ImouKano: Imouto vs Kanojo

Diva Amane
Chapter #39

Epilog: Foto Bertiga di Depan Gerbang

Jalan menuju gerbang utama sekolah dipenuhi warna merah muda.

Bukan lagi beberapa kelopak yang terlepas dari dahan seperti beberapa hari sebelumnya, melainkan bunga-bunga sakura yang kini bermekaran hampir sepenuhnya. Cabang-cabang pohon di sepanjang jalan membentuk semacam kanopi alami di atas kepala para siswa yang masih berada di halaman sekolah. Ketika angin musim semi bertiup melewati pepohonan, ratusan kelopak bergerak bersamaan, sebagian tetap melekat pada ranting, sebagian lagi melayang turun dengan gerakan ringan yang hampir terlalu indah untuk sebuah halaman sekolah biasa.

Hari kelulusan telah selesai.

Namun sekolah belum benar-benar kosong.

Masih ada siswa yang berdiri di dekat gedung untuk mengambil foto terakhir. Ada guru yang berbicara dengan para orang tua. Ada teman-teman yang saling berpelukan sambil berjanji untuk tetap berhubungan, meskipun masing-masing tahu bahwa setelah masuk universitas atau mulai bekerja nanti, waktu untuk bertemu mungkin tidak akan semudah sekarang.

Di antara kerumunan itu, Renji berjalan perlahan menuju gerbang.

Ijazahnya tersimpan rapi di dalam map yang ia pegang dengan satu tangan. Seragam gakurannya masih terpasang lengkap, meskipun satu tombol telah hilang dari bagian dada.

Ia sesekali menunduk melihat bagian itu.

“...Jadi tinggal begini.”

Sebuah ruang kecil terlihat di antara deretan tombol emas.

Renji menyentuhnya dengan ujung jari.

Daini no Botan miliknya sekarang berada di dalam tas Aoi.

Entah kenapa, melihat ruang kosong itu justru membuat kelulusan terasa lebih nyata daripada saat ia berdiri di atas panggung tadi.

Ia benar-benar sudah selesai.

Tidak ada lagi jadwal pelajaran kelas tiga.

Tidak ada lagi tugas sekolah yang harus dikumpulkan besok pagi.

Tidak ada lagi guru yang akan mengingatkan ujian berikutnya.

Tidak ada lagi alasan untuk berkata, nanti kita ketemu di sekolah.

Renji mengangkat wajah.

Di depannya, gerbang utama terlihat jelas.

Gerbang yang sama yang ia lewati hampir setiap pagi selama tiga tahun.

Dulu, ia sering masuk melewatinya dengan setengah mengantuk, kadang sambil menguap, kadang sambil mengunyah roti dari konbini karena tidak sempat sarapan. Sekarang, gerbang itu berdiri di hadapannya dengan cahaya matahari yang jauh lebih cerah.

“Renji!”

Ia menoleh.

Seorang teman sekelas berlari kecil menghampirinya sambil membawa kamera Polaroid.

“Foto terakhir!”

Renji tersenyum.

“Masih belum selesai juga?”

“Justru sekarang waktunya.”

Temannya menunjuk ke arah gerbang.

“Foto kelulusan harus di sana. Jangan sampai tiga tahun sekolah cuma punya foto dari dalam kelas.”

Renji tertawa.

“Masuk akal.”

Temannya kemudian melihat dua orang yang berdiri beberapa langkah di belakang Renji.

Aoi sedang membetulkan posisi tas di bahunya.

Miyu berdiri di sebelahnya dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

Teman Renji tersenyum lebar.

“Sekalian bertiga.”

Miyu langsung mengernyit.

“Kenapa aku?”

“Karena dari dulu lo selalu ada.”

“Aku cuma kebetulan lewat.”

Renji menoleh.

“Sejak kapan kebetulan lewat bisa sampai ke lantai tiga setiap jam istirahat?”

Miyu memelototinya.

“Itu investigasi.”

“Ya, ya.”

Aoi tertawa kecil.

“Foto bertiga saja, Miyu-chan.”

Miyu membuka mulut untuk membantah.

Kemudian ia melihat Aoi.

Senyum Aoi begitu tenang sehingga penolakan yang sudah siap keluar dari mulutnya mendadak kehilangan tenaga.

“...Ya sudah.”

Teman Renji mengangkat kamera.

“Bagus! Berdiri dekat-dekat.”

“Jangan terlalu dekat,” kata Miyu.

“Kenapa?”

“Karena Onii-chan baru lulus. Dia butuh ruang bernapas.”

Renji menghela napas.

“Dek, yang mau foto cuma kita bertiga.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

“Aku hanya menetapkan jarak aman.”

Teman Renji tertawa.

“Jarak aman dari kakak sendiri?”

“Benar.”

Aoi berjalan mendekat.

Ia berdiri di sisi Miyu.

Kemudian, tanpa banyak bicara, Aoi merangkul bahu Miyu dari samping.

Miyu langsung kaku.

“A-Aoi-san?”

“Hm?”

“Kenapa pegang?”

“Biar nggak jauh.”

Miyu menatap lengan Aoi yang melingkar hangat di tubuhnya.

Biasanya ia akan langsung melepaskan diri.

Tetapi hari ini berbeda.

Ia hanya mengembuskan napas.

“...Jangan terlalu erat.”

Aoi tersenyum.

“Baik.”

Renji berdiri di sisi lain.

Temannya mengangkat kamera Polaroid.

“Renji, lo di tengah.”

“Kenapa gue?”

“Karena lo tokoh utamanya hari ini.”

Renji menggeleng sambil tertawa.

“Berlebihan.”

Namun ia tetap berdiri di tengah.

Ia memegang map ijazah dengan satu tangan, lalu menatap gerbang sekolah yang berada beberapa meter di depan.

Aoi berdiri di sebelah kanannya.

Miyu di sebelah kiri.

Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.

Angin melewati pepohonan sakura.

Beberapa kelopak jatuh di atas rambut Aoi.

Satu kelopak mendarat di bahu Renji.

Miyu melihatnya.

Tanpa berpikir panjang, ia mengangkat tangan dan mengambil kelopak itu.

Renji menoleh.

“Apaan?”

“Kelopak.”

“Kenapa diambil?”

“Ganggu.”

Miyu memasukkan kelopak tersebut ke telapak tangannya.

Renji tersenyum.

“Lo sebenarnya sentimental juga.”

“Diam.”

Aoi tertawa pelan.

“Lucu sekali.”

“Jangan ikut-ikutan.”

Teman Renji memperhatikan mereka melalui kamera.

“Udah siap?”

Renji mengangguk.

“Siap.”

Aoi tersenyum.

Miyu langsung mengubah ekspresinya menjadi cemberut.

Renji meliriknya.

“Kenapa muka lo begitu?”

“Aku tidak mau terlihat senang.”

“Kenapa?”

“Ini foto kelulusan Onii-chan.”

“Terus?”

“Aku harus terlihat bermartabat.”

Renji menahan tawa.

“Bermartabat?”

Miyu mengangguk tegas.

“Aku adik dari seorang lulusan SMA.”

“Kenapa ekspresi bermartabatnya kayak orang mau membunuh fotografer?”

“Jangan ganggu konsentrasi.”

Teman Renji tertawa.

“Ini bagus. Jangan diubah. Justru ekspresi Miyu paling cocok.”

“Jangan bilang begitu.”

“Polaroid-nya bakal keren.”

“Tidak.”

Aoi merangkul Miyu sedikit lebih erat.

Miyu kembali kaku.

Lihat selengkapnya