Imperfect Family

Rosiana Quraisin
Chapter #3

2 - Sang Penguntit

Wajah Cinta mulai memerah dan bulir keringat jatuh di pelipisnya. Gadis itu mengibaskan tangan kanannya ke arah wajah yang terasa gerah. Sebab, matahari telah tergantung tepat di atas kepala, memanggang aspal Jakarta hingga menyisakan uap tipis yang berdebu. 

“Udah teleponnya? Panas, nih. Yuk, buruan cabut!” pintanya. Gadis itu pun segera memakai helm dan naik ke atas motor setelah Dimas selesai menelepon Eyang.

Sayangnya, cowok yang memiliki tubuh atletis, tetapi ramping itu–tipikal cowok yang aktif meski menghabiskan banyak waktu di depan layar ponsel–menggeleng dan kembali mendekatkan ponsel ke telinganya. “Gue telepon Lusi dulu,” katanya. 

Cinta hanya bisa mendesah pasrah, lalu kembali turun dari motor dan berdiri di sisi jalan sembari tangan kanannya terus mengibas ke arah wajah. Entah mengapa, panas matahari yang menyengat dan angin kota yang membawa debu jalanan tak sedikit pun melunturkan binar mata cowok itu.

"Halo, Lusi! Aku mau kasih kabar bahagia buat kamu. Akhirnya, Falcon Publishing setuju menerbitkan novelku!" ucap Dimas. Suaranya masih terdengar ceria.

Pekikan riang Lusi menyambar seperti oase dari seberang teleponnya. "Astaga! Kamu serius, Mas? Kamu keren banget. Itu penerbit besar, loh. Selamat, ya!" 

Ada jeda sejenak, sebuah helaan napas lega yang tertangkap di indera pendengaran Dimas. "Kalau begitu, siang ini kamu harus datang ke rumah. Kita rayakan keberhasilan kamu ini sama-sama, ya?” lanjut Lusi kemudian.

Dimas mengangguk antusias. “Iya, aku ke sana sekarang,” jawabnya, lalu menutup telepon dengan senyum yang tak kunjung surut. Ia bergegas turun dari motor dan menghampiri Cinta. Tanpa aba-aba, Dimas menarik gadis itu ke dalam pelukannya erat. Lalu, membenamkan wajah di bahu sahabatnya itu, meluapkan segala rasa syukur akan mimpi yang mendadak menjadi kenyataan ini. 

“Lo udah denger semuanya, kan, Ta? Gue benar-benar senang banget. Gue nggak nyangka kalau impian gue bakalan terwujud secepat ini,” ungkap Dimas.

Sejenak, Cinta tertegun. Namun, dadanya mulai teremas perih ketika mendengar ucapan cowok yang tinggi badannya mencapai seratus tujuh puluh lima sentimeter itu. Kendati begitu, jemarinya perlahan bergerak, membalas dekapan cowok itu, mendekap sesuatu yang baginya rapuh dan mudah hancur. “Selamat, ya. Gue bangga banget punya sahabat kayak lo. Dan gue juga senang, kalau lo senang, Mas,” bisiknya. Suara gadis itu nyaris tenggelam oleh bising kendaraan yang berlalu-lalang. 

 Namun, tiba-tiba Dimas segera melepas pelukannya, seolah baru saja teringat oleh janji lain yang lebih mendesak. Kemudian, cowok yang memiliki rahang tegas dan sepasang mata tajam itu segera naik ke atas motor dan mengenakan helm dengan gerakan terburu-buru.  

“Eh, Mas! Lo mau ke mana?” tanya Cinta bingung. 

“Ke rumah Lusi!” sahut Dimas sambil menyalakan mesin motornya. Suara motor itu pun menderu.

Sementara Cinta kelabakan. "Gue ikut!" katanya. Ia pun segera naik, duduk di belakang cowok berjaket biru itu.

***

Siang itu, rumah Lusi bak sebuah galeri bagi para pemuja Hallyu. Dinding ruang tamunya nyaris tak menyisakan ruang kosong, karena dipenuhi oleh poster-poster aktor Korea; Lee Minho, Song Joong Ki, Lee Jong Suk, dan masih banyak lagi. 

Dara—gadis bertubuh gempal dengan rambut kribo yang eksentrik—sedang menempelkan pipinya ke sebuah poster, berbicara dengan nada merayu dan menggelikan, "Ya ampun, kenapa kalian semua hensyem banget, sih? Hati aye jadi jedak-jeduk setiap memandang kalian," gumamnya dengan logat Betawi yang kental.

Lihat selengkapnya