Jakarta, 2007
Malam itu, awan hitam menyelimuti megahnya sang cakrawala yang bertetesan butiran air yang begitu deras. Sesekali bias hias kilauan kilat petir menyambar seakan menari-nari di megahnya sang cakrawala.
Dimas berdiri mematung di sebuah ruangan yang pengap oleh kegelapan. Kepalanya celingukan dengan cemas, berusaha meraba arah di tengah ketiadaan cahaya. Waktu berlalu dengan lambat. Keadaan sunyi senyap. Hingga kesunyian di sekelilingnya terasa begitu memuakkan. Belum lagi bau amis menyengat indra penciumannya. Sebenarnya di mana dia sekarang?
“Dimas.”
Cowok berusia lima tahun itu tercekat ketika tiba-tiba mendengar suara yang tak asing di telinganya. Suara sang ayah. Suara itu selembut embusan angin, tetapi juga terasa seperti cengkeraman. Ia memutar tubuhnya dengan panik. Mencoba mencari sumber suara itu di tengah gulita, akan tetapi hanya kehampaan yang ditemukan.
Hingga tak lama kemudian, cahaya dari bohlam di langit-langit berkedip. Cahaya kuningnya berpijar ragu, seolah enggan mengusir kegelapan yang menguasai ruangan ini. Namun, saat lampu itu akhirnya menyala, mendadak denyut nadi Dimas seakan berhenti berdetak. Gelombang dingin merambat cepat, membekukan sumsum tulang belakangnya.
Kini, Dimas berada di dalam kamarnya sendiri. Ruangan yang seharusnya menjadi pelabuhan mimpi, saat ini telah menjelma menjadi kengerian yang mencekam. Mainan mobil-mobilan, robot, dan balok kayu miliknya berserakan tak tentu arah. Namun, genangan darah berwarna merah kehitaman terlihat merayap perlahan di atas lantai, lalu menelan semua mainan tersebut. Belum lagi, aroma amis yang anyir kian memenuhi udara kamar.
Belum hilang ketakutannya, kali ini manik Dimas menangkap sesuatu yang lain. Sesuatu yang bergerak di sudut ruangan yang paling gelap—di mana bayangan lemarinya tampak memanjang seperti jemari raksasa yang hendak meraup kaki mungilnya.
Mendadak bulu kuduk Dimas meremang dan udara di dalam kamar terasa membeku. Dari balik kegelapan itu, seonggok kepala tiba-tiba muncul dengan gerakan patah-patah yang tidak wajar.
Krak. Kretek.
Bunyi tulang yang bergeser dan patah pun menggema di sela-sela deru hujan. Sosok itu merangkak keluar dari sudut. Kemudian, saat kilat petir kembali menyambar dan menyinari wajah sosok itu, pekikan Dimas tertahan di tenggorokan.
Sosok itu adalah Bagas. Ayahnya.
Namun, rupa pria itu telah hancur. Wajahnya membusuk di satu sisi, kulitnya melorot keabu-abuan seperti lilin yang meleleh. Sepasang mata yang dulu selalu memancarkan kehangatan, kini hanya menyisakan rongga hitam pekat yang mengerikan. Rambutnya basah dan kusut.
Sosok itu berhenti tepat di pinggir genangan darah yang melumuri mainan mobil-mobilan kesayangannya. Mulut Bagas terbuka lebar, mengeluarkan suara desis parau bercampur dengan bau busuk tanah basah. Cairan hitam kental menetes dari sela-sela giginya yang kuning.
Kengerian itu belum usia. Kini, manik Dimas menatap sebuah gunting logam tertancap dalam di perut pria itu, menciptakan luka yang menganga mengerikan. Darah hitam terus merembes keluar, membasahi kemeja yang kini melekat lengket pada daging yang koyak.
Jantung Dimas kian bergemuruh hebat, ketika sosok Bagas kini berhenti merangkak, kepalanya miring ke samping dengan sudut yang tak wajar. Pria itu menatap Dimas. Lalu, tiba-tiba ia membuka mulutnya lebih lebar lagi, dan bisikan ribuan suara akhirnya keluar, tumpang tindih—suara Bagas, suara Eyang, dan suara Dimas kecil yang menangis tersedu-sedu.
Dimas dicekam keputusasaan yang gelap dan menakutkan. Apakah ini mimpi? Ia ingin membuka mulut untuk berteriak, tetapi suaranya seolah terhisap habis oleh atmosfer kamar yang kian membeku. Ia juga ingin berlari kencang, tetapi tubuhnya hanya bisa membatu.
"A-ayah?" cicit Dimas akhirnya dengan bibir bergetar hebat.
"Kenapa kamu cuma diam saja di sana?" Suara Bagas bergema langsung di dalam tempurung kepala Dimas, parau dan penuh kebencian. "Seharusnya kamu menyelamatkan Ayah, Dimas!"
Dimas menggeleng keras, air mata mulai mengalir menganak sungai, menyatu dengan keringat dinginnya. "Enggak! Jangan mendekat! Ayah sudah mati! Pergi!"
Wajah Bagas mendadak berubah. Sebuah senyum mengerikan terkembang di bibirnya yang membiru, sebuah seringai yang meruntuhkan sisa kewarasan Dimas. Detik itu juga, jeritan ketakutannya pecah, membelah malam yang terkutuk itu. “Aaaaarrgghh!”
Dimas tersentak bangun dengan tubuh yang basah kuyup. Paru-parunya kembang-kempis, rakus meraup udara malam yang berat, mencoba mengusir sisa bau amis yang seakan masih menyangkut di pangkal tenggorokannya.
Cowok itu menoleh ke arah meja nakas dengan pandangan nanar. Sebuah kalender duduk bertuliskan tahun 2022 tampak masih berdiri kokoh di sana. Beralih dari sana, sebuah jam digital berpendar pucat dalam kegelapan, menunjukkan angka 00:00. Tengah malam. Waktu di mana dunia nyata dan alam mimpi sering kali beradu tanpa sekat.
Dimas menyentuh dadanya, merasakan debaran yang perlahan mulai melambat. Ia menyapu pandangan ke seluruh penjuru lantai; bersih. Tak ada genangan darah, tak ada mainan yang hancur, tak ada sosok yang merangkak. Hanya ada bayang-bayang benda mati yang kembali ke wujud aslinya yang kaku. Sebuah embusan napas lega lolos dari bibirnya.
“Cuma mimpi,” ucapnya lega sembari menyeka keringat dingin di dahi.
Namun, kelegaan itu hanya bertahan sekejap mata.
Krieeet…
Tiba-tiba, suara gesekan kayu yang tajam memecah kesunyian. Jantung Dimas kembali mencelos. Pintu kamarnya yang seharusnya terkunci, kini perlahan terbuka.
Ketakutan yang baru saja mereda kini kembali meledak. Bulu kuduknya meremang saat sebuah bayangan hitam muncul di ambang pintu, berdiri mematung di tengah temaram. Dimas membeku di atas ranjang. Tangannya mencengkeram sprei hingga buku jarinya memutih, sedangkan matanya terbelalak menanti sosok mengerikan itu melompat ke arahnya.
Klik.
Suara saklar ditekan memecah ketegangan. Seketika, cahaya lampu membanjiri ruangan, mengusir bayang-bayang mengerikan yang baru saja menari di imajinasi Dimas. Cowok itu mengerjap, menyipitkan mata yang silau. Nyatanya, sosok yang berdiri di sana adalah Lusi. Gadis itu berdiri dengan wajah cemas, tangannya masih menempel di dinding tempat saklar berada.
Dimas mengembuskan napas panjang. Pundaknya yang tadi tegang kini meluruh. Namun, kini alisnya tertaut bingung. "Lusi? Gimana cara kamu bisa masuk ke sini?"