Bel sekolah berbunyi lebih panjang dari biasanya pagi itu.
Nada yang selama tiga tahun selalu terdengar sebagai penanda dimulainya pelajaran, berakhirnya jam istirahat, atau pergantian kelas, kini menggema di seluruh gedung dengan arti yang berbeda. Di aula, kursi-kursi telah disusun rapi untuk upacara kelulusan. Para siswa kelas tiga duduk dalam seragam formal mereka, punggung tegak, tangan diletakkan di atas paha, sementara di hadapan mereka para guru dan tamu undangan menempati tempat masing-masing. Udara awal musim semi masih menyimpan dingin tipis, tetapi sinar matahari yang masuk melalui jendela tinggi aula terasa hangat di kulit.
Renji duduk di barisan kelas 3-A.
Ia memandangi panggung di depan tanpa benar-benar melihat dekorasi bunga yang terpasang di sana. Di sampingnya, teman-teman sekelasnya duduk lebih diam daripada biasanya. Tidak ada bisikan iseng yang cukup keras untuk membuat guru menoleh. Tidak ada yang sibuk memainkan ponsel di bawah meja. Bahkan Renji sendiri, yang biasanya paling santai ketika suasana terlalu formal, hanya sesekali menarik napas panjang sambil memainkan ujung lengan seragam gakuran miliknya.
Hari ini benar-benar hari terakhir.
Pikiran itu terasa aneh karena sebenarnya ia sudah tahu sejak lama. Ia sudah mengikuti gladi bersih kemarin. Ia sudah melihat kelas yang dikosongkan, meja yang dipindahkan, dan koridor lantai tiga yang mulai kehilangan suara. Ia bahkan sudah membicarakan kelulusan dengan teman-temannya berkali-kali. Namun sekarang, ketika seluruh siswa kelas tiga duduk bersama untuk terakhir kalinya dalam suasana yang resmi seperti ini, kenyataan itu terasa jauh lebih berat daripada sekadar angka pada kalender.
Di belakang aula, Miyu duduk bersama siswa kelas satu dan dua yang mendapat izin menyaksikan upacara.
Ia mengenakan seragam dengan sangat rapi pagi itu. Rambutnya disisir lebih teliti dari biasanya, pita seragamnya terpasang lurus, bahkan sepatu dalam ruangannya bersih tanpa noda. Namun ekspresi wajahnya justru jauh lebih muram daripada ketika ia datang ke sekolah setiap hari.
Tatapannya terus mencari satu orang.
Begitu Renji terlihat dari kejauhan, matanya berhenti bergerak.
Onii-chan.
Seragam gakuran hitam itu tampak sama seperti biasanya, tetapi entah mengapa pagi ini Miyu merasa seragam tersebut terlihat berbeda. Mungkin karena setelah hari ini, Renji tidak akan lagi memakainya sebagai siswa SMA. Mungkin karena beberapa hari terakhir ia sudah mulai menyadari bahwa banyak hal yang selama ini dianggap permanen ternyata memiliki batas.
Ketika kepala sekolah mulai memberikan pidato, Miyu mencoba mendengarkan.
Namun pikirannya terus melayang.
Ia teringat Renji pulang sekolah dengan tas tersampir di bahu. Terlintas wajah kakaknya ketika sedang makan bento buatannya. Ia teringat bagaimana Renji sengaja memancingnya membeli roti mahal dari kantin, bagaimana ia pernah berdiri di depan kelas 3-A sambil membawa spatula kayu, bagaimana ia mengikuti Renji sampai stasiun, bahkan bagaimana ia pernah terjepit di kereta hanya demi memastikan kakaknya tidak pergi dengan perempuan lain.
Semua itu sekarang menjadi masa lalu.
Miyu menunduk.
Jangan nangis.
Ia mengepalkan tangan di atas lutut.
Ini cuma kelulusan.
Tetapi ketika nama Renji disebut dalam daftar siswa yang lulus, sesuatu di dadanya terasa seperti ditarik.
Renji berdiri bersama seluruh siswa kelas tiga.
Suara kursi bergeser terdengar serempak.
Mereka berjalan menuju panggung satu per satu sesuai kelas. Nama-nama dibacakan, ijazah diberikan, kepala sekolah menyampaikan ucapan selamat. Ketika tiba giliran kelas 3-A, Renji berdiri tegak bersama teman-temannya.
Di luar aula, bunga sakura mulai bermekaran.
Angin musim semi menggerakkan cabang-cabang pohon di halaman sekolah, membuat beberapa kelopak terlepas dan terbang melewati jendela.
Renji sempat melihatnya.
Sakura.
Ia hampir tertawa kecil.
Terlalu klise.
Tetapi mungkin justru karena terlalu klise, pemandangan itu terasa tepat.
Setelah rangkaian prosesi selesai, kepala sekolah memberikan pidato terakhir. Para siswa kelas tiga kemudian menyanyikan lagu kelulusan bersama-sama. Suara mereka pada awalnya terdengar cukup mantap, tetapi semakin mendekati bagian akhir, beberapa suara mulai pecah.
Renji menatap lurus ke depan.
Ia mendengar teman di belakangnya menarik napas panjang.
Seseorang di barisan depan mengusap mata.
Renji sendiri tidak sampai menangis, tetapi tenggorokannya terasa berat.
Tiga tahun.
Benar-benar selesai.
Ketika lagu berakhir, tepuk tangan memenuhi aula.
Upacara kelulusan resmi selesai.
Begitu pintu aula dibuka, suasana berubah seketika.
Halaman sekolah yang beberapa menit sebelumnya begitu tertib langsung dipenuhi suara. Para siswa keluar membawa tas, bunga, kamera, ponsel, dan berbagai hadiah kecil. Ada yang berpelukan sambil menangis, ada yang tertawa terlalu keras untuk menutupi rasa sedih, ada yang sibuk mencari teman untuk foto bersama di bawah pohon sakura.
Renji keluar bersama teman-teman kelas 3-A.
“Selamat, Renji!”
Salah seorang teman menepuk pundaknya.
“Lo juga.”
“Foto dulu!”
“Bentar, bentar!”
Dalam waktu kurang dari semenit, Renji sudah ditarik ke sana kemari untuk berfoto. Ia berdiri di tengah kelompok teman-temannya, membuat tanda V dengan dua jari, kemudian berganti posisi untuk foto berikutnya. Ada yang memaksa seluruh anggota kelas berkumpul, ada yang meminta guru wali kelas ikut berfoto, dan ada yang sibuk mencari sudut terbaik agar pohon sakura masuk ke dalam bingkai.
Renji tertawa.
“Kenapa foto sebanyak ini?”
“Karena kalau nggak sekarang, nanti nyesel!”
“Besok juga bisa.”
“Besok kita bukan anak SMA lagi, bodoh!”
Renji terdiam sesaat.
Kemudian ia tertawa kecil.
“...Iya juga.”
Tidak jauh dari sana, Miyu berdiri di bawah pohon sambil memeluk tasnya.
Ia tidak ikut berlari mencari Renji.
Ia hanya memperhatikan.
Teman-teman Renji datang silih berganti, mengucapkan selamat, menepuk bahunya, lalu mengambil foto. Beberapa siswi kelas tiga yang mengenalnya juga datang untuk berbicara. Miyu secara naluriah mulai memasang tatapan waspada, tetapi beberapa detik kemudian ia mengembuskan napas.
Tidak ada gunanya.
Hari ini berbeda.
Bahkan kalau ada seratus siswi datang sekalipun, ia tidak bisa lagi menganggap lantai tiga sebagai wilayah yang harus dijaga.
Miyu memandang seragam Renji.
Gakuran hitam.
Tombol-tombol emas.
Lalu matanya berhenti pada satu titik.
Tombol kedua.
Daini no Botan.
Ia pernah mendengar tentang tradisi itu. Tombol yang posisinya paling dekat dengan jantung dipercaya sebagai simbol perasaan terdalam seorang siswa laki-laki. Pada hari kelulusan, seorang laki-laki dapat memberikan tombol kedua seragamnya kepada perempuan yang ia cintai sebagai kenang-kenangan.
Miyu menyipitkan mata.
“...Oh.”
Sebuah pikiran muncul.
Kemudian ia melihat Aoi.
Aoi berdiri tidak jauh dari sana, mengenakan seragamnya sendiri. Ia tampak ragu untuk mendekat, seolah masih menunggu momen yang tepat. Tangannya beberapa kali merapikan ujung lengan seragam, lalu kembali menggenggam tali tas.
Wajahnya sedikit merah.
Miyu langsung memahami.
Oh.
Jadi begitu.
Ia menatap Aoi beberapa detik.
Lalu menatap Renji.
Kemudian kembali menatap Aoi.
Senyum tipis muncul di wajah Miyu.
“...Aku tahu harus melakukan apa.”
Ia memasukkan tangan ke saku blazer.
Sesuatu yang dingin menyentuh jarinya.
Gunting lipat kecil.
Miyu membawanya sejak pagi.
Bukan karena ia merencanakan sesuatu yang aneh.
Setidaknya menurut versinya sendiri.
Ia hanya ingin memastikan proses pemotongan tombol berlangsung efisien.
Beberapa meter dari sana, Aoi akhirnya memberanikan diri mendekati Renji.
“Renji.”
Renji yang sedang berbicara dengan teman sekelas menoleh.
“Oh, Aoi.”
Aoi berhenti di depannya.
Seketika beberapa siswi yang berada tidak jauh dari sana mulai memperhatikan.
Ada yang berbisik.
“Bukannya itu pacarnya?”
“Iya.”
“Jadi mungkin...”
Pandangan mereka perlahan turun ke seragam gakuran Renji.
Renji menyadarinya.
Ia menahan senyum.
Aoi juga menyadari.
Wajahnya semakin merah.
“Boleh bicara sebentar?”
“Boleh.”
Renji mundur sedikit dari kerumunan.
Mereka berdiri di dekat salah satu pohon sakura, agak jauh dari teman-teman sekelasnya.
Aoi memandang seragam Renji.