Imperfect Family

Rosiana Quraisin
Chapter #5

4 - Dunia Yang Hilang

Dimas tergeletak tak berdaya di atas sofa panjang yang kulitnya mulai mengelupas. Tubuh jangkungnya meringkuk seperti janin, mencari rasa aman yang telah lama direnggut darinya. Napasnya berat, sebab sisa-sisa amarah siang tadi telah menguras seluruh energinya, menyisakan raga yang lelah.

Sementara Cinta masih terjaga di sofa sebelah. Jemarinya menari di atas papan ketik laptop, menyusun laporan tugas medis yang menjadi kewajibannya sebagai koas. Namun, aktivitasnya itu perlahan melambat hingga berhenti total. Fokusnya luruh. Matanya beralih pada sosok yang tertidur di sampingnya.

Cinta bangkit perlahan, sebab tak ingin menimbulkan suara yang akan membangunkan sahabatnya itu. Ia berjongkok di samping sofa, menatap paras Dimas dari jarak yang begitu dekat. Dalam tidurnya, garis rahang cowok itu melunak dan guratan kebencian yang tadi membakar wajahnya seolah memudar tertelan gelap. Kini, hanya kerapuhan yang muncul di wajah itu.

"Ternyata, kalau lagi tidur begini, lo ganteng juga ya, Mas?" bisik Cinta.

Seulas senyum terukir jelas di wajah gadis itu. Namun, tak bertahan lama. Bayang-bayang masa depan yang tak pasti menyapu senyum itu hingga redup. Ia mengembuskan napas panjang, seolah beban berat terus menghimpit dadanya. "Gue harap kondisi lo baik-baik saja, Mas. Gue nggak mau lo kenapa-kenapa." Ia menjeda sejenak ucapannya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Namun, entah mengapa tenggorokannya terasa tercekat, sehingga sulit untuk mengutarakan perasaannya yang selama ini terpendam.

"Karena, gue sayang sama lo," ungkapnya akhirnya.

Perlahan, tangan Cinta bergerak ke arah pipi cowok itu. Jemarinya hampir mendarat di pipi Dimas untuk mengusap peluh yang tersisa. Namun, ia tersentak ketika tiba-tiba kelopak mata Dimas bergetar, lalu tak beberapa lama matanya terbuka.

Kini, detak jantung Cinta melonjak. Ia pun segera bangkit dan kembali ke depan laptopnya. Jemarinya menekan tombol asal, pura-pura tenggelam dalam ketikan yang kacau. "L-lo udah bangun, Mas?" tanyanya kikuk dengan suara sedikit bergetar.

Dimas mengerang. Ia berusaha duduk, tetapi dunia di sekitarnya seolah berputar. Tangannya mencengkeram kepala dengan kuat, seolah-olah tengkoraknya telah retak. "Gue ... gue kenapa?" rintihnya parau.

"Tadi, sakit kepala lo kambuh. Tapi, nggak usah khawatir, gue sudah kasih obat lewat infus. Sakit di kepala lo bakal hilang sebentar lagi. Jadi, lo jangan banyak bergerak dulu," jawab Cinta tanpa menoleh, masih berusaha menata detak jantungnya seorang diri.

Dimas menyandarkan kepala pada sandaran kursi. Walaupun manik matanya menatap langit-langit ruangan, tetapi pikirannya menerawang jauh, meski tak beraturan. Terlalu banyak kemelut yang berlangsung selama beberapa jam hari ini. Agaknya, sistem pertahan logika dan rasa di raganya telah menemui ambang batas. Imbasnya, cowok itu laksana tubuh tanpa jiwa. Bagai selongsong peluru kosong yang terhempas ke lantai batu usai seluruh isinya diletupkan dalam kecepatan tinggi.

Hingga akhirnya, ingatan Dimas berhasil terseret kembali pada kejadian beberapa jam lalu—saat amarahnya meledak bak gunung berapi. Ia melihat dirinya sendiri membanting vas bunga, menendang kursi, dan berteriak seperti orang gila. Serpihan kaca berserakan dan tiba-tiba rasa sakit yang luar biasa menghantam ubun-ubunnya hingga kegelapan menyapu segalanya.

"Dimas!" Pekikan Cinta membelah keheningan saat tubuh jangkung itu ambruk, menghantam lantai dengan suara berdebum yang memilukan.

Cinta melesat, berlutut di samping tubuh Dimas yang tak sadarkan diri. Sebagai calon dokter, ia tidak membiarkan kepanikan menguasainya. Ia segera memeriksa denyut nadi di leher Dimas yang hasilnya lemah dan cepat. Napas cowok itu pendek-pendek, seolah paru-parunya terjepit oleh luka yang baru saja ia ledakkan.

Dengan susah payah, Cinta menyeret, mengangkat, dan merebahkan tubuh Dimas di atas sofa. Ia pun segera menyambar tas slempangnya yang berat. Lalu, mengeluarkan kantong cairan infus, jarum infus, dan selang set yang masih terbungkus steril. Bagi Cinta, ini adalah satu-satunya cara meredakan badai di kepala Dimas tanpa risiko aspirasi.

Cinta mengikatkan tourniquet di lengan atas Dimas, mencari vena yang menonjol di balik kulit sawo matangnya dengan lembut. Kemudian, menusukkan jarum. Setitik darah muncul, menandakan posisi yang akurat. Ia menyambungkan selang, dan dalam hitungan detik, cairan bening itu mulai mengalir setetes demi setetes ke dalam aliran darah Dimas.

Cinta menyuntikkan obat pereda nyeri langsung ke dalam sela selang infus. Ini adalah jalur menuju saraf Dimas, sebab ia ingin rasa sakit itu mati secepat mungkin.

Lamunan Dimas pada akhirnya buyar ketika Lusi datang dengan membawa segelas air mineral. Gadis itu duduk di samping cowok itu yang tampak ringkih. Dimas menerimanya, menenggak air itu hingga tandas seolah air bening itu bisa memadamkan api yang masih tersisa di dadanya.

"Makasih," gumam Dimas.

"Gimana? Kamu sudah enakan?" tanya Lusi lembut, matanya yang besar menatap Dimas dengan prihatin.

Dimas mengangguk lemah. "Malam ini, aku menginap di sini, ya? Aku mau jagain kamu. Aku nggak mau Devan ke sini lagi buat gangguin kamu," tuturnya berdusta.

Kendati begitu, Lusi mengetahui semuanya dengan dada yang teriris perih. Ia tahu bahwa alasan kekasihnya itu untuk menginap di rumahnya bukan karena Devan, melainkan Dimas hanya ingin melarikan diri dari mamanya. Namun, sebisa mungkin Lusi memaksakan tersenyum tulus dan mengangguk.

"Kalau gitu, gue juga menginap di sini!" sela Cinta tiba-tiba.

Lihat selengkapnya