tidak ada tuntutan untuk makan dengan cepat atau berbicara terlalu formal. Mereka bisa duduk berjam-jam sambil bertukar cerita tentang sekolah, guru, ujian, dan hal-hal kecil yang selama ini hanya lucu karena dialami bersama.

Miyu awalnya makan dengan sangat hati-hati.

Punggung tegak.

Gerakan sendok pelan.

Wajah tenang.

Aoi duduk di sebelahnya sambil menikmati pasta.

Renji memperhatikan dari seberang meja.

"Miyu."

"Apa?"

"Kamu nggak perlu duduk seperti itu."

"Seperti apa?"

"Seperti sedang rapat dewan direksi."

Miyu mengerutkan kening.

"Aku sedang menjaga wibawa."

Haruka menyelipkan satu kentang goreng ke piring Miyu.

"Kalau begitu tetap jaga wibawa sambil makan."

Miyu menatap kentang itu.

Kemudian Haruka.

"...Terima kasih."

"Sama-sama."

Miyu memakan kentang itu.

Ekspresinya sedikit melunak.

Teman di sebelah Haruka langsung tersenyum.

"Lucu juga."

Miyu berhenti mengunyah.

Renji menatap temannya.

"Jangan."

"Apa?"

"Jangan bilang lucu di depan dia."

Miyu menelan makanan.

"Aku dengar."

Lihat selengkapnya