Jakarta, 27 Oktober 2022.
Matahari tersenyum hangat, sinanrnya menyelinap masuk melalui celah ventilasi rumah Eyang Putri yang sederhana dan terawat. Aroma gurih nasi goreng memenuhi ruangan, bercampur dengan suara sutil yang beradu dengan wajan. Eyang Putri, yang kini telah menginjak usia enam puluh tahun, bergerak dengan telaten di depan kompor.
Kesibukan dapur itu kian bertambah ramai dengan suara blender yang menderu kencang. Cinta, gadis berusia dua puluh dua tahun itu tengah menghaluskan buah-buah segar yang akan dijadikannya pelengkap sarapannya pada pagi hari ini.
Sementara itu, di dalam kamar bernuansa biru, Dimas duduk di depan meja belajarnya dengan jari-jemari mengetikkan sesuatu pada layar ponselnya. Ia adalah seorang cowok berusia dua puluh tahun yang memilih jalannya sebagai penulis. Oleh sebab itu, dinding kamarnya dipenuhi dengan poster penulis besar Indonesia, seperti; Tere Liye, Dewi Lestari, dan Raditya Dika, yang merupakan sumber inspirasinya dalam merangkai kata.
Ada pula sebuah foto masa kini menampilkan dirinya yang berambut gondrong sebahu, diapit oleh dua malaikat pelindungnya: Eyang Putri dan Cinta, di atas meja. Namun, tepat di sebelahnya, terdapat sebuah pigura usang berumur enam belas tahun. Potret itu memperlihatkan wajah Ayu–ibunya–telah dicoret-coret habis dengan spidol hitam, menyisakan sosok Bagas–ayahnya–dan Dimas kecil berusia empat tahun yang tersenyum riang dengan mengenakan seragam sekolah PAUD.
Dimas membuka aplikasi Kwikku di gawainya. Sebuah profil bertuliskan ‘Dimas Anggara’ dengan angka pengikut mencapai tiga puluh ribu orang tertera pada layar. Tak hanya itu, terlihat pula novelnya yang berjudul Imperfect Family sedang berada di puncak popularitas dengan total pembaca mencapai delapan ratus ribu orang.
Dengan napas tertahan, Dimas menekan tombol Publikasi untuk menambah bab terbaru pada novelnya. Tak membutuhkan waktu lama, ponselnya bergetar. Puluhan komentar dukungan mengalir deras, memuji alur ceritanya yang menguras emosi. Dimas tersenyum bangga. Jari-jarinya pun menari untuk membalas satu persatu apresiasi dari pembacanya itu.
"Amin," ungkapnya saat melihat komentar dari seorang pembaca yang mendoakan agar karyanya segera dipinang penerbit.
Ya, Dimas sangat mengharapkan itu. Sebab, mimpinya adalah menjadi seorang penulis terkenal yang bukunya bisa terpajang di rak-rak toko buku, di seluruh Indonesia.
"Dimaas! Ayo sarapan dulu!" teriakan Eyang Putri memecah atensinya.
“Iya, Eyang!” Dimas pun segera menyimpan ponselnya di saku celana. Kemudian, bergegas menuju dapur.
Suasana meja makan pagi itu terasa berwarna. Dimas menyantap nasi gorengnya dengan lahap, hingga pipinya menggembung. "Nasi goreng buatan Eyang emang paling enak," gumamnya dengan mulut yang penuh nasi.
Cinta berdecak kecil. "Kalau lagi makan, jangan ngomong! Telen dulu tuh nasi!" semprotnya.
"Biarin! Terserah gue, sirik aja lo!" Dimas justru menjulurkan lidah, lalu tertawa.
Bagi Dimas, Cinta merupakan penghuni kos sekaligus sahabat karibnya di rumah ini. Gadis itu merupakan seorang mahasiswi kedokteran yang sedang menjalani praktik di Rumah Sakit Jiwa Harapan. Meski keduanya sering cekcok tak jelas, tetapi Dimas merasa beruntung memiliki sahabat seperti Cinta. Sebab, selain cantik dan pintar, gadis itu adalah orang pertama yang akan menjadi dokter pribadinya, merawatnya apabila sakit kepalanya menyerang.
“Ye … dibilangin, kok, ngeyel!” protes Cinta tak mau kalah.
Sementara Eyang Putri hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya. "Kalian tuh, ya... di depan makanan ndak boleh berisik. Kita harus bersyukur masih dikasih rezeki sama Gusti Allah," ucapnya lembut, menenangkan suasana.
"Tuh, dengerin!" seru Dimas merasa menang.
"Ih, gue kan cuma kasih tahu lo doang!"
Eyang segera menengahi. "Udah, udah... Ayo, makan lagi yang bener. Jangan berisik."