ImouKano: Imouto vs Kanojo

Diva Amane
Chapter #37

Gladi Bersih Upacara Kelulusan

Sore itu, sekolah terasa seperti tempat yang sama sekali berbeda.

Tidak ada suara langkah kaki yang terburu-buru memenuhi tangga. Tidak ada teriakan siswa dari ujung koridor, suara pintu kelas yang dibuka terlalu keras, atau suara guru yang sesekali terdengar menegur seseorang karena berlari di dalam gedung. Bahkan papan pengumuman yang biasanya dipenuhi kertas warna-warni kegiatan klub dan poster acara sekolah mulai tampak kosong. Beberapa lembar pengumuman sudah dicopot, menyisakan bekas selotip bening dan sudut kertas yang masih menempel di permukaan papan.

Tahun ajaran hampir berakhir.

Di luar jendela, langit sore berwarna pucat keemasan. Angin awal musim semi menyelusup melalui celah jendela yang sedikit terbuka, membawa udara yang masih dingin tetapi tidak lagi setajam musim dingin. Sesekali terdengar suara burung dari pepohonan di halaman sekolah, lalu disusul bunyi samar kendaraan yang melewati jalan di depan gerbang. Di aula, para siswa kelas tiga sedang menjalani gladi bersih untuk upacara kelulusan yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi.

Renji duduk di salah satu barisan kursi bersama teman-teman sekelasnya.

Seragam gakuran yang dikenakannya terasa sedikit berbeda sore itu. Bukan karena ukurannya berubah, melainkan karena untuk pertama kalinya ia mengenakannya dengan kesadaran bahwa beberapa hari lagi ia tidak akan lagi memakainya sebagai seorang siswa SMA. Di atas panggung, beberapa guru berdiri sambil memegang daftar nama. Seorang guru membacakan urutan prosesi, sementara para siswa kelas tiga mengikuti instruksi untuk berdiri, berjalan menuju panggung, menerima ijazah secara simbolis, kemudian kembali ke tempat duduk.

Semuanya terasa sederhana.

Terlalu sederhana, bahkan.

Renji mengikuti aba-aba untuk berdiri ketika namanya dipanggil dalam latihan. Ia berjalan melewati lorong di antara kursi, menaiki beberapa anak tangga kecil menuju panggung, lalu menerima map kosong dari seorang guru yang berdiri di sana. Tidak ada ijazah sungguhan di dalamnya. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada keluarga yang menunggu di belakang aula. Hanya latihan.

Namun ketika Renji menerima map itu dan menundukkan kepala sesuai instruksi, sebuah pikiran sederhana tiba-tiba muncul di kepalanya.

Jadi benar-benar tinggal beberapa hari lagi, ya.

Ia kembali ke tempat duduk dan mengembuskan napas perlahan.

Di sampingnya, salah seorang teman sekelas berbisik, “Gue nggak nyangka akhirnya sampai juga.”

Renji menoleh.

“Apanya?”

“Ya ini. Kelulusan.”

Temannya tertawa kecil, tetapi tawanya terdengar lebih gugup daripada lucu. “Rasanya baru kemarin kita masih sibuk mikirin ujian masuk SMA.”

Renji mengangkat bahu. “Tiga tahun ternyata cepat.”

“Cepat banget.”

Percakapan itu berhenti setelah guru meminta semua siswa kembali diam. Namun kalimat sederhana tersebut tetap tertinggal di kepala Renji.

Tiga tahun.

Ia teringat hari pertama masuk sekolah. Seragam yang masih kaku. Sepatu yang terasa belum nyaman. Ruang kelas yang belum dikenalnya. Wajah-wajah teman yang sekarang sudah begitu akrab sampai ia bahkan tidak perlu menanyakan apa yang sedang mereka pikirkan untuk mengetahui apakah mereka sedang bercanda atau serius.

Tiga tahun yang berisi ujian, kegiatan sekolah, festival, kekalahan dalam pertandingan antarkelas, kemenangan kecil yang tidak akan pernah masuk buku sejarah sekolah, makan siang di rooftop, pertengkaran kecil, perjalanan pulang, dan terlalu banyak masalah yang entah bagaimana selalu melibatkan adiknya.

Renji hampir tersenyum ketika memikirkan satu hal terakhir.

Kalau bukan karena Miyu, mungkin kehidupan SMA-nya akan jauh lebih tenang.

Jauh lebih normal.

Dan mungkin juga jauh lebih membosankan.

Sementara gladi bersih masih berlangsung di aula, Miyu justru berada di tempat lain.

Ia berdiri di lantai pertama dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku blazer seragamnya. Tatapannya mengarah ke tangga yang menuju lantai dua, lalu ke tangga berikutnya yang mengarah ke lantai tiga.

Dulu, tangga itu merupakan jalur menuju wilayah terlarang.

Lantai dua.

Lantai tiga.

Tempat para senior perempuan berkeliaran.

Tempat Renji bersekolah.

Tempat yang menurut Miyu pernah memiliki potensi bahaya setara dengan zona militer.

Ia pernah menaiki tangga itu dengan penyamaran kardus. Pernah berdiri di depan kelas 3-A dengan ekspresi seperti petugas keamanan profesional. Pernah membuat papan petunjuk palsu agar siswa kelas dua tidak melewati koridor tertentu. Pernah membawa spatula kayu dan berjalan keliling sekolah sampai mendapat julukan Inspektur Spatula Kayu.

Kalau dipikir sekarang, semuanya terdengar sangat bodoh.

Miyu memiringkan kepala.

“...Aku benar-benar melakukan banyak hal.”

Suara gumamannya sendiri terdengar aneh di koridor yang sepi.

Seorang guru yang lewat di belakangnya sempat menoleh, tetapi Miyu langsung memasang ekspresi datar seolah tidak mengatakan apa pun.

Ia kemudian menaiki tangga.

Satu anak tangga.

Dua.

Tiga.

Suara sol sepatunya terdengar jelas di antara dinding yang kosong. Ketika mencapai lantai dua, Miyu berhenti sebentar. Dulu ia akan langsung memindai koridor dari kiri ke kanan untuk memastikan tidak ada siswi kelas dua yang mendekati Renji.

Sekarang tidak ada alasan untuk melakukannya.

Renji sedang berada di aula.

Dan bahkan jika ada seorang siswi kelas dua berjalan melewati koridor, tidak ada lagi alasan bagi Miyu untuk menganggapnya sebagai ancaman.

Miyu tetap berjalan.

Tangga menuju lantai tiga berada di ujung koridor.

Ia menaikinya perlahan.

Begitu sampai di lantai tiga, langkah Miyu berhenti.

Koridor itu terasa jauh lebih panjang daripada biasanya.

Mungkin karena sore hari. Mungkin karena sebagian besar siswa kelas tiga sedang berada di aula. Mungkin karena ruang-ruang kelas yang dulu dipenuhi suara kini hampir seluruhnya kosong.

Pintu kelas 3-A terbuka sedikit.

Miyu berjalan mendekat.

Ia tidak langsung masuk.

Dari celah pintu, ia bisa melihat ruangan yang selama tiga tahun menjadi bagian dari kehidupan Renji. Beberapa meja sudah dipindahkan dan disusun lebih rapat. Sebagian papan tulis telah dibersihkan. Di atas salah satu meja masih terdapat beberapa lembar kertas yang belum diambil pemiliknya.

Di sudut belakang kelas, sebuah kotak kardus besar menunggu untuk dibawa keluar.

Tidak ada lagi suasana kelas seperti biasanya.

Tidak ada Renji yang duduk santai sambil memutar pulpen.

Tidak ada teman-temannya yang berisik.

Tidak ada suara seseorang bertanya soal pekerjaan rumah.

Miyu perlahan masuk.

Ia berdiri di dekat meja Renji.

Tangannya menyentuh permukaan meja itu.

Dingin.

Kosong.

Entah kenapa, dadanya terasa sesak.

“...Onii-chan.”

Tidak ada jawaban.

Tentu saja.

Renji sedang berada di aula.

Miyu menarik tangannya kembali dan memandang keluar jendela.

Di luar, beberapa pohon sakura mulai berbunga. Belum sepenuhnya mekar, tetapi kelopak-kelopak kecil sudah cukup banyak untuk diterbangkan angin. Beberapa di antaranya menempel di kaca jendela, sementara yang lain berputar di udara sebelum jatuh ke halaman.

Miyu menatap satu kelopak yang melayang turun.

Selama ini ia selalu membenci lantai tiga.

Ia menganggapnya sebagai wilayah penuh ancaman.

Namun sekarang, ketika tidak ada siapa-siapa di sana, justru lantai tiga terasa terlalu sunyi.

“...Tahun depan,” gumamnya pelan.

Kalimat itu terasa lebih berat daripada yang ia kira.

“Tahun depan Onii-chan sudah nggak di sini.”

Miyu menundukkan kepala.

Ia tahu itu sejak lama.

Renji sudah diterima di universitas negeri lokal. Ia tidak akan pindah jauh. Ia tidak akan meninggalkan rumah. Ia bahkan sudah mengatakan bahwa ia tetap akan pulang setiap hari dan masih bisa makan malam bersama keluarga.

Secara logika, tidak ada masalah.

Tetapi sekolah bukan rumah.

Sekolah adalah tempat Miyu bisa melihat Renji tanpa harus mencarinya di luar. Tempat ia bisa menaiki tangga, berdiri di depan kelas, mengintip dari jendela, atau tiba-tiba muncul ketika Renji sedang berbicara dengan seorang siswi.

Selama tiga tahun, keberadaan Renji di gedung itu terasa seperti sesuatu yang pasti.

Besok ia masih ada.

Lusa ia masih ada.

Minggu depan ia masih ada.

Sekarang, kepastian itu akan hilang.

Miyu menyandarkan dahinya perlahan ke kaca jendela.

“...Aku nggak bisa patroli lagi.”

Suaranya nyaris berbisik.

“Lantai tiga bakal kosong.”

Ia menelan ludah.

“Terus aku harus ngawasin Onii-chan dari mana?”

Ada suara langkah kaki dari koridor.

Miyu tidak menoleh.

Langkah itu semakin dekat.

Kemudian suara yang sangat dikenalnya terdengar dari belakang.

“Dari rumah, mungkin?”

Miyu langsung menoleh.

Renji berdiri di ambang pintu.

Ia sudah selesai mengikuti gladi bersih. Dasi hitamnya sedikit longgar, dan rambutnya berantakan karena beberapa kali ia mengusap kepala selama latihan. Di sampingnya berdiri Aoi yang membawa tas sekolah di satu tangan.

Aoi tersenyum kecil.

“Kami cari kamu dari tadi.”

Miyu segera memalingkan wajah.

“Aku cuma inspeksi.”

Renji mengangkat alis.

“Inspeksi apa?”

“Inspeksi keamanan.”

Lihat selengkapnya