Imperfect Family

Rosiana Quraisin
Chapter #4

3 - Sang Pembunuh

Malam itu, bulan menghilang dari langit yang gelap. Kendati begitu, dapur rumah Eyang Putri terasa hangat. Aroma sisa tumisan sayur masih mengambang di udara, berbaur dengan uap nasi panas yang mengepul dari piring-piring di atas meja. Dimas duduk di depan meja makan. Maniknya menatap Eyang Putri dengan kesungguhan, sementara pikirannya dipenuhi kilasan-kilasan tentang sosok penguntit yang ada di pekarangan rumah Lusi siang tadi.

"Penguntit?" Eyang Putri menghentikan kunyahannya setelah mendengar cerita sang cucu. Matanya yang menyimpan ribuan rahasia kini redup ditelan kabut kecemasan yang tiba-tiba menerjang. Kerutan di dahi tuanya pun tampak kian dalam di bawah temaram lampu dapur. 

Dimas mengangguk mantap. "Iya, Eyang. Namanya Devan Prakoso. Ukiran namanya ada jelas di pohon belakang rumah Lusi." Ia meletakkan sendoknya, suaranya naik satu oktaf karena emosi yang meluap. "Pokoknya, demi keselamatan Lusi, Dimas nggak bakal tinggal diam sebelum Dimas berhasil menangkap orang itu!"

Cinta hanya bisa bergeming di seberang meja makan. Gadis yang memiliki sepasang mata berwarna cokelat itu tidak menyahut, ia hanya menatap piringnya dengan pandangan yang kosong. Sesaat, maniknya sempat bertemu dengan mata milik Eyang Putri. Ada sebuah dialog bisu yang mengalir di antara mereka; sebuah rahasia yang terkunci rapat di balik bibir, serta kekhawatiran, dan beban yang tak sanggup mereka suarakan di depan Dimas. 

Malam kian larut. Ikatan antara Dimas dan Eyang Putri pun kian mengerat. Kini, Dimas tampak membujuk Eyangnya yang duduk di kursi untuk melakukan foto bersama. "Ayo, dong, Eyang. Sekali saja," rayunya sambil menggoyangkan ponselnya. 

"Mau ya? Nanti fotonya mau Dimas pajang di bab penutup novel Dimas. Biar pembaca tahu kalau Eyang itu inspirasi terbesar Dimas," sambungnya lagi.

Eyang Putri memalingkan muka, meski garis senyum terlihat di sudut bibirnya. "Ndak mau, Mas. Eyang belum pakai bedak, rambutnya juga berantakan. Nanti jelek!"

Dimas terkekeh, suara tawanya yang bariton memenuhi ruangan. "Siapa bilang? Eyang itu selalu cantik. Tanpa make up pun udah seperti artis zaman dulu."

“Beneran?” Eyang Putri agak ragu.

Dimas mengangguk mantap. “Beneran. Masa Dimas bohong, sih?”

Eyang Putri pun tampak berpikir sesaat, sebelum akhirnya menyerah. “Yo, wis.”

Dimas tersenyum penuh kemenangan. Ia pun segera mengambil posisi di samping Eyang, mengarahkan kamera depan ponselnya dengan sudut yang pas. Kemudian, tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi-giginya yang rapi.

"Senyum, Eyang... satu, dua..."

Klik!

Sayangnya, tepat saat rana kamera berbunyi, sesosok bayangan bergerak cepat di belakang mereka. Cinta, dengan sifat jahilnya, merangsek masuk ke dalam bingkai. Gadis itu menjulurkan lidahnya lebar-lebar ke arah kamera tepat di belakang kepala Dimas.

Lihat selengkapnya